JOGJA – Keberadaan sumber energi terbarukan di DIJ belum banyak dimanfaatkan. Sebab, selama ini, kebutuhan pasokan listrik dan bahan bakar lainnya, masih bergantung pada energi fosil.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua DPRD DIJ Dharma Setiawan saat penyampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang Energi Terbarukan Senin (26/2). Menurutnya, dewan mendorong agar eksekutif menjadikan pemanfaatan energi terbarukan masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 2017-2022.

Disebutkan, pemanfataan energi terbarukan di DIJ sangat mungkin dilakukan. Poin plus pengembangan energi terbarukan adalah banyaknya penggiat dan pemanfaatan energi terbarukan yang dilakukan kelompok-kelompok masyarakat dan akademisi. “Kita memiliki banyak perguruan tinggi dan peneliti yang kredibel untuk pengembangan dan pemanfataan energi terbarukan,” ucapnya.

Disebutkan energi air, surya, angin, ombak dan biomassa cukup berlimpah keberadaanya. Namun sayang, pemanfataan belum optimal. Dalam hal kelistrikan, pada kenyataannya listrik yang didistribusikan oleh PT PLN Regional DIJ, tidak diproduksi disini. Selama ini DIJ, berada dalam sistem interkoneksi Jawa, Madura, dan Bali dan belum memiliki sistem pembangkit yang besar.

Di sisi lain, kebutuhan akan energi di DIJ baik untuk transportasi, bahan bakar dan untuk daya listrik semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi. Belum lagi, DIJ juga masuk dalam koridor ekonomi Jawa dengan adanya usaha pertambangan pasir besi dan penetapan kawasan industri baja di Kabupaten Kulonprogo. Bahkan pembangunan bandara baru dan pelabuhan Tanjung Adi Karta. “Semuanya memerlukan antisipasi ketersediaan dan stabilitas pasokan energi,” jelasnya.

Politikus Gerinda ini mengatkan, upaya pemenuhan kebutuhan energi di DIJ dapat dilakukan melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro, pemasangan pembangkit listrik tenaga surya, pembangunan

pembangkit listrik tenaga angin serta pembangkit listrik tenagabiogas belum maksimal.

Upaya pemenuhan kebutuhan energi di DIJ melalui upaya penciptaan energi baru yang terbarukan. Misalnya pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro, pemasangan pembangkit listrik tenaga surya, pembangunan pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik tenaga biogas belum maksimal.

Sekprov DIJ Gatot Saptadi mengatakan, sebelumnya upaya pemanfaatan energi terbarukan pernah dilakukan. Namun, terganjal pada persoalan teknis. “Kita pernah akan membangun energi bayu, tapi ada syarat yang tidak bisa dipenuhi investor,” jelasnya.

Saat ini, pemanfaatan energi terbarukan baru sebatas pemanfataan biogas oelh komunitas tertentu. Sayangnya, pemprov tidak memiliki data yang pasti wilayah mana saja, yang telah memanfaatkan biogas tersebut. “Untuk DIJ skalanya masih keperluaran rumah tangga dan juga penelitian,” terangnya. (bhn/din/mg1)