Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta terus memberi atensi terhadap adat dan tradisi masyarakat. Tidak hanya dilestarikan, adat-istiadat harus dikenalkan secara masif kepada generasi penerus, sekaligus menjadi konten wisata budaya.

_________________________

KEPALA Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Ir Suryo Maharsono MM menyatakan komitmennya terhadap keberlangsungan adat-istiadat dan tradisi. Eko berharap, pelestarian adat dan tradisi di kampung-kampung tidak semata-mata ajang ikut-ikutan.”Tapi dikembangkan karena mempunyai orientasi. Bukanmenggarap sekadar latah tanpa konsep yang jelas,” tutur Eko.

Adat istiadat bisa berarti kumpulan tata kelakuan yang kedudukannya paling tinggikarena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat. Sementara tradisi bermakna kebiasaan masyarakat yang dilakukan secara turun-temurun.

Sekadar diketahui, di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat beragam adat-istiadat dan tradisi. Sebut saja upacara sekaten, garebeg maulud, tradisi tumplak wajik, upacara labuhan, siraman pusaka, saparan, nguras enceh, jamasan kereta pusaka, serta nampi paraden Pakualaman, dan lain-lain.

Artinya, pelestarian adat-istiadat dan tradisi di Kota Yogyakarta bisa saja berbeda dengan daerah lain. Karena itu, Eko menilai perlu dilakukan inventarisasi dan kajian terhadap adat-istiadat dan tradisi di Kota Yogyakarta.

“Dikaji kembali sejauh mana esensinya kemudian. Tentu saja esensi terkait kepentingan masyarakat ke depan,” jelas kepala dinas yang bersebutan Ki Mbulus Eko B Pangarso ini.

Setelah dikaji, kemudian dibuat kemasan yang melibatkan banyak pihak. Eko mengingatkan agar penggarapan adat-istiadat dan tradisi dilakukan secara bersama-sama. Bukan perseorangan atau kelompok. Bila budaya dikaitkan dengan sektor wisata, pelestarian adat-istiadat dan tradisi bisa “dijual”.

“Sekarang, penyebaran informasi sudahberbasis teknologi. Bagaimana gema adat istiadat bisa mengangkat Kota Yogyakarta. Karena yang terjadi selama ini, gemanya hanya lokal. Menurut saya, perlu digarap dengan memanfaatkan teknologi komunikasi,” saran Eko.

Eko optimistis, semua tradisi bisa dikembangkan. Di Warungboto, Umbulharjo, misalnya. Di tempat ini terdapatNogositubondo. Menurut Eko, situs tersebut bisa diolah menjadi informasi yang melegenda.

Eko juga menyebut keberadaan situs di kampung Jagalan, Pakualaman. Di pinggiran sungai Kali Code terdapat batu yang berbentuk seperti kursi. Kursi ini menghadap ke arah Gunung Merapi. Keberadaan batu ini bisa diolah menjadi legenda. Artinya, warga harus kreatif. Misalnya, melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat atau siapa saja yang bisa bercerita tentang batu kursi tersebut. Selanjutnya dikolaborasi dengan kegiatan pariwisata.

“Tapi, cara menyuguhkan tidak asal-asalan. Ora sak-sakke. Harus terencana, profesional, dan totalitas,” pintanya.

Tak hanya adat-istiadat dan tradisi. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga menggarap seni macapat.Bekerja sama dengan Paheman Pametri Budaya Jawa Aji Noto Nagoro, digelar seni macapat selama 2018. Kegiatan inidilaksanakan sebanyak empat belas kali pertemuan di14 kecamatan. Kegiatan ini melibatkan sekitar seratus orang pecinta macapat.(*/yog/mg1)