JOGJA- Pesan khusus disampaikan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam (PA) X di balik semaraknya peringatan ke 212 berdirinya Kadipaten Pakualaman. PA X yang juga menjabat wakil gubernur DIJ menaruh perhatian serius terhadap situasi keamanan dan ketertiban masyarakat Jogjakarta. Dalam kesempatan itu PA X mengajak masyarakat untuk bertanggung jawab pada lingkungan sekitar guna mencegah terjadinya aksi kekerasan maupun kejahatan. “Mari kita bersama-sama menjaga Jogjakarta tetap nyaman,” tutur PA X di Bangsal Kepatihan Senin (26/2).

Dikatakan, aksi-aksi kekerasan dan kenakalan remaja bisa diantisipasi sejak dini dengan keterlibatan warga secara aktif. Peran orang tua menjaga harmonisasi keluarga dan pengawasan terhadap anak menjadi salah satu langkah konkret pencegahan tindak kejahatan.

“Sebenarnya angka kekerasan dan kejahatan di Jogjakarta tidak seberapa dibanding wilayah lain. Namun, karena banyak disorot seolah-olah cukup banyak. Maka dari itu, ayo semua tunjukkan rasa kepedulian,” serunya.

Di bagian lain, kesemarakan Hadeging Kadipaten Pakualaman tahun ini turut dimeriahkan dengan pameran batik Keraton Jogja dan Pakualaman di Taman Pintar Jogja mulai kemarin. Dalam pameran bertema “Cerita di Balik Canting”, Puro Pakualaman memamerkan 12 motif batik khas Kadipaten Pakualaman.

Dalam kesempatan itu Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, putri bungsu Raja Keraton Ngayogyakarta Hamengku Bawono Ka 10, menuturkan, saat ini batik kian menjadi tren, namun banyak terjadi kesalahan dalam penerapan dan pemakaiannya. Menurutnya, hal ini terjadi akibat ketidakpahaman masyarakat terhadap makna filosofis batik itu sendiri. Tak sedikit baik yang seharusnya hanya boleh dikenakan raja dan keluarganya justru dipakai secara bebas oleh masyarakat.

“Sering ditemui ada wisatawan di keraton pakai kain parang barong. Mungkin karena bagus, beli di pasar. Tidak tahu aturan di keraton tidak boleh pakai batik barong selain keluarga,” jelas Bendara di sela pembukaan pameran batik di Gedung Oval Taman Pintar Jogja kemarin. Bendara juga pernah menjumpai motif batik parang dan kawung yang dipakai sebagai lantai bangunan. Atau sebagai modifikasi sepatu. “Itu karena ketidaktahuan. Paling tidak kalau mau dipakai ya di dinding, bukan malah di bawah (kaki, Red) untuk diinjak,” ungkapnya.

Motif batik Keraton Jogja sangat banyak. Hanya, Bendara mengaku belum sempat menghitung jumlah pastinya. “Sedikitnya ada dua lemari, belum dihitung,” ujarnya.

Permaisuri Adipati Paku Alam (PA) X, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Paku Alam, mengakui masih banyak masyarakat yang belum mengetahui motif batik Kadipaten Pakualaman. Tapi, menurut dia, batik Pakualaman tidak seketat dengan Keraton Ngayogyakarta. “Batik di Pakualaman berasal dari gambar naskah kuno yang ada di Pakualaman,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mendukung penetapan Jogja sebagai Kota Batik Dunia. Untuk menuju ke sana, diawali dengan gerakal Kamis Pahing wajib berbaju batik bagi seluruh aparatur sipil negara dan pelajar di Kota Jogja. (bhn/pra/yog/mg1)