Bupati Raden Adipati Aryo (RAA) Tjokronagoro I lahir hari Rabu Pahing tanggal 17 mei 1778 di Desa Bragolan Desa Kecamatan Purwodadi. Wilayah tersebut masuk dalam Kasunanan Surakarta yang merupakan bagian dari Urut Sewu-Bagelen Timur.

Tjokronegoror I lahir dari seorang Mantri Gladag Keraton Kasunanan Surakarta yakni Raden Ngabehi Singowijoyo dengan ibu Raden Ayu Singowijoyo. Nama RAA Tjokronagoro I sendiri merupakan nama setelah dirinya menjabat sebagai Bupati Purworejo.

Sebelumnya dirinya dikenal dengan sebutan Raden Reksodiwiryo yang diperolehnya saat mengikuti jejak ayahnya menjadi bagian dari Keraton Surakarta. Tjokronagoro sendiri waktu itu mendapatkan pangkat Panewu Gladag.

RAA Tjokronagoro sendiri mendapat tempaan ilmu agama secara mendalam di Pesantren Kyai Taftajani yang ada di wilayah Surakarta. Saat itu dirinya menimba ilmu bersama dengan Raden Mas Ontowiryo atau yang lebih dikenal dengan nama Kanjeng Pangeran Haryo Diponegoro Ngayogyakarta Hadiningrat.

Cukup lama berada di Surakarta, Tjokronagoro mendapat kepercayaan dari Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VI di tahun 1825 untuk mengikuti Kanjeng Kolonel Pangeran Kusumoyudo menjadi Senopati Pengamping dan maju perang di tanah Urut Sewu yang menjadi bagian dari wilayah Bagelen waktu itu.

Berlaga di medan peran dengan gagah berani dalam membela Negara Surakarta, Tjokronagoro mendapat kepercayaan menjadi Bupati Tanggung-salah satu wilayah yang berada di Desa Sidomulyo Kecamatan Purworejo saat ini dan diberikan nama Raden Mas Tumenggung Tjokrojoyo. Jejak peninggalan masa pemerintahan Bupati Tanggung sendiri saat ini bisa disaksikan dari keberadaan situs penanda bangunan yang ada di desa tersebut.

Seiring usainya Perang Jawa atau Perang Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830, wilayah Bagelen selanjutnya diminta paksa oleh Belanda dari Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Ngayogyakarta.

Wilayah bagelen yang berada di sebelah timur dijadikan letak Kadipaten Brengkelan dengan bupati adalah Raden Tumenggung Tjokrojoyo yang. Selanjutnya Kadipaten ini nantinya berubah menjadi Kadipaten Purwoerjo hingga saat ini. Sementara Raden Tumenggung Tjokrojoyo berganti nama menjadi Kanjeng Raden Adipati Aryo Tjokronagoro I.

Dalam perjalanan waktu Brengkelan pun berubah nama menjadi nama Purworejo dan dipimpin oleh Kyai Adipati Tjokronagoro nomo Adipati Tjokronagoro. RAA Tjokronagoro I sendiri memimpin Purworejo hingga tahun 1856 Masehi dan digantikan oleh putranya KRAA Tjokronagoro II.

Berjarak 6 tahun dari turun tahta, RAA Tjokronagoro I meninggal dunia pada 23 Desember 1862 di usia 83 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Astana Bulus Hadipurwa.

Hingga saat ini, banyak peninggalan dari RAA Tjokronagoro I yang masih tetap ada dan terpelihara diantaranya Masjid Agung Darul Mutaqien, kompleks Rumah Dinas Bupati, Alun-alun, saluran air Kedungputri, jalan raya Purworejo-Magelang dan lain sebagainya termasuk didalamnya Bedung Ageng Kyai Pendowo yang paling besar di dunia. (*/udi/jko/mg1)