PURWOREJO – Ornamen berbagai bentuk dengan bahan dasar bambu menjadi latar belakang utama pagelaran tari “Greget lan Gumregah” yang dibawakan seniman-seniman lokal Purworejo dalam kegiatan puncak peringatan Jumenengan Raden Adipati Aryo (RAA) Tjokronegoro I di Kompleks Pendopo Rumah Dinas Bupati, tadi Selasa malam (27/2). Halaman terlihat penuh oleh masyarakat yang ikut serta menyemarakkan acara ini.

Tarian hasil garapan Melania Sinaring Putri yang menceritakan potensi Purworejo baik dari hasil bumi, kuliner maupun objek wisata serta tokoh nasional ini terlihat apik dengan dukungan seniman dari anak-anak hingga dewasa. Mereka berbagi tugas memanfaatkan ruang yang ada.

Pemanfaatan bambu sebagai ornamen dasar hasil garapan perupa Jamboel yang tinggal di Kecamatan Bener, terlihat menonjol. Meski hanya bambu, di tangan dia menjadi kemasan yang apik. Tiga lingkaran utama dengan penempatan irisan bambu tipis melingkar dipadukan hiasan besek setengah jadi serta alat pemetik buah yang kerap disebut sangga, menjadikan semuanya lebih menarik.

Suasana sakral pun terlihat nyata saat tujuh penari “Bedhayan Tjokronegoro” mulai melantai di pendopo utama. Seluruh lampu yang sebelumnya menyala terang, dimatikan dan digantikan lampu dengan dominan hijau. Tarian berdurasi 17 menit itu mampu membius sekitar 350 tamu undangan yang berasal dari berbagai komponen seperti Forkompinda, unsur organisasi perangkat daerah (OPD), serta keluarga dan tokoh masyarakat.

Tarian Lawung Jajar menyusul berikutnya setelah Bedhayan Tjokoronegoro turun panggung dan masuk ke dalam rumah dinas bupati. Penari lelaki dari karya seni ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I ini menggambarkan kekompakan masyarakat agar gigih dalam membangun.

Kegiatan ditutup dengan penampilan 50 penari yang menunjukkan kekayaan Purworejo. Ke depan, tarian ini akan selalu berubah disesuikan dengan tema kegiatan. “Di tarian ketiga ini memang menjadi salah satu kekuatan tersendiri. Di sini kita memberikan ruang bagi para pecinta seni, utamanya tari untuk turut terlibat,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo Agung Wibowo.

Sementara itu, Bupati Purworejo Agus Bastian saat memberikan sambutan dalam Bahasa Jawa mengatakan, jasa yang diberikan RAA Tjokronegoro I dalam membangun Purworejo tidak sedikit. Bisa dikatakan peninggalannya tidak mungkin hilang dari sejarah lokal.

Sampun katah yasan dalem ingkang saget kawujudaken kangge karaharjanlan saget migunani tumprap pembangunan Purworejo,” ujar bupati. Bastian menyebut ada banyak peninggalan yang bisa ditunjukkan kepada public, di antaranya, Masjid Agung Darul Mutaqien, Pendapa Agung, Alun-Alun terbesar, Jalan Raya Magelang-Purworejo, serta saluran kedung putri yang akan terus digunakan oleh masyarakat Purworejo.

Sedaya menika mujudaken yasan dalem ingkang ageng lan luhur, ing pangangkah sageda dados tuladha kangge para pangarsa ing Kabupaten Purworejo, lan saged nuwuhaken raos greget kangge mujudaken pembangunan ing Kabupaten Purworejo saklajengipun,” tambahnya.

Terkait jumenengan RAA Tjokronegoro I, Agus Bastian menyatakan menjadi salah satu wujud penghormatan masyarakat Purworejo terhadap orang-orang yang memiliki jasa besar terhadap Purworejo. Selain itu juga bisa dijadikan sebagai kegiatan budaya dan pariwisata yang bisa menarik perhatian wisatawan lokal maupun luar agar datang ke Purworejo.

Sedaya menika mugi saged nikelaken karaharjan masyarakat Purworejo. Sedaya wau ugi jumbuh kaliyan Romansa Purworejo- Tahun Kunjungan Wisata 2020 minangka ngawekani wontenipun bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) lan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur,” tandasnya. (udi/laz/mg1)