JOGJA- Sebanyak 247 ahli padi hibrida dari sejumlah negara berkumpul di Jogja untuk merumuskan solusi mengatasi perubahan iklim. Mereka berkumpul dalam simposium bertajuk The International Rice Research Institute (IRRI). Acara ini diselenggarakan bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Indonesia (Balitbangtan)

Kepala Perwakilan IRRI Hasil Sembiring mengatakan organisasi riset yang berbasis di Filipina itu bertujuan mengurangi kemiskinan dan kelaparan melalui ilmu pengetahuan. “Peneliti dari 12 negara ingin melihat perkembangan terakhir padi hibrida di dunia dengan membangun jaringan dan kolaborasi,” jelasnya.

Hasil Sembiring menambahkan Hibrida merupakan padi hasil persilangan dua tetua padi yang berbeda secara genetik. Padi jenis ini punya keunggulan menghasilkan dua kali lipat produksi ketimbang padi jenis biasa atau padi lokal. Dalam kondisi lingkungan yang baik dan budidaya yang optimal, padi hibrida menghasilkan panen 20 persen lebih tinggi. “Padi hibrida membantu mempercepat target swasembada beras Indonesia,” jelasnya.

Deputi Direktur Jenderal IRRI Bruce J Tolentino mendorong pemerintah Indonesia untuk punya perhatian lebih terhadap pengembangan penelitian padi hibrida. Ini khususnya peneliti-peneliti muda. Investasi terhadap peneliti-peneliti muda, menjadi solusi untuk menghadapi kebutuhan pangan di tengah populasi penduduk yang meningkat.

Pada 2030 mendatang dunia harus menghasilkan 135 juta ton beras untuk memenuhi konsumsi beras secara global. Jumlah itu 30 persen lebih tinggi dibanding 2010.

Kepala Dinas Pertanian DIJ Sasongko mengatakan budi daya padi hibrida mulai digemari petani di DIJ. Contohnya di Gunungkidul yang daerah kering ternyata minat di sana cukup tinggi. Banyak petani yang panen dengan sistim budi daya padi hibrida karena rasanya enak dan produktivitasnya juga tinggi. Terbukti dari hasil panen padi hibrida yang mencapai 10 ton per hektare.(sky/din/mg1)