TIDAK gampang menemui Tutut Dewantiwi. Dia sosok perempuan gesit, supersibuk. Itu tidak lepas dari aktivitas barunya dalam usaha bisnis kuliner.

Ibu dua anak kelahiran Pandansari RT 15, Wonosari, ini nyaris tidak memiliki pengalaman di dunia icip-icip. Selama 20 tahun lamanya, lulusan D1 kebidanan salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta ini mengabdikan diri sebagai bidan di RS Bethesda, Lempuyangwangi.

“Sejak lulus bidan tahun 1995 saya melayani masyarakat dalam bidang kesehatan,” kata Tutut saat ditemui di rumah makan miliknya, Warung Simbok, Jalan Siyono-Wonosari, tepatnya wilayah Logandeng, Playen.

Selama puluhan tahun itu pula, istri dari Ignatius Narwanto ini menetap di Jogjakarta. Kesempatan menikmati suasana tanah kelahiran pun menjadi berkurang. Hingga akhirnya desakan naluri untuk berkembang dan bermanfaat untuk Gunungkidul perlahan muncul. “Di 2016 saya dan keluarga memutuskan untuk terjun ke usaha kuliner,” ucapnya.

Rupanya kemampuan menjadi penjual makanan terasah secara otodidak. “Usaha jasa tak sekadar membuat orang kenyang. Tapi asal otak muter terus, dijalani dengan sepenuh hati, saya yakin berkah,” kata ibu dari dua anak, Rakerendra dan Biandenta, ini.

Terbukti, usahanya eksis sampai sekarang. Dengan menu andalan ingkung ungkep, setiap hari dilarisi oleh pengguna jalan yang melintas. “Posisi rumah makan kami strategis, tepat di pinggir jalan dengan kantong parkir memadai,” ujarnya.

Tutut menjual ingkung berdasarkan paket. Paket ekonomis untuk enam orang dibanderol Rp 230 ribu, sementara porsi 10 orang Rp 360 ribu. Sudah termasuk minuman, sayur ndeso, dan lalapan ubo rampe.

“Beli ingkung separuh juga boleh Rp 65 ribu, seperempat Rp 35 ribu, belum termasuk minum,” terangnya. Menu lain juga ada dengan konsep masakan Jawa. Bedanya dengan ingkung ayam yang lain, Warung Simbok terkenal dengan ciri rasa gurih. “Kami juga mempertahankan kualitas bahan,” terangnya.

Untuk kebersihan, jangan ditanya. Mantan bidan ini menghendaki semua makanan tersaji higienis. Maka tidak heran dia memisahkan tugas dari karyawan. Juru masak sendiri, pramusaji terpisah, kemudian kasir pun ada tenaga sendiri. “Kami ingin memastikan pengunjung mendapatkan pelayanan nomor satu,” tegas lulusan SMA tahun 1990 ini.

Soal menu lain, dia bilang banyak. Pihaknya juga menerapkan model prasmanan dengan menu jangan (sayur) wader lombok ijo, gudeg manggar, bebek mbengok (ekstra pedas), rica kepala ayam, dan menu lain. “Untuk prasmanan booking dua hari sebelumnya. Kami buka pukul 09.00-19 .00,” ungkapnya.

Dapat ilmu jualan kuliner dari mana, Tutut hanya tersenyum. Menurutnya, setiap usaha harus didasari dengan kecintaan. Coba-coba boleh, namun belajar jangan sampai mandeg alias berhenti.

“Kami bersyukur usaha rumah makan mampu mengurangi beban pengangguran. Ada mahasiswa yang kerja di sini,” ujarnya.

Tutut sangat mengerti, jualan makanan selain modal besar juga membutuhkan energi cukup banyak. Bayangkan, kata dia, setiap hari njlimet mengurusi hitung-hitungan modal dan pendapatan. Apa pun hasilnya, hak karyawan mendapatkan gaji harus dipenuhi. “Karyawan bekerja dan kami siap memberi upah. Konsekuensinya kan begitu,” terangnya.

Perkembangan sektor pariwisata diakui cukup mengerek pendapatan. Meski diakui tidak sedikit teman seperjuangan (pengusaha makanan lain) ada yang gulung tikar, dia tetap tegar. “Saya kira setiap orang memiliki kemampuan dalam mengembangkan usaha. Promosi hukumnya wajib,” bebernya.

Kepada calon atau pelaku usaha lainnya dia berpesan untuk konsisten mengawal mimpi. Jangan sampai putus asa, harus terus berusaha. Kata kuncinya adalah memberikan pelayanan terbaik dan meminimalisasi komplain. “Semangat,” selorohnya.

Ditanya lebih menyenangkan jadi bidan apa pengusaha kuliner, Tutut justru tersenyum. Dia memberikan jawaban diplomatis. “Sama-sama melayani masyarakat, harus sabar dan tersenyum,” ujarnya. (laz/mg1)