SLEMAN – Kabar duka datang dari Sleman. Sesepuh klub PSS Sleman H Sukidi Cokrosuwignyo menghembuskan nafas terakhir, Sabtu (7/4) malam pukul 23.40 di RSUD Sleman. Mbah Kidi, demikian dia biasa disapa, meninggal di usia 77 tahun.

Sosoknya tetap bersahaja. Di usia yang sepuh itu dia masih antusias menyaksikan pertandingan-pertandingan PSS di Stadion Maguwoharjo. Kadang datang sendirian. Namun kerap kali dengan cucunya. Tak jarang Mbah Kidi datang sangat awal. Sebelum pertandingan dimulai. Dia juga turun ke lapangan menyapa para pemain. Kepergiannya karena faktor usia akan selalu dikenang oleh pemain dan pelatih PSS.

Semasa hidupnya Mbah Kidi dikenal sebagai satu di antara sekian sosok yang merintis sekaligus membesarkan sepak bola Sleman, khususnya PSS Sleman. Dia pernah menjadi manajer tim Laskar Sembada tahun 2000-an. Salah satu prestasinya adalah membawa PSS promosi setelah menjadi runner-up Divisi I. Stadion Tridadi Sleman adalah saksi bisu kebangkitan PSS ketika itu.

“Tahun 2000, sejak PSS masih tim amatir selalu mencarikan pekerjaan bagi pemain PSS yang belum kerja. Sehingga pemain PSS ketika itu beberapa bekerja di lingkungan Pemda Sleman maupun BUMD di Sleman. Beliau sangat perhatian dengan pemain,” kata Exco Askab PSSI Sleman Ediyanto kepada Radar Jogja.

Mbah Kidi menurutnya, selalu menjadi penengah jika ada permasalahan di internal pengurus askab. Selain juga selalu menjadi motivator bagi pemain usia muda di Sleman. Belajar dari pengalaman promosi Divisi Utama ketika itu, Mbah Kidi selalu yakin dengan potensi sepakbola Sleman bisa bersaing dengan daerah lain.

Mbah Kidi dikebumikan di Makam Ngebong, Margorejo, Tempel, diberangkatkan dari rumah duka di Srimulyo, Triharjo, Sleman. Banyak tokoh sepak bola dan pejabat di Sleman yang takziah.

Manajer PSS Sleman Sismantoro turut berbela sungkawa atas berpulangnya tokoh sepak bola di Sleman ini. “Publik Sleman telah kehilangan tokoh sepak bola yang inspiratif. Yang di usia senjanya masih sangat perhatian dan selalu berusaha mendukung PSS di stadion,” katanya.

Asisten pelatih PSS yang juga mantan pemain PSS Seto Nurdiantoro mengatakan, dedikasi dan tanggung jawab Sukidi dalam membina persepakbolaan perlu dicontoh buat pengurus yang mengurusi sepak bola. Tidak hanya di Sleman dan DIJ namun juga di Indonesia.

“Beliau juga sosok yang religius. Salah satunya lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dalam setiap kegiatan,” kata Seto. Mbah Kidi juga selalu diminta memberi pembekalan kepada para calon haji Sleman.

Perhatian Sukidi kepada pemain juga pernah dirasakan mantan Kapten PSS Anang Hadi. Pada awal karirnya di PSS, Sukidi selalu memberi motivasi kepada pemain. Termasuk sosok yang percaya potensi pemain muda lokal. “Sosok yang sangat berjasa pada karir saya,” ungkap pria yang saat ini merintis karir kepelatihan itu.

Yang selalu Anang ingat, setiap malam sebelum bertanding selalu ada acara doa bersama yang dipimpin Mbah Kidi. Sebab, menurutnya, usaha pemain juga harus diimbangi dengan berdoa kepada Tuhan.

Eks Kapten PSS M. Eksan mengatakan, Sukidi adalah sosok yang bisa memberikan nasehat dan bisa memotivasi pemain sebelum pertandingan. Mbah Kidi juga bisa memberikan suntikan semangat terutama dengan berdoa. (riz/laz/ong)