SLEMAN –Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda DIJ kembali membongkar praktik perdagangan satwa langka. Kali ini di wilayah Kabupaten Bantul. Ada tujuh satwa langka yang berhasil diamankan dari Sr, 21, warga Dusun Gunungsaren, Trimurti, Srandakan. Yaitu, Kakaktua Jambul Jingga, Kakaktua Jambul Kuning dan Elang Bondol. Masing-masing dua ekor. Serta, seekor Elang Bido.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda DIJ Kombes Pol Gatot Agus Budi Utomo mengungkapkan, Sr diamankan di wilayah Palbapang, Bantul Rabu (11/4). Saat itu Sr berencana melakukan transaksi jual beli seekor Kakaktua Jambul Jingga. Satwa langka nan dilindungi itu bakal dijual seharga Rp 3,5 juta.

“Informasi tersebut berawal dari laporan warga,” jelas Gatot saat rilis ungkap kasus di Mapolda DIJ kemarin (12/4).

Berbekal penangkapan ini, kepolisian kemudian menggeledah rumah Sr. Hasilnya, petugas mendapatkan enam ekor satwa langka tanpa dilengkapi dokumen. Dari hasil pemeriksaan, Gatot membeberkan, Sr berjualan satwa langka sejak tiga tahun lalu. Berbagai satwa langka diperolehnya dari kolektor. Juga, Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasty).

“Ditawarkan kepada komunitas pecinta satwa dan ke barbagai pasar,” kata Gatot menyebut pola penjualan Sr masih konvensional.

Kendati begitu, Gatot menengarai, ada jaringan perdagangan satwa langka di sekitar Sr. Mengingat, jual beli satwa langka sangat susah. Dari itu, Ditreskrimsus bakal menelusuri seluruh jaringannya. Apalagi, diyakini tidak sedikit kolektor dan pecinta satwa langka di DIJ.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, Sr dijerat dengan Undang-undang No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Dengan ancaman hukuman penjara maksimal sepuluh tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Junita Parjanti memastikan, seluruh satwa langka ini dalam kondisi sehat. Hanya, khusus Elang Bido masih stres. Sejak tiba di BKSDA enggan makan.

“Jika kondisinya sudah stabil kami lepasliarkan lagi,” tambahnya.(dwi/zam/ong)