JOGJA- DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DIJ serius ingin meramaikan bursa Pemilihan Umum Legislatif (Pemilu) 2019 dengan menggaet kalangan muda. Penjaringan bakal calon anggota legislatif (bacaleg) untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota se-DIJ telah dilakukan. Tahap seleksi digelar di kantor DPW PSI DIJ Jalan Nyi Pembayun No 20, Prenggan, Kotagede, Kota Jogja, Sabtu (14/4) dan Minggu (15/4).

Ketua DPW PSI DIJ Nur Sigit Nugroho mengatakan, uji kompetensi dilakukan secara terbuka dan transparan dengan melibatkan panitia seleksi independen. “Ini yang membuat proses seleksi bacaleg PSI berbeda dari partai lain,” ujarnya di sela proses penjurian bacaleg kemarin.

Proses seleksi dibagi tiga tahap. Pertama, seleksi administrasi. Setiap bacaleg PSI harus memenuhi ketentuan minimal syarat pendidikan, riwayat pekerjaan, organisasi, dan wajib menyerahkan tulisan essay sedikitnya satu halaman folio mengenai isu antikorupsi dan anti –intoleransi.

Setiap bacaleg juga diminta mempresentasikan ide dan gagasan tentang permasalahan masyarakat DIJ, sekaligus dan solusinya.

“Melalui mekanisme yang terbuka dan transparan masyarakat bisa mengetahui rekam jejak dan kredibilitas para caleg yang akan dipilih. Sehingga kualitas dan kapasitas caleg terpilih akan jauh lebih baik pula,” paparnya.

Tiap bacaleg yang lolos tahap pertama berhak mengikuti seleksi kompetensi oleh panitia independen. Peserta yang terus melaju selanjutnya mengikuti tahap sosialisasi.

Ketatnya proses penjaringan bacaleg dilakukan demi mendapatkan kandidat yang benar-benar berkompeten dan memiliki kredibilitas baik di masyarakat. “Yang perlu digarisbawahi, PSI tidak menarik mahar sepeser pun dari para kandidat selama mengikuti seluruh proses tahapan seleksi ini,” tegas Sigit.

Selain akademisi, PSI menggandeng toko masyarakat sebagai panitia independen. Tak satu pun dari internal partai. Antara lain, dosen UGM Dr Hempri Suyatna, Alimatul Qibtiyah, Risa Karmida, Dyah Ayu Roessusita, dan Retno Ningsih.

Dalam kesempatan itu Risa Karmida mengungkapkan, tahapan seleksi bacaleg yang dilakukan PSI sudah baik. Lewat seleksi tersebut para bacaleg diharapkan memahami permasalahan di daerah pemilihan masing-masing dan siap menjadi agen perubahan masyarakat.

Juri independen lainnya, Alimatul Qibtiyah, sangat mengapresiasi langkah PSI yang menjaring bacaleg dari beragam profesi. Dengan pemahaman isu antikorupsi dan anti-intoleransi yang sangat beragam. “Tanggung jawab kami memberikan penilaian secara objektif,” ucapnya.

Sedangkan Hempri Suyatna mengatakan, banyaknya kasus korupsi biasanya dipicu oleh mekanisme rekrutmen bacaleg yang dilakukan secara tertutup oleh partai pengusung. “Hal itu pula yang menyebabkan kinerja dewan sering tidak jelas,” katanya menganalisis.

Sementara salah seorang peserta seleksi San Akuan mengaku tertarik dengan PSI karena meyakini bahwa partai besutan Grace Natalie ini mampu menjembatani dan mengakomodasi aspirasi masyarakat secara bersih dan benar. Salah satunya dengan memerangi korupsi. (sam/yog/ong)