Riski Akbar Zul, Kolaborasikan Hobi Utak Atik Sistem Elekkronik dan Komputer

Drone sebagai alat bantu membuat dokumentasi foto maupun video kian digemari masyarakat. Harganya pun bersaing. Untuk menghemat biaya, Riski Zul Akbar membuat drone berbahan kayu. Bagaimana hasilnya?

SUKARNI MEGAWATI, Bantul
IDE membuat drone kayu sebenarnya sudah sejak lama. Saat itu Akbar, sapaan akrabnya, masih duduk di kelas 2 SMKN 1 Dlingo. Kini remaja 18 tahun itu berstatus sebagai alumnus sekolah kejuruan di Bantul itu. “Waktu itu sedang praktik kerja lapangan. Aku ingin buat rangkaian elektronik yang beda dari teman-teman,” ungkapnya kepada Radar Jogja belum lama ini.

Akbar memang tertarik pada dunia digital. Namun, dia tak mau membuat benda elektronik yang lazim di kalangan siswa SMK ketika itu. Seperti membuat speaker aktif atau power supply. Dari hobinya mengutak-atik barang elektronik dan pemrograman komputer tercetuslah ide membuat inovasi drone berkerangka kayu. Drone kayu dirakit selama sebulan. Waktu yang cukup lama memang. Proses yang paling banyak menyita waktu adalah pencarian bahan. Seperti mesin, baterai, remote, dan kayu sengon. “Paling sulit tetap pada pemrogramannya. Karena harus sesuai dengan hardware yang saya pasang,” ungkap Akbar yang saat sekolah mengambil jurusan Teknik Audio Video Elektronik.

Akbar sengaja memilih kayu sengon untuk kerangka drone bukan tanpa alasan. Berat jenisnya yang ringan menjadi alasan utama. Bahan yang digunakannya pun limbah sengon. Bukan kayu utuh yang dibentuk. Sedangkan untuk komponen elektriknya dibelinya di toko elektronik. Drone kayu ini memiliki

frame sepanjang 50 cm di keempat sisinya. Selain itu ada motor brush less, pengatur kecepatan elektronik speed control (esc), mikro kontroler, dan giro keseimbangan.

Juga dilengkapi receiver untuk menghubungkan mikro dan remote control, serta baterai 11,1 volt jenis Flysky fs-i6. “Baterainya bisa bertahan hingga 15 menit, tergantung pemakaian. Berat baterai 75 ons,” jelasnya.

Semua komponen drone dirakit sendiri, kecuali remote control yang dibeli Akbar di salah satu toko online seharga Rp 750 ribu. Total tak kurang Rp 2,5 juta untuk merakit drone kayu itu.

Dari tiga kali percobaan, drone kayu karya Akbar itu mampu terbang dengan ketinggian 50 meter di atas permukaan tanah. “Tapi belum dilengkapi kamera seperti drone pada umumnya. Masih tahap uji coba terbang dulu,” ungkap warga Dusun Sanggrahan 1, RT 02, Muntuk, Dlingo, Bantul ini.

Kendala selama uji coba tentu ada. Drone kayu milik Akbar pun demikian. Saat sudah melaju ke depan, sering kali drone itu tak bisa mundur. Kecepatan angin juga menjadi masalah untuk drone kayu itu. Kendati begitu, Akbar mengaku tak patah arang. Dia terus berupaya menyempurnakan drone kayu miliknya hingga benar-benar bisa difungsikan sebagai sarana pendukung pendokumentasian foto dan video.(yog/ong)