GUNUNGKIDUL – Kesalahan penulisan nama pada data pemilik hak pilih dalam pemilihan umum (pemilu) legislatif kerap terjadi. Kali ini menimpa Bupati Gunungkidul Badingah. Dari pencocokan dan penelitian (coklit) serentak oleh petugas panitia pemutakhiran data pemilih (Pantarlih) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gunungkidul diketahui ada ketidaksesuaian data. Nama Badingah tertulis Badi-ah pada formulir model A-KPU. Adapun hasil coklit nantinya menjadi pertimbangan bagi panitia pemungutan suara (PPS) untuk menyusun daftar pemilih sementara (DPS).

“Kesalahan ini langsung diperbaiki. Disesuaikan dengan data KTP elektronik,” ujar Ketua KPU Gunungkidul M. Zainuri Ikhsan di sela coklit di rumah dinas bupati Gunungkidul, Jalan Kasatrian No 2, Padukuhan Purbosari, Wonosari Selasa (17/4).

KPU Gunungkidul menerjunkan 2.715 pantarlih untuk melakukan coklit di Bumi Handayani hingga 30 hari ke depan. “Jika ada ketidakcocokan data, maka dalam lembar A-KPU diberi kode U (ubah, Red),” jelasnya. Dalam kesempatan itu Badingah mengaku tidak mempermasalahkan kesalahan namanya dalam DPS pemilu tersebut. Karena bisa langsung diperbaiki.

Coklit data pemilih juga dilakukan di kediaman Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X di Keraton Kilen. Pantarlih mendata seluruh anggota keluarga raja Keraton Jogja yang secara terdaftar secara resmi.

Patarlih diterima HB X beserta istrinya, GKR Hemas. Turut hadir GKR Condrokirono, putri kedua pasangan raja dan permaisuri Keraton Jogja itu.

Terdapat enam kepala keluarga yang tercatat berdomisili di Keraton Kilen. Sementara dua putri HB X lainnya, yakni GKR Mangkubumi dan GKR Bendara, tidak masuk dalam daftar identitas yang dicocokkan. Keduanya terdaftar di wilayah lain.

Ketua KPU DIJ Hamdan Kurniawan menjelaskan, coklit hari pertama kemarin menyasar seluruh kepala daerah di DIJ. Dilanjutkan ke tokoh dan pemuka agama, lalu masyarakat.

“Coklit merupakan masa yang penting. Seseorang didaftar namanya agar bisa menggunakan hak pilih pada pemilu serentak 2019 mendatang,” jelasnya.

Hamdan mengatakan, pelaksanakan coklit di kediaman HB X sesuai prosedur. Petugas KPU ditemui kepala keluarga. Dari pencocokan identitas di KTP masing-masing anggota keluarga keraton, kata Hamdan, sudah sesuai dengan data KPU DIJ.

“Memang ada sebagian nama yang sudah tidak tinggal di sini. Nanti akan dikirimkan fotokopi KTP. Bila memang sudah pindah nanti dicoret,” jelasnya.

Sedangkan terkait data pemilih mahasiwa yang secara identitas berasal dari luar DIJ, Hamdan menyebut tetap akan melakukan coklit kepada mereka. Tercatat ada sekitar 380 ribu siswa yang secara hukum terdaftar di daerah asal.

KPU selanjutnya hanya akan melakukan pendatan tehadap para mahasiswa yang bakal melakukan pemilihan di DIJ. Hak pilih mereka selanjutnya akan difasilitasi oleh KPU kabupaten/kota.

Sementara itu, HB X mendorong seluruh masyarakat Jogjakarta berpartisipasi sebagai pemilih pada Pemilu Legislatif 2019. “Semoga kegiatan coklit ini bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Kediaman Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti juga kedatangan pantarlih setempat. HS, sapaannya, mengimbau warga Jogja kooperatif teradap pantarlih. Itu demi hak suara saat pemilu mendatang. “Coklit oleh pantarlih adalah momentum untuk memastikan kita benar-benar masuk sebagai pemilih,” tegas HS didampingi istrinya, Tri Kirana Muslidatun.

Ketua KPU Kota Jogja Wawan Budianto mengatakan, total 304.926 pemilik hak pilih akan didatangi pantarlih secara bergiliran.

Sedangkan warga yang domisili di luar daerah dan calon pemilih yang belum masuk daftar akan dicatat pada form khusus sebagai pertimbangan untuk daftar pemilih tambahan.(gun/bhn/pra/yog/mg1)