JOGJA – Perempuan harus menjadi penggerak utama budaya antikorupsi. Caranya bisa dimulai dari luang lingkup yang paling kecil seperti keluarga.

Kepala Kejaksaan Tinggi DIJ Sri Harijati menjelaskan, budaya antikorupsi bisa dilakukan oleh perempuan. Baik sebagai ibu dan perempuan sebagai dirinya sendiri. Perempuan sebagai ibu, bisa dimulai dari rumah dengan memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

“Ibu bisa memulai mengajarkan kejujuran,” kata Harijati dalam seminar menyongsong Hari Kartini yang digelar Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIJ di Gedung Pracimasono Selasa (17/4).

Ditegaskan, ibu rumah tangga bisa menjadi rem suami agar tidak berprilaku koruptif. Istri bisa menanyakan secara detail kepada suami bila menerima uang di luar kewajaran.

“Kalau kita memberikan makanan dari sesuatu yang bersih hal itu berdampak pada karakter anak-anak,” jelasnya.

Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas menyebut perempuan terutama ibu adalah agen perubahan. Menurutnya ibu merupakan pendidik pertama dalam keluarga sebelum masyarakat.

“Peran perempuan sangat besar,” ujarnya.

Menurut Hemas pendidikan anak tidak langsung bisa dinikmati. Namun dalam jangka waktu 10 tahun hingga 20 tahun mendatang. Sehingga di masa mendatang kejujuran itu akan membawa dampak pada pembangunan.

Hemas mengapresiasi BPPM DIJ dan Panitia Hari Kartini tingkat DIJ 2018 karena mengadakan sarasehan tentang perempuan dan korupsi. Menurutnya sarasehan tersebut sangat unik dan mampu menjadi pembelajaran.

“Saya bangga sebab sepertinya baru kali ini peringatan Kartini mengangkat tema antikorupsi,” kata Hemas. (bhn/iwa/mg1)