SLEMAN- Labuhan Merapi selalu menyedot perhatian publik. Tak terkecuali wisatawan mancanegara (wisman). Jasmine Wannett, misalnya. Selama liam tahun tinggal di Indonesia, wisatawan asal Inggris itu mengaku sudah tiga kali mengikuti prosesi labuhan Merapi.

Bagi Jasmine, selalu ada hal baru dalam setiap labuhan Merapi yang dia ikuti. Pengalaman itu yang selalu membangkitkan keinginannya memperdalam budaya Jawa. “Saya ingin belajar menghormati alam dan budaya Jawa untuk mendapatkan ketenangan spiritual,” ungkapnya di sela labuhan ageng Merapi Selasa (17/4).

Sebagaimana ritual labuhan tahun-tahun sebelumnya, proses acara dimulai pukul 06.13 di petilasan Mbah Marijan (bekas juru kunci Merapi) di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan. Dari Pendapa Kinahrejo rombongan abdi dalem Keraton Jogja pembawa uba rampe dari Raja Sri Sultan Hamengku Buwono X berjalan sekitar dua kilometer sampai Bangsal Srimanganti. Uba rampe itu berupa sinjang limar, sinjang cangkring, semekan gadhung, semekan gadhung melathi, semekan bangun tulak, kampuh polengciut, dhesthar daramuluk, peningset hudaraga,seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh satu buntal, dan yotro tindih. Juga kembang setaman, nasi gurih, ingkung, dan serundeng. Kali ini abdi dalem keraton juga melabuh kambil watangan (pelana) kuda yang hanya dilakukan setiap delapan tahun sekali (Tahun Dal).

Rombongan sampai di Srimanganti sekitar pukul 08.33 dan langsung menjalani ritual berupa pemanjatan doa. Usai dilabuh secara simbolis, seluruh uba rampe dilorot lagi. Sedangkan nasi gurih dan suwiran ayam dibagikan kepada seluruh peserta labuhan. Masing-masing mendapatkan satu pincuk daun pisang dan boleh menambah.

Sedangkan kembang setaman diperebutkan oleh sebagian peserta labuhan. Bagi yang percaya, bunga setaman menjadi berkah tersendiri.

Sementara lorotan uba rampe dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan oleh Juru Kunci Merapi Mas Lurah Suraksosihono.

“Prosesi labuhan ini selain untuk meminta keselamatan kepada Sang Pencipta juga melestarikan budaya Jawa. Sekaligus mengedukasi generasi muda agar lebih mencintai tradisi warisan nenek moyang,” jelas Mas Asih, sapaan akrabnya.

Labuhan Merapi merupakan dhawuh Raja Keraton Jogja sejak era Sultan Hamengku Buwono I (Panembahan Senopati). Sebagai bentuk kesanggupan raja untuk “mengirim” sesaji kepada Eyang Sapu Jagat yang menjadi “penguasa” Gunung Merapi.

Lewat labuhan Merapi Asih berharap seluruh warga Jogjakarta mendapatkan keselamatan dan kemakmuran. (cr4/yog/mg1)