JOGJA – Didampingi neneknya Adilia Kusuma Putri datang ke RS Dr Soetarto Kotabaru, Jogja untuk periksa kesehatan Rabu (18/4). Saat itu neneknya, Jumirah, minta kepada petugas rumah sakit untuk memperbaiki kursi roda yang dipakai Adilia yang rusak. “Syukur ada yang baru,” ungkap Jumirah sambil menjelaskan kondisi cucunya yang menderita lumpuh layu sejak bayi itu.

Warga Karangwaru Lor, Tegalrejo itu lantas mengisahkan jika belum lama ini Adilia yang saat ini berusia 13 tahun itu sempat opname di rumah sakit karena didiagnosa mengalami gangguan saluran pernapasan, saluran kencing, dan demam berdarah. “Saya tidak tahu anaknya mengeluh sakit apa, wong dia tidak bisa omong. Bisanya hanya menangis,” ucapnya memelas.

Selama seharian kemarin di RS Dr Soetarto digelar pelayanan jaminan kesehatan khusus (Jamkesus) terpadu oleh Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial (Bapel Jamkesos) DIJ. Khusus penyandang disabilitas di Kota Jogja. Selain pemeriksaan kesehatan gratis, juga perbaikan alat bantu dan pelatihan keterampilan dari petugas dinas sosial. “Dibuat terpadu supaya semua kebutuhan teman-teman difabel terpenuhi di satu lokasi,” ujar Kepala Seksi Pemeliharaan Kesehatan Bapel Jamkesos DIJ Agus Priyanto.

Program tersebut tak lain karena pertimbangan bahwa penyandang disabilitas berisiko empat kali lebih besar terkena penyakit katastropik. Seperti jantung, stroke, diabetes, dan hipertensi. Setidaknya hal tersebut berdasarkan hasil riset Bapel Jamkesos DIJ bersama WHO pada Januari-Maret 2017. “Penyandang disabilitas lebih rentan karena fisik mereka kurang aktivitas akibat kondisinya,” jelas Agus.

Beberapa jenis penyakit lain yang kerap diderita penyandang disabilitas adalah decubitus atau luka pada kulit karena terlalu lama duduk atau tiduran. Juga skoliosis, yaitu melegkungknya tulang belakang ke samping secara tidak normal. Menurut Agus, kondisi tersebut disebabkan kebiasaan duduk di atas kursi roda atau menggunakan alat bantu yang tidak tepat. “Mungkin karena sudah nyaman diteruskan duduknya, padahal posisinya salah,” duga Agus.

Upaya pencegahan penyakit pada penyandang disabilitas bukanlah perkara mudah. Terutama mereka yang tinggal di pedesaan, yang rumahnya jauh dari layanan kesehatan. Ditambah fakta 70 persen penyandang disabilitas di DIJ berasal dari kelompok miskin. Karena itulah pemerintah mengelompokkan difabel dan membentuk Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) bagi penyandang disabilitas. Hal ini bertujuan mendeteksi dini kemungkinan adanya kaum difabel yang menderita penyakit.

Lebih lanjut Agus mengungkapkan bahwa di DIJ terdapat 31.802 penyandang disabilitas yang terdaftar kepesertaan Jamkesus. Mereka berasal dari keluarga miskin yang belum ter-cover layanan kesehatan. (pra/yog/mg1)