BANTUL– Rendahnya literasi di pedesaan mendorong Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIJ menggelar bedah buku Rancang Bangun Bisnis dan Pengelolaan BUMDesa di Pendopo Balai Desa Wonolelo, Pleret, Bantul, Rabu (18/4). Buku karya Sukasmanto ini di antaranya mengupas kiat-kiat mengelola usaha desa. Terutama, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Kami ingin memberikan informasi dan cara mengelola BUMDes di Wonolelo dari buku tersebut,” ungkap Kasubid Peremcanaan dan Pembangunan BPAD DIJ Dewi Ambarwati S.Sos MPA saat ditemui di sela acara.

Hingga sekarang, program kerja BPAD ini telah dilaksanakan di Gunungkidul dan Bantul. Di Kabupaten Bantul sendiri tercatat sudah tiga kali dari total lima agenda yang dijadwalkan. Dewi menargetkan, agenda serupa digelar 48 kali.

“Di desa-desa seluruh DIJ,” ucapnya.

Sukasmanto yang didapuk sebagai narasumber mengungkapkan, ada sejumlah faktor pemicu rendahnya taraf perekonomian masyarakat pedesaan. Antara lain, rendahnya minat baca plus minimnya referensi. Padahal, kata Sukasmanto, desa memiliki seabrek potensi. Di antaranya, BUMDes.

“BUMDes bila dikelola dengan baik dapat mendatangkan manfaat besar,” katanya.

Lalu, bagaimana caranya? Lulusan UGM ini mengungkapkan, merintis BUMDes perlu banyak pertimbangan. Mulai dari ide, analisis pasar, hingga menyusun manajemen. Agar usaha BUMDes dapat berlanjut.

“Ada empat pilar utama. Yaitu, pemasaran, keuangan, operasional dan SDM,” lanjutnya.

Sekretaris Komisi D DPRD DIJ Suwardi yang ditunjuk sebagai pembedah buku apresiatif dengan agenda yang diselenggarakan BPAD DIJ. Dia berharap masyarakat meningkatkan minat baca sekaligus mengenal potensi desa, sehingga dapat berkarya untuk pembangunan.

“Dari membaca menjadi karya,” katanya.(cr4/zam/mg1)