Masyarakat Desa Karangasem, Paliyan, Gunungkidul terus memertahankan adat dan tradisi yang diwariskan leluhurnya. Di antaranya seperti penyelenggaraan acara rasulan.

Rasulan tak lain merupakan kegiatan merti dusun atau bersih desa yang diadakan para petani usai masa panen. Adapun pelaksanaan dari acara rasulan diserahkan pada kesepakatan warga setempat. “Rasulan kami ada rutin setiap tahun,” ujar Kaur Umum Pemerintah Desa Karangasem Endi Septo Rabu (18/4).

Tahun ini, rasulan di desanya diadakan pada Sabtu (31/3) dan Minggu (1/4) lalu. Puncak acaranya digelar pentas wayang kulit semalam suntuk. Sebelumnya, warga mengawali rangkaian bersih dusun dengan mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan. Mereka bergotong royong memperbaiki jalan, membuat atau mengecat pagar pekarangan, dan membersihkan makam.

Warga juga mengadakan gelar budaya. Dalam acara gelar budaya yang mendapatkan dukungan Dinas Pariwisata DIY itu diselenggarakan beragam pentas seni. Di antaranya, jatilan, reog, tari-tarian, dan pentas ketoprak.

“Gelar budaya itu mulai pemain hingga pengiring kesenian adalah warga Desa Karangasem. Tak kurang 100 orang terlibat aktif. Gelar budaya itu dari, oleh dan untuk Karangasem,” ujar Endi.

Atraksi seni budaya pada perayaan rasulan di Karangasem itu menarik masyarakat. Ini terlihat dengan antusiasme warga menyaksikan seluruh gelaran budaya tersebut. Mereka berharap acara itu dapat berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Kepala Seksi Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) Dinas Pariwisata DIY Wardoyo menilai, gelar budaya di Desa Karangasem itu punya potensi dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis budaya. Apalagi rasulan telah menjadi tradisi yang berakar kuat di masyarakat setempat. “Itu dapat menjadi daya tarik tersendiri,” ujar Wardoyo.

Lebih dari itu, sambung dia, Desa Karangasem juga berpotensi menjadi desa wisata. Ada tujuh unsur desa wisata yakni kuliner, kerajian, seni, budaya, adat istiadat atau tradisi, bahasa, dan situs sejarah.

Sejumlah potensi seperti seni, budaya dan adat istiadat dimiliki Desa Karangasem. Desa wisata punya kemandirian sekaligus nilai jual. Bila dikelola dengan baik dapat membuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat. “Atraksi seni budaya dapat menjadi daya tarik pariwisata,” katanya.

Untuk diketahui, Desa Karangasem merupakan satu di antara tujuh desa di Kecamatan Paliyan. Desa ini terbagi dalam dua wilayah. Yaitu, utara dan selatan. Bagian utara meliputi pedukuhan Karangasem A, Karangasem B, Cangkring, Lemahbang, Manggul, Mengger dan Trukan. Wilayah utara berada di daerah landai dan menjadi bagian dari kawasan cekungan Wonosari.

Di bagian selatan meliputi lima pedukuhan. Yakni, Trowono A, Trowono B, Banjaran A, Banjaran B dan Namberan. Wilayah selatan ini ada di kawasan karst Pegunungan Seribu. Pedukuhan Trowono ada pasar tradisional terbesar di Gunungkidul bagian selatan. Salah satu yang terkenal di pasar ini adalah bawang merah asal Trowono. Karangasem juga dilewati jalan jalur lintas selatan (JJLS). Desa Karangasem juga dikelilingi hutan kayu. Salah satunya hutan kayu jati milik Keraton Yogyakarta.

Kembali ke tradisi rasulan, Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi dalam satu kesempatan menilai, menjadi aset budaya yang harus dipertahankan. Rasulan melestarikan jiwa kebersamaan dan semangat gotong royong. Suasana harmoni dapat terjaga.

“Rasulan juga memupuk semangat kekeluargaan,” kata Immawan yang selalu menyempatkan hadir setiap diundang warganya menghadiri rasulan. Tradisi rasulan juga hanya ada di Gunungkidul. (kus/zam/mg1)