(GRAFIS: WAHYU RIZAL/RADAR JOGJA)

Dinas Pariwisata DIY bukan hanya mengadakan lomba Desa dan Kampung Wisata Tingkat DIY Tahun 2018. Bersamaan dengan penilaian itu juga digelar lomba Homestay. Kepala Seksi Kelembagaan Dinas Pariwisata DIY Titik Sulistyani mengatakan, homestay yang dinilai bukan pondok wisata atau rumah wisata.

“Ada kategori tersendiri. Homestay yang kami nilai harus menyatu dengan rumah penduduk di kawasan desa atau kampung wisata. Jumlah kamarnya maksimal lima. Homestay juga masih dihuni pemilik rumah,” jelas Titik Rabu (18/4).

Tahun ini ada 15 homestay yang dinilai tim juri. Yakni Rejo Homestay Kaki Langit di Desa Wisata Mangunan, Dlingo, Bantul, Kampung Santan, Santan Guwosari, Bantul dan Nara Tapak Tilas Sultan Agung Homestay, Cempluk, Mangunan, Bantul.

Lalu, Nglinggo, Pagerharjo, Samigaluh, Jatimulyo, Girimulyo dan Purwosari, Girimulyo yang semua berada di Kulonprogo. Berikutnya, Homestay Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta, Bronto Kusumo, Mergangsan, Yogyakarta dan Prenggan, Kotagede, Yogyakarta.

Berikutnya Homestay Pentingsari, Cangkringan, Siti Brayut, Pandowoharjo dan Tanjung, Donoharjo, Ngaglik yang mewakili Kabupaten Sleman. Sedangkan Kabupaten Gunungkidul mengirimkan Homestay Bobung, Putat, Patuk, Pampang, Paliyan dan Bejiharjo, Karangmojo.

Setelah diadakan penilaian dari 6-17 April 2018, terpilih enam nominasi pemenang. Yakni Homestay Pentingsari, Cangkringan, Sleman, Siti Brayut, Pandowoharjo, Sleman dan Nara Tapak Tilas Sultan Agung, Cempluk, Mangunan, Bantul. Kemudian Rejo Homestay Kaki Langit, Mangunan, Bantul, Kayu Manis Homestay Nglinggo, Kulonprogo, dan Sitikoyo Homestay, Gunungkidul.

Enam homestay itu akan berlaga dalam grand final pada Jumat 11 Mei 2018 mendatang. “Lokasi acaranya di Rumah Heritage Prenggan, Kotagede, Yogyakarta,” jelas Titik.

Salah satu tim juri Bobby Andiyanto Setyo Ajie dari ASITA DIY mengatakan, menjelaskan, Jogja harus dikembalikan sebagai daerah tujuan wisata kedua setelah Bali. Saat ini Jogja terkenal dengan produk dan paket wisata yang relatif mahal. Karena itu, perlu langkah-langkah agar bisa murah dan bersaing dengan dunia pariwisata di tanah air.

Anggota juri Destha Titi Rahardjana dari Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM mengingatkan, membangun wisata kepentingannya demi menyejahterakan masyarakat. Community base tourism (CBT) atau pengembangan pariwisata berbasis masyarakat membutuhkan peran masyarakat di daerahnya.

Tim juri lainnya Drs Bakri MM menambahkan, homestay di desa dan kampung wisata harus bisa membuat betah penggunanya. Dia berpesan agar Sapta Pesona dijalankan dengan memberikan paket wisata murah.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta menjelaskan, CBT merupakan konsep pengembangan destinasi wisata melalui pemberdayaan masyarakat. Bentuknya, masyarakat turut andil dalam perencanaan, pengelolaan dan pemberian suara berupa keputusan dalam pembangunan.

Dengan demikian, desa dan kampung wisata termasuk homestay-nya harus mampu memenuhi standar. Kemudian memberikan dampak sosial dan lingkungan. Selain itu, bisa memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. “Bisa bekerja sama dengan biro perjalanan wisata serta mamu mempromosikan desa wisata,” ungkap Aris. (kus/mg1)