AREA STERIL: Proses rekonstruksi dikawal ketat anggota Densus 88 Mabes Polri. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

SLEMAN – Rekonstruksi penyerangan Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog di Trihanggo, Sleman Kamis (19/4) mendapat perhatian serius Mabes Polri. Berbeda dengan kasus kriminal umumnya, selama proses rekonstruksi dikawal Satuan Densus 88 Antiteror Mabes Polri bersenjata lengkap.

Dari situ diketahui, sebelum melakukan penyerangan tersangka Suliono sempat tidur di sebuah gubuk tengah sawah sebelah timur gereja.

Setidaknya ada 50 adegan yang diperagakan, baik di dalam maupun di luar gereja. Diawali kedatangan Suliono di Musala An Nur hingga menyerang gereja. Pria asal Banyuwangi, Jawa Timur itu mengenakan baju tahanan warna oranye yang dibalut jumper hitam. Rekonstruksi dimulai pukul 08.30 hingga 10.40.

Pada adegan ke-29 Suliono memperagakan saat masuk gereja lewat pintu selatan. Korban pertamanya adalah Budiono,44, yang ketika itu sedang duduk di dekat pintu gerbang gereja bersama anak balitanya.

Budiono mengalami luka di bagian kepala akibat sabetan pedang Suliono. Budiono pingsan kala itu.

“Saya menjalani dua adegan, ke-30 dan 31 saat diserang dan pingsan. Setelah itu berlanjut adegan penyerangan Pak Permadi yang berada di sisi barat saya. Lalu tersangka berjalan ke arah pintu gereja dan menyerang Pak Yohanes Trianto, kemudian menuju mimbar dan menyerang Romo Prier,” jelas Budiono. Budiono sengaja tak menghadirkan anaknya supaya tidak trauma.

Suki Ratnasari, perwakilan kuasa hukum para korban, mengatakan, seluruh adegan digelar berdasarkan keterangan saksi. Namun, kata Suki, ada beberapa adegan yang tak sesuai dengan berkas acara pemeriksaan (BAP). Yakni saat perusakan altar dan pembacokan Romo Prier. “Romo Prier seharusnya dibacok tiga kali, tapi tadi hanya diperagakan dua kali. Tapi ini tidak masalah,” ujarnya.

Tak semua korban mengikuti reka ulang ini. Romo Karl Edmund Prier, salah satunya. Romo Prier kemarin sedang berada di luar kota. Rekonstruksi yang melibatkan Romo Prier digantikan Romo Santo dan Paroki Kemetiran. “Beberapa korban juga masih menyimpan rasa trauma,” ungkap Suki.

FOTO-FOTO: DWI AGUS – GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

Bahkan sebelum menjalani reka ulang para korban bersama-sama melakukan relaksasi dan latihan lebih dulu. Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yulianto mengatakan, rencana rekonstruksi telah disiapkan cukup lama. Polda DIJ telah berkoordinasi dengan Densus 88, yang ditindaklanjuti dengan pemberitahuan kepada para saksi dan korban. (dwi/yog/mg1)