Tongkat kayu menjadi teman setianya dalam beraktifitas. Kedua kakinya tak sanggup untuk berdiri sendiri dengan sempurna. Sejak usia dua tahun Nurul Saadah Andriani mengalami polio, tapi siapa sangka hidup yang dia jalani tidak seperti penyandang disabilitas pada umumnya. Sejak SD Nurul, sapaannya, belajar di sekolah di umum, tidak pernah sekalipun dia memasuki pendidikan berkebutuhan khusus atau SLB. Lingkungan keluarga dan sekolahnya tidak menjadikan dirinya spesial, oleh karena itu Nurul tidak menyadari bahwa dia seorang difable.

Perempuan kelahiran Magelang, 25 November 1977 ini adalah salah satu pendiri Sentra Advokasi Difabel Perempuan dan Anak (SAPDA) yang secara resmi berdiri 2005 dengan tujuan melakukan advokasi untuk perempuan dan anak penyandang disabilitas. Selain itu juga melakukan riset, kajian, mendorong kebijakan dan pembukaan akses layanan publik. Salah satunya adalah memperjuangkan jaminan kesehatan khusus ke pemerintah, yang kini sudah terealisasikan kurang lebih 30 ribu jiwa.

Nurul lebih dulu mengenal isu perempuan karena ketertarikannya pada perempuan-perempuan yang maju berkarya dan bisa menentukan pilihan sendiri. Seperti ibunya, seorang kepala desa perempuan pertama di Magelang sejak tahun 1978. Nurul dibiasakan ibunya mengunjungi masyarakat dan dia sangat menyukai kegiatan ini. “Saya menjadi kenal perempuan yang kuat, mengamati persoalan sosial dimana anak-anak tidak bisa sekolah, ada orang sakit yang tidak bisa ke rumah sakit, persoalan anak yatim, sampai lansia,” ungkapnya saat ditemui Radar Jogja (18/4) di kantornya.

Dia melihat bahwa ibunya yang tidak terbebani persoalan domestik dan mampu berkarya untuk persoalan orang lain tidak lepas dari dukungan yang baik dari bapaknya. “Perempuan yang ideal adalah yang seperti ibu saya, laki-laki ideal itu seperti bapak saya” tambahnya. Sementara dunia kerja sangat berbeda dari apa yang selama ini dia jalani, dia merasa jauh dari sebuah kehidupannya yang ideal.

Setelah menyelesaikan studi hukumnya di Universitas Gadjah Mada di tahun 2000, Nurul mulai menyadari bahwa dunia kerja tidak bisa menerima dirinya dengan keadannya. Keinginannya menjadi seorang jaksa harus kandas karena sebuah stigma. “Mereka bilang, nggak mungkin mbak, soalnya kalau jaksanya disabilitias nggak bisa mengejar terdakwa kalau melarikan diri. Pada saat itu terdengar sangat menyakitkan buat saya yang belum punya pengalaman kerja ini,” tuturnya mengisahkan kembali pengalamannya. Kemudian dia berkarir menjadi advokat dan memilih bekerja di lembaga swadaya masyarakat dan lembaga bantuan hukum yang bergerak untuk advoasi hak buruh perempuan di Jogja.

Hingga pada tahun 2003 dia ditarik oleh temannya untuk mencoba terlibat dalam isu disabilitas. Dijelaskan, teman-teman disabilitas kala itu butuh seorang perempuan yg membantu perjuangan gerakan mereka. “Bagi teman-teman yang ada di desa, apa yang dapat dilakukan saya itu mimpi,” ujarnya. Banyak di antara mereka yang disembunyikan dan ditelantarakan keluarganya karena malu. Sementara orangtua Nurul mengasuh dirinya dengan wajar seperti keempat kakaknya, pembagian kewajiban di rumah juga seimbang. Menurutnya, hal yang seperti itu yang dapat bertumbuh kembang secara optimal.

Nurul melihat cukup banyak perempuan menikah yang dikembalikan ke keluarganya karena disabilitas. Rata-rata adalah yang harus duduk di kursi roda, yang dianggap tidak bisa melakukan hubungan seksual, tidak bisa bekerja, dan tidak bisa melakukan pekerjaan domestik sebagai istri. Nurul memberi contoh bahwa dia bisa menentukan sesuatu, menikah dengan kemauannya sendiri, melahirkan tiga anak dengan kondisi normal semua. Saat hamil pun dia mencoba untuk menepis stigma tidak bisa merewat anak, dengan tetap aktif bekerja. Di saat yg sama Nurul masih bisa melakukan pekerjaan domestik. Ia ingin menunukkan bahwa tidak ada hambatan pada perempuan penyandang disabilitas.

Menurutnya, pola asuh sangat mendasari sikap dan penerimaan sosial. Anak difable harus diajarkan memposisikan diri secara sosial, ditingkatkan kepercayaan dirinya, dipercaya mengurus diri sendiri dan rumah tangga, dan berempati. “Untuk mengajak orang melihat penyandang disabilitas dengan positif, kita juga harus positif. Jangan mengharapkan orang lain melakukan sesuatu untuk kita, tapi apa yg harus kita lakukan untuk masyarakat. Kalau ada yang bantu alhamdulillah, kalau nggak ya nggak apa-apa,” pesannya. (cr3/ila/mg1)