Sadar bahwa tidak semua orang belum memahami kebutuhan penyandang disabilitas, Nuning Setyaningrum, 50, lewat lembaga sosial yang dipimpinnya yaitu Center Improving Qualified Activity in Life for Person with Disability (CIQAL) menyuarakan hak-hak disabilitas. Baik kepada pemerintah maupun masyarakat. “Disabilitas bisa melakukan rutinitas seperti orang normal lainnya. Namun ada beberapa hal khusus yang harus diperhatikan karena memiliki keterbatasan yang berbeda-beda,” ungkap Direktur CIQAL ini. Menurutnya ada sesuatu yang spesifik dari penyandang difabel, yaitu beberapa hal yang belum diketahui oleh masyarakat luas. Ketidakpahaman inilah yang terkadang memicu adanya diskriminasi di kalangan difabilitas.

Pembelaan HAMbagi bagi kalangan disabilitas belum bisa lakukan oleh semua orang. “Sehingga hal inilah yang saat ini kami upayakan, teman-teman disabilitas harus berani berbicara kepada aparat pemerintah tentang kebutuhan mereka,” jelas wanita yang akrab disapa Nuning ini. Karena menurutnya, komunikasi monolog dari pemerintah saja tidak akan menyelesaikan permasalahan disabilitas. Pihak yang punya masalah adalah penyandang disabilitas, sehingga mereka harus menyampaikan pendapat. Memahamkan pemerintah maupun masyarakat banyak hal tentang kebutuhan mereka.

Sebuah fakta besar yang saat ini tengah dihadapi oleh penyandang disabilitas adalah masih minimnya fasilitas ditempat umum yang ramah untuk disabilitas. Jadi Jika mengundang ciqal, sebaiknya memilih ruangan yang ramah disabilitas. Hal inilah juga menjadi upaya CIQAL untuk menggencarkan sosialisasi kepada pemerintah agar menyediakan fasilitas ramah disabel. “Harus adanya komunikasi intensif dari pihak disabilitas dengan pemerintah,” jelas wanita asli Jogja ini. Oleh karenanya, baik penyandang disabilitas dan pemerintah harus hadir dalam diskusi. Sehingga adanya komunikasi dan interaksi, agar pemerintah paham kebutuhan disabilitas. Ke depannya, Nuning berharap rasa empati itu perlahan akan muncul.

Pemerintah tidak harus memfasilitasi secara menyeluruh dalam sekejap. Tapi bisa dilakukan secara bertahap. Sehingga sekarang ini Nuning bersama lembaga CIQAL-nya tengah menyasar pedesaan, yaitu kalangan terbawah dari pemerintahan. “Karena yang lebih banyak bersentuhan dengan disabilitas adalah kalangan bawah,” jelasnya. Caranya harus mengajak jaringan yang lain agar aksebilitas untuk penyandang disabel terpenuhi. Dalam mengasah kepedulian aparat desa, diawali dengan menerangkan isu disabilitas. Agar satu perspektif maka mereka juga harus punya empati. Sehingga CIQAL mencoba untuk melakukan pertemuan antara pimpinan yang ada di desa dengan masyarakat.

Nantinya aparat desa bisa mengetahui kebutuhan masing-masing masyarakat nya. Setidaknya aparat desa sadar untuk melayani masyarakat secara maksimal. Terutama penyandang disabilitas. “Sehingga suatu hal yang harus ditanamkan di desa bahwa, aparat desa harus punya kesadaran untuk mengembangkan diri untuk memberi layanan lebih baik lagi,” jelas ibu satu anak ini.

Setidaknya baik penyandang disabel dan pemerintah desa sudah saling mengenal. Sehingga nantinya mereka sudah berani menyampaikan aspirasinya. “Disabilitas memiliki hak untuk bersuara. Membicarakan dengan aparat desa untuk memberdayakan teman-teman penyandang disabilitas secara maksimal sesuai kemampuan mereka,” tegasnya. Pemerintah tidak boleh hanya berbicara. Harus ada aksi nyata.

Bagi Nuning, kendala sebagai sebuah tantangan, memecahkan tantangan merupakan sesuatu yang harus diselesaikan, bukan dihindari. “Bahwa tidak semua orang paham dengan kondisi disabilitas, maka harus adanya komunikasi secara terus menerus, juga diintensifkan,” kata wanita penyuka travelling ini. Dia meyakinkan bahwa CIQAL akan membantu memahamkan pemerintah untuk peduli terhadap penyandang disabilitas. (cr2/ila/mg1)