KALI PERTAMA: Salah satu penyanyi Symphony Kerontjong Moeda Orchestra ikut tampil di pentas Keroncong Plesiran di panggung Lintang Sewu, Dlingo, Bantul. (KUSNO S. UTOMO/RADAR JOGJA)

Festival dimulai dari Pasar Kaki Langit pada pukul 07.00. Menampilkan keroncong GGS dan Sorlem. Dua kelompok musik ini pentas hingga pukul 10.00. Sambil menikmati sajian makanan tradisional di Pasar Kaki Langit, pengunjung bisa menikmati musik keroncong asli, langgam dan modern yang menjadi spesialisasi GGS dan Sorlem.

Menjelang siang pengunjung disuguhi pentas Orkes Keroncong Anak Kulonprogo, KR VOC, KR Badami Lapis Legit dari Bandung dan KR Chamber Kidhung Etnosia. Mereka tampil di pangung Sekolah Hutan yang ada di kawasan hutan pinus.

Selain pentas musik, juga digelar talkshow mengupas soal bambu, batik, ecoprint di Seribu Batu yang selama beken dengan rumah hobitnya.

Sore harinya, diadakan karnaval dimulai dari Pasar Kerajinan Desa Muntuk dan berakhir di objek wisata Lintang Sewu, Muntuk, Dlingo. Jaraknya sekitar 1 kilometer. Karnaval menampilkan bergada kentongan, wayang bambu dan fashion show dari bambu dan batik.

“Festival kami gelar sehari penuh. Kami ingin hutan, bambu dan keroncong lestari,” kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY Arya Nugrahadi.

Dalam karnaval itu Arya berada sebagai peserta yang berjalan paling depan. Bertepatan dengan Festisaka itu juga dilakukan penanaman bibit bambu rintisan hutan bambu lestari. Festival dibuka dengan sambutan Staf Ahli Gubernur DIY Bayu Haryana.

“Pariwisata saat ini menjadi primadona ekonomi baru,” kata Bayu membacakan sambutan Wakil Gubernur DIY Paku Alam X. Pemerintah, kata wakil gubernur, terus mendorong upaya pengembangan pariwisata.

“Penyelenggaran Festisaka oleh Dinas Pariwasata DIY ini sangat tepat. Sambil menikmati pemandangan alam, bisa menikmati musik. Keroncong adalah musik asli Indonesia,” katanya. Paku Alam X minta agar festival tersebut diadakan secara berkelanjutan.

Malam harinya mulai pukul 19.00 diadakan pentas bertajuk Keroncong Plesiran. Lokasinya di panggung Lintang Sewu. Keroncong plesiran dibawakan Symphony Kerontjong Moeda Orchestra.

Penampilan grup ini mampu memukau ribuan penonton. Kolaborasi musik keroncong dipandu suasana alam pegunungan plus tata panggung yang apik mampu menghipnotis pengunjung. Suasana bertambah meriah dengan penampilan sejumlah penyanyi seperti Okky Kumalasari, Paksi Rarasalit, Bimacho Bravesboy, Egha Latoya, Nanda Candra dan On Wawes.

Jalannya acara dipandu duo MC Dony Salahpaham dan OfixOKfix semakin membuat gayeng suasana malam itu. “Saya sering nonton konser, namun dengan tema outdoor seperti ini merupakan pengalaman baru bagi saya. Asyik dan syahdu,” tutur Yuli, seorang pengunjung yang tinggal di Jalan Parangtritis.

Antusiasme penonton terlihat sejak sore. Sebelum mahrib pengunjung sudah berbondong-bondong ke lokasi. Mereka mencari tempat duduk yang startegis di depan panggung.

“Pentas keroncong di panggung terbuka Kaki Langit menjadi puncak Festisaka,” kata pengelola objek wisata Mangunan Ipung Purwo Harsono. Dampak diadakannya festival itu membuat pengunjung objek wisata di kawasan Mangunan membeludak. (*/kus/laz/mg1)