RUSAK: PLTH memanjat tower untuk memperbaiki kincir angin.
PANEL SURYA
(FOTO: SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

Wilayah Jogjakarta dilewati banyak sungai yang berhulu di pantai selatan. Satu di antaranya adalah Selokan Mataram. Beberapa ruas sungai yang membelah wilayah Kulonprogo, Sleman, Kota Jogja, dan Bantul ini memiliki arus cukup deras yang berpotensi menjadi sumber energi mikrohidro. Memanfaatkan turbin yang bisa menghasilkan listrik. Arus air sungai dimanfaatkan sebagai penggerak turbin.

“Meskipun skalanya kecil, mikrohidro di Selokan Mataram sudah cukup berhasil,” ungkap Wakil Direktur Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada Prof Arief Budiman.

Pemanfaatan alam untuk energi terbarukan di wilayah pesisir selatan menggunakan kekuatan angin. Menurut Arief, sudah cukup lama angin di pantai selatan dikembangkan sebagai pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

Biogas juga menjadi energi terbarukan yang terus dikembangkan para peneliti perguruan tinggi di Jogjakarta. Potensinya lebih banyak dari kotoran sappi, ampas tahu, hingga sampah kota berupa sayuran dan buah busuk. Instalasi biogas dari sayur dan buah busuk dikembangkan di Pasar Gamping.

Saat ini sebenarnya masih ada sumber energi potensial dari sampah. Yakni sampah organik yang dihasilkan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul. Berdasarkan kajiannya, dari sekitar 500 ton sampah yang menggunung di TPST Piyungan, kurang lebih 125 ton di antaranya berupa sampah organik.

Sampah organik inilah yang jika diolah dengan baik bisa menjadi sumber biogas. Arief dan timnya pernah melakukan penelitian dengan 125 ton sampah organik tersebut. Hasilnya cukup signifikan. Berupa energi listrik berdaya 1 megawatt.

“Selain itu, biomasa dari ampas tebu juga berpotensi untuk dibuat energi pellet dan listrik. Di Pabrik Gula Madukismo sudah dipakai untuk memanasi mesin boiler,” tutur dosen Teknik Kimia itu.

Energi lain yang bisa dikembangkan di DIJ adalah biodiesel untuk bahan bakar mesin kendaraan atau campuran solar. Bahan sederhananya ternyata cukup dari minyak jelantah (sisa penggorengan). Siapa sangka warung pecel lele yang banyak ditemui di pinggir-pinggir jalan justru bisa berkontribusi untuk pengembangan energi terbarukan itu. “Katakanlah ada seribu warung pecel lele di Jogja. Tiap warung menghasilkan satu liter jelantah dalam sehari. Seribu liter jelantah itu bisa menghasilkan 800 liter biodiesel,” jelasnya.

Mikroalga

Potensi lain untuk biodiesel adalah mikroalga atau dikenal juga dengan ganggang mikro. Budidayanya terbilang sederhana. Hanya butuh sinar matahari dan karbondioksida.

Tanaman berklorofil ini hidup di hampir seluruh perairan tawar dan asin di Indonesia. Fakultas Biologi, Fakultas Teknik, dan Pusat Studi Energi UGM berkolaborasi membangun Algaepark untuk budidaya mikroalga di Dusun Nogotirto, Gamping, Sleman.

Eko Agus Suyono, biolog yang juga salah satu penggagas Algaepark, menjelaskan, mikroalga dapat digunakan sebagai bahan baku bio-crude oil, biodiesel, dan bioetanol. Selama ini biodiesel dihasilkan dari kelapa sawit, sedangkan bioetanol dari tebu. Kedua tanaman ini merupakan persoalan utama dalam konflik lahan biodiversitas. Karena jumlah hutan menjadi berkurang dan tanah tidak subur. Biodiesel adalah zat campurann untuk bahan bakar solar, sedangkan bioetanol untuk premium atau pertamax.

“Orang mencari alternatif lain yang lebih ramah lingkungan dan menghemat penggunaan lahan, ketemulah mikroalga. Selain konflik lingkungannya rendah, dia juga berfungsi menangkap karbondioksida,” jelas Eko.

Mikroalga dapat menghasilkan biodiesel dan bioetanol. Biodiesel diperoleh dari lemak, sedangkan bioetanol dari karbohidratnya. Pemanfaatannya dapat dikombinasikan dengan limbah lain. Sementara kandungan mikroalga dapat memperbaiki struktur perairan serta mengurangi derajat keasaman.

Potensi lainnya adalah sebagai bahan pangan, suplemen, pakan ternak, obat, dan kosmetik. Kandungan antioksidannya dapat menjadi suplemen untuk meningkatkan proses pencernaan dalam tubuh manusia.

Eko menjelaskan, Indoneaia sebagai negara tropis yang memiliki biodiversitas mikroalga dengan tingkatan jenis tertinggi dibanding negara lain. Di DIJ sendiri, mikoralga dengan kualitas terbaik banyak dijumpai di kawasan pantai Glagah, Kulonprogo. “Tentu harus dikembangkan, problem utamanya tidak banyak, yang penting kultivasi harus menghasilkan banyak, pemanenan harus efisien, dan ekstraksi yang baik. Kalau ketiganya bisa teratasi, problem lain yang akan muncul tidak terlalu signifikan,” papar Eko.

Kultivasi atau budidaya hanya membutuhkan 7-14 hari hingga masa panen. Tentu lebih singkat dibanding tanaman sawit yang butuh tiga tahun untuk panen.

Dosen Biologi UGM ini menjelaskan, dalam satu minggu tiap seribu liter mikroalga cair menghasilkan satu kilogram mikroalga basah. Setelah dikeringkan menjadi 250 gram. Inilah yang disebut dengan biomassa. Di Algaepark ini terdapat 60 tandon tertutup dan kolam terbuka untuk kultivasi, dengan kapasitas seribu liter per unit. Dalam satu bulan dapat menghasilkan lima kilogram mikroalga kering.

Saat ini produk biodiesel dari mikroalga masih dalam tahap uji coba lanjutan. Sementara produk turunan lain berbahan mikroalga seperti pakan ternak, sabun kecantikan, dan suplemen makanan masih dalam tahap proses perizinan di Badan Pengawasan Obat dan Makanan. (cr3/yog/mg1)