JOGJA – Pimpinan Daerah (PD) Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) DIJ terus melakukan pelatihan melalui pendidikan politik bagi kadernya. Pendidikan politik dengan berbagai tema tersebut juga mengundang berbagai pakar di bidangnya.

“Untuk tema pertama kita pilih terkait dengan Keistimewaan DIJ. Sengaja kita pilih tema itu karena lima tahun Keistimewaan DIJ masih banyak yang belum paham,” ujar Ketua PD Satria DIJ Donny Ardanadi sela pelatihan di Hotel Tasnem Jogja Minggu (22/4). Apalagi dalam kepengurusan PD Satria DIJ yang baru, terdapat pengurus yang bukan asli DIJ dan belum mengetahui terkait keistimewaan DIJ.

Donny mengatakan pelatihan kader tersebut juga untuk mempersiapkan para kader Satria DIJ yang akan maju menjadi calon legislatif (Caleg) Partai Gerindra. Menurut dia meski selama ini Partai Gerindra DIJ dikenal sebagai pendukung paling depan Keistimewaan DIJ, tapi jika Caleg-nya tidak paham justru malah akan mempermalukan Partai. “Karena kader dan anggota Satria DIJ ini dari berbagai daerah, mereka harus dikenalkan dengan Keistimewaan DIJ,” tegasnya.

Pelatihan kader, lanjutnya, akan maraton terus dilakukan hingga Februari tahun depan, jelang persiapan Pemilu 2019. Menurut dia sudah disiapkan berbagai tema pelatihan bagi para kadernya. “Sudah disiapkan materi dan narasumber yang kompeten di bidangnya,” jelas dia.

Dalam kesempatan pelatihan kader pertama, didatangkan guru besar FIB (Fakultas Ilmu Budaya) UGM, Prof Dr Irwan Abdullah. Dalam paparannya Prof Irwan menjelaskan tentang kuatnya budaya Jawa di Jogja di saat banyak pendatang dari berbagai daerah. “Ada budaya dominan, yaitu budaya Jawa yang bisa mengikat warga masyarakat yang tinggal di Jogja,” jelasnya.

Prof Irwan juga meminta nilai-nilai budaya Jawa, khususnya yang ada di Keraton Jogja pada tata sosial, bisa diajarkan ke publik. Dirinya mengkritisi kurikulum pendidikan nasional saat ini yang dinilainya kering muatan lokal. “Mulok paling membatik, padahal ada nilai budaya Jawa yang lebih dari itu dan belum diajarkan,” ungkapnya. (pra/ong)