BANTUL – Manfaat beroperasinya pembangkit listrik tenaga hibrid (PLTH) dirasakan betul pelaku usaha di kawasan Pantai Baru. Mereka menganggap tarif yang diberlakukan sangat murah. Jauh dibanding tarif yang dipatok PLN.

“Sebulan hanya Rp 20 ribu,” jelas seorang pemilik warung kuliner di Pantai Baru Isbandiyah, 57, akhir pekan lalu.

Berbeda dengan PLN, tarif listrik PLTH dipungut per dua minggu. Isbandiyah menyebutkan, uang yang dikeluarkannya setiap pembayaran tak lebih Rp 10 ribu. Padahal, Isbandiyah mengaku setiap hari menggunakan listrik untuk berbagai kebutuhan di warungnya. Seperti lampu penerangan, pompa air, hingga menanak nasi.

“Mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00,” ungkap perempuan yang telah berjualan di Pantai Baru selama enam tahun ini.

Hal senada diungkapkan pelaku usaha lainnya, Sutinah, 43. Menurutnya, fasilitas listrik PLTH persis milik PLN. Begitu pula dengan problemnya. Seperti pemadaman. Kendati begitu, konsumen PLTH tak perlu ribet untuk menyampaikan keluhan.

“Kalau jeglek, langsung bilang ke petugasnya. Mereka langsung datang memperbaiki,” ungkap perempuan yang sudah berjualan sejak 2011 ini.

Ketika disinggung apakah berlangganan biogas, Sutinah mengaku pernah. Dia memutuskan berhenti berlangganan lantaran apinya terlalu kecil. Hanya cukup untuk memasak air.

“Sehingga beralih elpiji tiga kilogram,” tuturnya.(cr2/zam/mg1)