PURWOREJO – Tidak ingin ada permasalahan yang berhubungan dengan Pekerja Migran Indonesia (PMI), Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinsperinaker) Purworejo terus meningkatan pengawasan terhadap perekrutan tenaga kerja baru yang hendak dikirim ke luar negeri.

Beberapa langkah dilakukan, di antaranya, mendorong Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) melakukan sosialisasi terlebih dahulu ke sekolah-sekolah yang menjadi sasaran. Diakui, seiring kelulusan siswa SMA/SMK dipastikan banyak tenaga kerja baru yang akan direkrut.

“Memang beberapa P3MI sudah melakukan sosialisasi ke sekolah. Sah-sah saja mereka melakukan hal itu, sepanjang sekolah juga bisa menerima,” kata Kasi Penempatan dan Perluasan Tenaga Kerja Disperinaker Purworejo Trimo Senin (23/4).

Dijelaskan Trimo, pihaknya telah meminta P3MI untuk bisa melakukan perekrutan dengan baik, di mana mereka diharapkan bisa
langsung melakukan kerja sama dengan pihak perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dan menghindari kerja sama dengan pihak ketiga di negara tujuan.

“Belajar dari kasus kemarin (kasus PT Yogya Dian Perdana, Red) kerja sama dengan pihak ketiga jika ada permasalahan, prosesnya cukup rumit. Namun jika langsung dengan perusahaan, akan lebih mudah,” tambah Trimo.

Khusus kepada sekolah yang menyelenggarakan perekrutan bagi siswa, ia menjelaskan sebenarnya sekolah dilarang melakukan secara langsung. Setidaknya mereka harus menggunakan P3MI resmi untuk bisa membuka jalur tersebut.

Selain melakukan pendekatan ke sekolah, untuk menghindarkan terjadinya perekrutan secara ilegal, dalam pengertian ada pihak ketiga yang langsung ke lapangan, Disperinaker selama ini rutin turun ke
desa/kelurahan untuk memberikan sosialisasi. Kebijakan boleh tidaknya seseorang berangkat ke luar negeri ada di tangan kepala desa.

Terpisah, Kepala SMKN 3 Purworejo Indriati Agung Rahayu mengaku setiap tahun sekolahnya mengirimkan alumni untuk bekerja di perusahaan di Malaysia. Hanya saja, proses rekrutmen dilakukan langung oleh perusahaan tujuan.

“Memang ada sedikit kekhawatiran terkait adanya kejadian kemarin. Kita memang berhati-hati dalam mengirimkan anak ke luar negeri, hanya saja kita selalu menggunakan perusahaan langsung yang membutuhkan anak didik kita,” ujar Indriati.

Pihaknya sependapat dengan Disperinaker Purworejo jika sekolah yang biasanya memanfaatkan bursa kerja khusus (BKK) di sekolahnya untuk selektif dan hati-hati menggunakan P3MI. Tujuannya agar pekerja migran dari Purworejo bisa diminimalkan dari potensi permasalahan. (udi/laz/mg1)