Berpakaian dinas lengkap Agus terus mendampingi ayahnya yang duduk di atas kursi roda. Kapolsek Pekalongan Utara, Jawa Tengah, itu sesekali harus mendekatkan kepala ketika harus berbincang dengan ayahnya yang bersuara lirih. Maklum, Irhas Imam Muhtar, ayah Agus, berusia 84 tahun. Tergolong sudah sangat berumur bagi seseorang yang harus berhadapan dengan hukum. Karena itu Irhas membutuhkan perlakuan khusus.

Anggota DPRD Gunungkidul periode 1999-2004 itu Selasa (24/4) menjalani sidang peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jogja. Dalam kasus ini Irhas menjadi salah seorang terpidana korupsi dana tunjangan dewan tahun anggaran 2003. “Saya rutin seminggu sekali menjenguk Bapak di Jogja. Termasuk setiap kali sidang,” ungkap Agus yang baru saja menempuh perjalanan darat dari Pekalongan.

Di sela kesibukannya sebagai Kapolsek, Agus selalu meluangkan waktu untuk ayahnya. Bagi dia, itu sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Setiap kali bertemu ayahnya, Agus selalu membawakan makanan dan kue. Dia juga menyempatkan mengganti pakaian ayahnya. “Kalau sehari-harinya ada adik saya yang tinggal di Semin, Gunugnkidul, yang ikut merawat Bapak,” lanjutnya.

Agus juga sedang berusaha memindahkan lokasi penahanan ayahnya, dari Lapas Wirogunan ke Lapas Pekalongan.

Faktor usia dan riwayat kesehatan Irhas yang mendorong Agus menempuh jalan itu. Juga lantaran lima dari ketujuh anak Irhas berdomisili di Pekalongan. Sementara satu-satunya putri Irhas yang tinggal di Semin harus menunggui ibu mereka, Siti Walidah, yang terkena stroke.

“Adik perempuan saya ini juga didiagnosis mengalami tekanan psikologis saat ayah dieksekusi dari rumah dini hari dulu,” ungkap Agus mengenang kejadian November tahun lalu.

Padahal, lanjut Agus, saat itu ayahnya yang berusia 83 tahun sedang dalam kondisi sakit. Sedangkan sepengetahuannya, eksekusi bisa dibatalkan jika terpidana sakit. Meskipun setiap putusan hakim sudah incraht (berkekuatan hukum tetap, Red). Dan hal itu sudah dibuktikan dengan surat dokter. “Tapi ayah saya tetap dieksekusi pukul 23.00, meski sedang sakit,” kecamnya.

Adapun dalam putusan hakim Irhas dikenai pidana kurungan selama 1 tahun 6 bulan dan denda Rp 50 juta. Denda tersebut termasuk kewajiban mengembalikan uang Rp 64 juta yang dituduhkan sebagai tindak korupsi. “Kewajiban mengembalikan uang itu sudah dipenuhi, sekarang apa haknya terpenuhi,” sesalnya.

Upaya memindahkan Irhas ke Pekalongan ditempuh dengan beragam cara. Mulai menyurati kepala Lapas Wirogunan hingga Kementerian Hukum dan HAM. Jika bisa dipindah di Pekalongan, Agus berharap kondisi ayahnya lebih terurus. Karena lebih banyak anaknya yang bisa merawat. “Sampai titik darah penghabisan akan saya perjuangkan,” tegasnya.

Upaya itu pun membuahkan hasil. Sesuai rencana, hari ini Rabu (25/4) Irhas bisa dipindahkan ke Lapas Pekalongan. “Saya berjuang secara prosedural yang ada,” ujar Kapolsek terbaik Jawa Tengah 2015 itu.

Agus selalu tampak tegar setiap kali menceritakan usahanya dalam mengupayakan keadilan bagi ayahnya.

Tapi air matanya tidak terbendung saat Radar Jogja menanyakan tentang kisah ayahnya yang sedang tersangkut masalah hukum. “Banyak ajaran Bapak,” ucapnya terbata-bata.

Menurut Agus, ayahnya adalah seorang politikus tulen sejak partai Masyumi, PPP, hingga terakhir PAN. Irhas adalah sosok pemegang teguh integritas. Pria kelahiran 17 Agustus 1963 itu mengisahkan sewaktu zaman Rrde Baru, ayahnya pernah didatangi perwakilan Bupati Gunungkidul Darmakun yang saat itu merupakan rival politiknya. Bingkisan berupa roti yang dibawa ditolak oleh Irhas. “Padahal saat itu lima anaknya semua kelaparan, tapi Bapak berpegang teguh pada prinsipnya,” ujarnya berkaca-kaca.(yog/mg1)