MEMULAI usaha dengan modal dan kemampuan terbatas tak menjadi halangan bagi Misron dan Sri. Dengan modal cekak, keduanya lebih bertumpu pada ketekunan dan kerja keras. Buktinya, wader crispy dan kerupuk ikan tengiri karya mereka mampu menembus pasar nasional.

Sebelum mengawali usaha pada 2012, Misron bekerja di Batam sebagai teknisi mesin salah satu perusahaan Jepang. Dia tinggal di sana bersama anak dan istrinya. Setelah sekian lama, tebersit dalam benaknya untuk pulang kampung ke tempat asal sang istri di Kulonprogo. Singkat cerita, niat itu pun akhirnya terealisasi. Mereka lantas mengontrak sebuah rumah sederhana di Desa Karangsari, Pengasih.

Terdorong semangat untuk hidup mandiri, mulailah Misron, dibantu istrinya, mengawali usaha. Mereka bertekad tak ingin bergantung pada orang tua maupun orang lain.

Usaha pertamanya membuat wader crispy, yang sampai sekarang tetap menjadi produk andalan. Semula tak banyak yang diproduksi Misron dan istrinya. Makanan kecil itu lantas dititipkan di warung-warung kecil di sekitar Pengasih. “Tanpa modal banyak, hanya spontanitas. Uang yang didapat saya putar lagi untuk modal,” ungkap Misron kepada Radar Jogja. Selain dititipkan di warung-warung, Misron menjajakan wader crispy keliling kampung.

Niat mengembangkan usaha muncul ketika jumlah permintaan konsumen mulai meningkat. Misron lantas memberanikan diri datang ke Dinas Perdagangan Kulonprogo untuk mengasah ilmu dan mencari pendampingan usaha. Dari situ, Misron menambah produknya dengan membuat kerupuk ikan tengiri.

“Bisa dikatakan modal nekat, karena saya tidak punya skill dan kepepet. Awalnya saya sama sekali tidak tahu caranya,” ucap ayah dua anak ini.

Berkat bimbingan dan bantuan alat serta pelatihan dari Dinas Perdagangan Kulonprogo, usaha Misron terus berkembang. Bahkan, dinas perikanan serta dinas tenaga kerja dan transmigrasi setempat turut ambil bagian membimbing usaha itu. “Semula semua proses produksi kami kerjakan sendiri sampai lupa tidur hingga pagi,” kenangnya.

Ingin usahanya terus berkembang, Misron menambah jenis produknya. Tetap berbahan hasil laut, dibuatlah rengginang rasa udang dan terasi, amplang, rempeyek, dan keripik pegagan. Hingga saat ini tak kurang 16 jenis makanan olahan ikan diproduksinya.

Kini usaha keras Misron mulai berbuah manis. Berbagai produk camilannya berhasil menembus pasar ritel. Misron juga menjadi pemasok rutin toko-toko berjejaring, swalayan, dan kios oleh-oleh se-Jogjakarta.Bahkan produk camilan Misron telah “diekspor” ke kota-kota besar lain, seperti Solo, Semarang, hingga Bali.

Keberhasilan ekspansi pasar produk-produk Misron juga ditunjang dengan izin pangan industri rumah tangga (PIRT) dan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia. Untuk menjamin kualitas produknya, Misron juga rutin meminta petugas Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Jogjakarta hadir ke showroom-nya untuk mengecek produknya setiap saat. “Ramuan (resep, Red) juga tetap kami pertahankan supaya tetap enak. Kalau bisa lebih enak,” ujar pria 45 tahun itu.

Tingginya permintaan pasar tak lepas karena harga yang dibanderol untuk tiap produk Misron cukup terjangkau. Antara Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu per kemasan. Omzetnya kini mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Jerih payah Misron lambat laun berbanding lurus dengan kehidupan keluarganya. Dari mengontrak rumah sederhana, kini Misron mampu membeli tanah dan membangun rumah cukup megah. Proses produksi yang semula dikerjakan sendiri, kini ditangani depalan karyawan yang semuanya tak lain tetangga sekitar rumah Misron. “Saya masih punya ambisi untuk mengembangkan usaha dengan membangun tempat produksi khusus,” tuturnya.” Kami juga berharap bisa menambah anggota (tenaga kerja, Red) untuk meningkatkan produksi dan pengiriman ke mana-mana,” sambung Misron.

Wader crispy pedas dan kerupuk ikan olahan Misron cukup membuat Febriansyah, 26, kepincut. Warga Kota Jogja itu tertarik memborong sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman dekatnya. “Kebetulan saya sedang melancong di Kulonprogo. Nah, teman-teman dan keluarga pesan supaya dibawakan oleh-oleh khas, saya beli ini,” katanya sambil menunjukkan kemasan wader crispy. Bagi Febri, sapaannya, wader crispy pedas tak hanya membuat kepincut, tapi juga membikin ketagihan. (yog/mg1)