Kampanye cinta lingkungan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui ungkapan dalam nasihat orang Jawa sebagai kearifan lokal yang dipraktikkan di kehidupan sehari-hari di masyarakat. Misalnya dengan Gerakan Gemi Nastiti lan Ngati -Ati. Gemi berarti hemat. Nastiti maknanya teliti dan Ngati-ati yang artinya berhati-hati.

Gemi itu beda dengan pelit. Hemat itu berarti irit dan tidak boros menggunakan seenaknya uang, barang, listrik, air dan lainnya,” ujar Dewan Penasihat DPW Ikatan Pengkaji Lingkungan Hidup Indonesia (Inkalindo) DIY Bambang Praswanto di depan peserta Sosialisasi Gerakan Gemi Nastiti Lan Ngati-Ati di Kampung dan Desa se-DIY yang digelar Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY pada Jumat (27/4).

Peserta sosialisasi berasal dari berbagai pemangku kepentingan di Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta. Di antaranya pemilik rumah makan, catering, pengelola hotel, lembaga sosial kemasyarakatan dan lainnya.

Bambang menambahkan, nastiti berarti teliti, tidak gegabah dan dipikirkan berulang-ulang. Nastiti, sambung pria asal Surakarta ini berbeda dengan mengulur waktu. Sedangkan ngati-ati berarti bertindak hati-hati dan dilihat baik buruknya bagi diri sendiri, lingkungan dan masyarakat. “Ngati-ati berbeda dengan mencurigai,” lanjut dia.

Nasihat dalam ungkapan Jawa itu dinilai sejalan dengan prinsip-prinsip eko efisiensi. Menurut Bambang, eko efisiensi merupakan upaya menghasilkan produk barang dan jasa menggunakan sumber daya secara hemat. Dengan begitu diperoleh keuntungan ganda secara ekonomis dan efisien.

“Eko efisiensi memberikan paradigma baru tentang cara pandang memanfaatkan sumber daya dan limbah,” kata Bambang. Adapun tujuan eko efisiensi untuk mencegah, mengurangi atau menghilangkan limbah atau pencemar pada sumbernya. Eko efisiensi secara ekonomis menjadi hemat biaya, hemat sumber daya alam dan lingkungan dari sisi ekologis dan hemat sosial serta budaya.

Sedangkan mantan Kepala BLH DIY Harnowati yang juga tampil sebagai narasumber mengatakan, kecenderungan dewasa ini pertanian modern biaya produksinya mahal. Berdampak negatif terhadap kesehatan maupun keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan. “Harga jual yang tidak kompetitif dengan produk impor,” ucapnya.

Dengan prinsip eko efisiensi, maka biaya produksi menjadi lebih murah karena didukung sumber daya alam dan lingkungan yang baik secara ekonomi. Dalam kesempatan itu, Harnowati yang sekarang juga aktif di DPW Inkalindo DIY itu mengenalkan konsep lumbung Mataraman. Lewat konsep itu petani diajarkan secara cerdas memanfaatkan lahan sempit dengan cara menggunakan sistem multikultur yang efisien dan berkelanjutan. “Ajaran ini mendorong petani mengembangkan berbagai produk meski dengan lahan yang terbatas,” katanya.

Pembicara lainnya Setyo Indroprahasto dari UNY mengungkapkan kearifan lingkungan hidup dengan sentuhan budaya Jawa. Filosofi itu diajarkan Sultan Agung 1613-1645 dan diteruskan Sultan Hamengku Buwono I melalui konsep Hamemayu Hayuning Bawono. “Filosofi itu mengajarkan apapun yang kita lakukan dalam hidup ujung-ujungnya harus menjaga kelestarian dan keindahan alam semesta,” ujar dia.

Konsep eko efisiensi lahir dari keprihatinan terhadap kehidupan manusia yang ditandai makin rusaknya alam dan lingkungan. Dampaknya membahayakan sumber-sumber kehidupan manusia dan kemanusiaan pada umumnya. (kus/mg1)