Kiprahnya sebagai seorang seniman berawal di tahun 1970-an. Ketika itu dia bergabung bersama Arena Drama dan Tari (drata) di Imogiri. Dari situlah kemudian Totok yang kini berusia 67 tahun, kerap mengikuti festival ketoprak tingkat DIJ. Bahkan pernah mengisi siaran ketoprak di TVRI sejak tahun 1977.

“Di gereja juga sering membangkitkan semangat budaya yang dikemas dengan budaya Jawa seperti Pisungsung unduh-unduh dengan kegiatan Jawa,” ungkap Totok. Tak berhenti sampai di situ, lomba mocopat tingkat DIJ juga tak pernah ketinggalan. Setiap tahun, Totok dulunya hanya sebagai peserta. Tapi kini sudah menjadi penyelenggara.

Hal yang paling ditekankan dalam kiprahnya dalam seni adalah mengadakan pelatihan budaya ke masyarakat. Khususnya pranata dicara, yaitu melatih anak-anak agar tahu filosofi setiap budaya. “Kita ajarkan maksud dari setiap upacara filosofi Jawa. Supaya mereka tidak hanya tahu persis, tapi turun temurun ke anak cucu mereka,” tandasnya.

Menurutnya, seni merupakan panggilan jiwa. Dalam berkesenian, Totok selalu melakukan dengan kesungguhan hati, tanpa paksaan. “Orang tua saya dalang. Jadi saya melakukan sesuai kemampuan saya. Tidak bisa menjadi dalang, maka sekarang di ketoprak, dan pranata dicara manten,” jelasnya.

Selain dua kesenian itu, Totok begitu menguasai seni drama teater, macapat, geguritan dan menjadi vokalis campursari. Menurutnya, anak muda perlu sekali mempelajari seperti unggah-ungguh, karena mengandung makna yang sangat penting.

“Saya setiap diundang di desa atau di pedukuhan selalu menekankan dan menanamkan kepada anak muda. Bagaimana berbicara yang benar, bertata krama yang benar,” jelas bapak dua anak ini.

Diakui, memang susah untuk mengubah karakter. Terutama anak muda sekarang sudah di zaman gadget. Sehingga salah satu upayanya melestarikan budaya ke anak muda yaitu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. “Biar kekinian dan sesuai dengan mereka. Hal ini tentu harus dilakukan secara terus-menerus,” jelasnya.

Di antara semua seni yang pernah digelutinya, teater merupakan yang paling mengalir dalam dirinya. Tapi karena faktor usia, sekarang lebih banyak menggeluti ketoprak dan pembekalan tradisi. Penulis naskah, sutradara, dan melatih teater tak pernah ditinggalkannya.

“Karena talenta memang sudah di teater. Menari saya tidak bisa. Saya tidak memilih profesi yang lain, karena seniman sudah mendarah daging. Sedari kecil suka baca puisi, bernyanyi, dan tampil di depan umum,” tuturnya.

Di usianya yang tak lagi muda, ia sungguh tidak mengira dapat penghargaan dari Pemkab Bantul. Karena setiap apa yang diakukannya berasal dari jiwa. (laz/mg1)