PROPINSI Yunnan melahirkan tokoh muslim besar. Yakni, Panglima Cheng Ho. Dia dipercaya Kekaisaran Dinasti Ming, di bawah Kaisar Ch’eng-tsu, memimpin ekspedisi pelayaran dunia tujuh kali. Tujuannya, meyakinkan kerajaan-kerajaan di wilayah lautan selatan dan barat mengakui Kekaisaran Tiongkok. Dengan mengirimkan upeti dan utusan-utusannya ke Tiongkok. Dalam tujuh pelayaran itu enam kali armada Cheng Ho singgah di Pulau Jawa.

Bahari, Kunming

SAAT jam istirahat kerja Senin (26/9/2011) siang halaman Masjid Yi Xi Gong di Jalan Zhengyi Nomor 51 Kota Kunming, Propinsi Yunnan, Tiongkok, sangat ramai. Ratusan pegawai kantoran antre membeli makanan halal di halaman masjid dan lantai satu yang disulap menjadi kantin dadakan.

Tua-muda, perempuan-laki-laki semua ikut antre. Tak sedikit karyawan masih mengenakan jas lengkap dengan dasi. Yang perempuan pakai blus dan atasan resmi tak sungkan ikut antre membeli makanan. ‘’Setiap hari ya begini kalau pas jam istirahat kerja. Antre beli makanan. Semua makanan di sini halal,’’ kata Ayub, imam Masjid Yi Xi Gong, kepada penulis.

Cara antre juga unik. Pembeli tidak langsung membayar di kasir setelah mengambil makanan. Tapi, membeli kupon lebih dulu untuk kemudian ditukarkan dengan makanan yang dipilih. Puluhan orang, termasuk para perempuan berjilbab, melayani pembeli. Sedangkan para pria kebagian membersihkan sisa makanan dan mengambil piring kotor yang sudah terpakai.
Begitu mendapat makanan yang dipilih, pembeli bisa masuk lantai satu masjid dan memilih tempat duduk. Puluhan bangku berjejer. Satu meja ditempati lima sampai tujuh orang. Suasananya sangat ramai. Tak sedikit keluarga membawa serta anak mereka makan di kantin masjid.

Antrean pembeli meluber hingga ke warung dekat masjid. Ada yang makan di tempat, tak sedikit membungkus untuk dibawa pulang atau ke kantor.
Melihat penulis memotret orang antre makan, Ayub menawari makan. Dia lalu masuk kantin dan mengambil lauk pauk, serta nasi. Saat penulis menyodorkan uang, Ayub menolak. ‘’No..no,’ katanya.

Apa saja menu makanan halal hingga diserbu orang kantoran Kunming setiap hari? Ternyata olahan makanannya sederhana. Ada irisan daging merah, tahu dicampur kecambah, irisan bawang dan lombok, sayur buncis dipotong kecil-kecil, telur dadar goreng, dan beberapa sayuran khas Kunming. Masakan dipilah-pilah dalam wadah besar. Pembeli tinggal pilih dan tunjuk lauk dan sayuran yang diiinginkan. Sedangkan nasi di mangkok kecil. Di sini pembeli bisa mengambil sup gratis seperti layaknya bubur.

Untuk minum pembeli tinggal memilih di warung depan masjid. Penjualnya juga jamaah masjid . Ada es teh, es cao-gudir, atau cendol. Juga beberapa minuman lainnya. Harganya murah. Sekitar Rp 2.000 per gelas cukup besar.
Kompleks masjid berlantai lima yang menempati areal enam ribu meter persegi tak hanya dipakai untuk salat. Ada ruang perpustakaan di lantai dua, ruang mengaji anak-anak, perkantoran, dan ruang pertemuan. Sedangkan salat biasa menggunakan lantai dua dan lima.

Kompleks masjid tampak bersih. Begitu air wudu kran dibuka, wusss… Air mengalir kenceng. Dinginnya minta ampun. Maklum saat itu temperatur di Kunming sekitar 19 derajat Celsius.

Tak jauh dari kompleks masjid, tepatnya di seberang jalan, berdiri sekolah Islam berlantai tiga milik yayasan masjid. Membentuk huruf U. Lokasi sekolah cukup bersih dengan cat warna-warni. Terlihat beberapa mainan anak-anak.

Di situlah anak-anak warga muslim dan nonmuslim kota Kunming bersekolah. Baik tingkat dasar maupun menengah. ‘’Itu juga sekolah warga muslim,’’ aku Ayub yang punya nama asli Sai Guo Jian itu.

Masjid Yi Xi Gong menjadi pusat kegiatan dan dakwah umat muslim Kunming. Setiap Jumat masjid ini dipadati umat muslim Kota Kunming. Meski di kota ini ada beberapa masjid lebih kecil. Di antaranya, masjid di Jalan Hugoo dan di Jalan Chong You Jie. Tapi, Masjid Yi Xi Gong yang terbesar di Kunming.
Memasuki Ramadan masjid ini diramaikan kegiatan tarawih dan tadarusan. Serta pembagian zakat untuk kaum miskin. ‘’Kalau hari-hari biasa ya sepi,’ ujar Ayub.

Untuk merawat dan menjaga kebersihan masjid, pengurus mengandalkan donatur para jamaah. Serta bantuan pemerintah sebesar 600 ribu renminbi setiap bulan.

Sekitar pukul 13.30 waktu setempat terdengar kumandang azan Duhur. Beberapa orang berbusana muslim bergegas naik ke lantai dua masjid. Siang itu hanya ada sepuluh jamaah salat berjamaah. Umumnya berusia lanjut. Bahkan ada jamaah salat sambil duduk d kursi. Imamnya Abu Bakar, teman Ayub yang menjadi imam kedua jika Ayub berhalangan hadir.

Masjid paling besar dan megah di kota ini dibangun 1899. Lalu direnovasi pada 1997 hingga bentuknya seperti sekarang. Untuk saat ini jumlah umat muslim di Kota Kunming sekitar 100 ribu. Sedangkan umat muslim di Propinsi Yunnan berkisar 680 ribu orang.

Sejarah Islam di Kota Kunming dan Propinsi Yunnan sangat panjang. Adalah Sayyit Azall, gubernur pertama Propinsi Yunnan, yang juga seorang muslim. Dia memerintah pada 1274. Islam pun berkembang pesat ketika itu.

Sampai akhirnya Kaisar Mongol Kubilai Khan datang dan menyerang Propinsi Yunnan serta menghancurkan semua yang berbau Islam. Masjid, rumah, buku, perpustakaan, serta peninggalan Islam lainnya.

Propinsi Yunnan juga melahirkan seorang tokoh muslim besar. Yakni, Panglima Cheng Ho yang terkenal di Asia dan Indonesia karena pernah beberapa kali memimpin ekspedisi pelayaran besar-besaran ke Tanah Air. Dialah satu-satunya orang Islam pertama dari Propinsi Yunnan yang melakukan lawatan pelayaran ke Arab Saudi.

Cheng Ho nama aslinya Ma Ho. Lahir di ujung barat daya Danau Tien-chih di Propinsi Yunnan. Cheng Ho dilahirkan pada 1371 di Distrik Kunjang. Dia putra kedua Ma Hazhi (Haji Ma) yang beragama Islam. Dia punya seorang saudara laki-laki dan empat perempuan.

Ekspedisi Cheng Ho berturut-turut mulai 1405-1407, 1407-1409, 1409-1411, 1413-1415, 1417-1419, 1421-1422, dan 1431-1433. Karena prestasinya, Kaisar Ch’eng-tsu atau Yung Lo menunjuk Cheng Ho memimpin armada dan menjadi komandan enam kali ekspedisi antara 1405-1421.

Rute pelayarannya, antara lain: Champa, Malaka, Jawa, Samudra Pasai, Lambri (Banda Aceh), dan Palembang. Dalam tujuh pelayaran itu enam kali armada Cheng Ho singgah di Pulau Jawa.

Kembali ke sejarah Islam Kunming, setelah Islam dihancurkan pasukan Kaisar Kubilai Khan, sekitar 1863 warga muslim Kunming memindahkan syiar Islam ke wilayah Dali. Jaraknya sekitar lima jam dari Kunming. Pada 1873 Du Wen Xiu memproklamasikan Kerajaan Islam di Tiongkok Selatan. Du Wen Xiu yang akhirnya mengubah namanya menjadi Sulaeman merupakan pemimpin Islam pertama di Tiongkok yang menjadi raja. (yog/bersambung)