Beragam cara dilakukan anggota Korps Bhayangkara di DIJ menyambut hari jadi ke-72. Bagi Kapolres Sleman AKBP Muchamad Firman Lukmanul Hakim, HUT Bhayangkara harus bisa menjadi titik tolak peningkatan pelayanan prima.

“Tugas polisi bukan hanya penegakan hukum. Namun, sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,” tegasnya.

Karena itu, sejak menggawangi Polres Sleman, perwira menengah dengan dua melati ini mendorong setiap personelnya mengubah mindset dan culture set. Saat ini polisi harus bisa membangun kedekatan sosial dengan masyarakat. Termasuk menghapus kesan polisi sebagai sosok yang kaku dan berjarak.

“Sudah bukan eranya lagi polisi memiliki jarak dengan masyarakat. Itulah mengapa ditekankan tiga aspek sebagai sosok pelindung, pengayom, dan pelindung. Penegakan hukum sudah pasti, tapi nomor sekianlah,” ungkap Firman di sela ziarah di Taman Makam Pahlawan Dr Wahidin Soedirohusodo, Sleman (29/6).

Dalam upaya pelayanan prima, Polres Sleman melakukan beberapa terobosan. Salah satunya, memangkas syarat-syarat birokrasi. Terutama dalam pengurusan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) dan surat izin mengemudi (SIM). Pelayanan administrasi selesai satu hari. Tentu saja setelah pemohon memenuhi syarat-syarat sebelum mengajukan SKCK maupun SIM. Firman berharap, optimalisasi sistem birokrasi bisa meningkatkan kepuasan masyarakat atas kinerja Polres Sleman.

“Sesuai instruksi Kapolri harus menjadi polisi yang promoter. Menekankan kemampuan profesionalisme dalam memberikan pelayanan publik. Tidak perlu antre lama-lama, kalau syarat lengkap maka pelayanan satu hari bisa jadi,” ujarnya.

Polres Sleman, lanjut Firman, dipercaya menerapkan kebijakan satuan pelayanan administrasi (Satpas) SIM. Sistem ini akan mengadopsi pelayanan Satpas SIM di SIngapura. Berupa pelayanan terpadu dengan fasilitas yang lengkap.

Firman menargetkan Satpas SIM berjalan optimal tujuh bulan ke depan. Pelaksanaan Satpas SIM dilakukan di satu bangunan tiga lantai. Setiap lantainya memiliki memiliki sub pelayanan yang berbeda.

Lantai satu untuk pelayanan SIM roda empat, lantai dua administrasi SIM, dan lantai tiga untuk ujian SIM kendaran roda dua.

Polres Sleman juga membangun hubungan baik dengan masyarakat dan instansi pemerintahan maupun swasta. Juga TNI. Guna menjaga kondusivitas lingkungan. Firman menegaskan, kondusivitas lingkungan bukan hanya tugas kepolisian. Tapi seluruh masyarakat. Contohnya, penanganan arus mudik dan balik Lebaran yang melibatkan satgas lintas instansi. “Hasilnya, angka kecelakaan bisa turun 17 persen dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.

Beda wilayah, lain pula karakter kriminalitasnya. Di Bantul, polres setempat fokus penanganan kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Setidaknya, curanmor menjadi kasus yang paling menonjol dalam kurun setahun terakhir. Itulah yang menjadi perhatian utama Kapolres Bantul AKBP Sahat M. Hasibuan saat ini. Guna menekan angka curanmor, beberapa upaya telah dilakukan. Seperti Operasi Ketupat selama Lebaran lalu. Menurutnya, Operasi Ketupat bukan sekadar untuk mengurai kemacetan. Tapi lebih untuk mengantisipasi tindak kriminalitas.

“Tindak curanmor terbanyak di wilayah perbatasan dengan Kota Jogja. Seperti di Kecamatan Kasihan dan Sewon,” ungkap Sahat.
Patroli bersama anggota TNI menjadi kegiatan rutin yang digalakkan Sahat demi menjaga Bumi Projotamansari.

Sementara di Kota Jogja, kejahatan penganiayaan berat (anirat) dan klithih masih menjadi momok nomor satu masyarakat. Polresta Jogja berupaya menindak pelaku secara represif sebagai langkah hukum.

Kapolresta Jogja AKBP Armaini mengaku telah melakukan berbagai upaya preventif untuk mencegah klithih. Salah satunya melalui profiling. Namun, diakuinya, kasus serupa yang melibatkan pelaku remaja masih kerap muncul. Bahkan, selama dua bulan menjabat kapolresta menggantikan Kombes Pol Tommy Wibisono, Armaini telah dihadapkan pada empat kejahatan klithih. Semuanya telah terungkap. Para pelaku juga telah ditetapkan sebagai tersangka.

Armaini mengatakan, para pelaku klithih rata-rata memiliki permasalahan dalam rumah tangga. Mereka kurang mendapatkan bimbingan secara maksimal di dalam lingkungan keluarga.

Dari hasil profiling diperoleh informasi bahwa para pelaku cenderung kurang mendapat bimbingan keluarga, sehingga kerap membuat onar di sekolah. Berdasarkan rekam jejak pelaku klithih, rata-rata adalah pelajar yang pernah bermasalah di sekolah. Mereka juga kerap berpindah-pindah sekolah.
“Ada yang ikutan geng sekolah, dan sudah mengenal rokok, miras, dan bertato,” ungkapnya.

Hasil profiling nantinya akan dijadikan dasar bagaimana aparat kepolisian melakukan tindakan preventif yang bersifat pembinaan. “Sudah kami rancang. Tunggu nanti awal pendidikan sekolah,” katanya.

Orang tua siswa akan menjadi target penyuluhan aparat. Ini bukan tanpa alasan. Melihat kasus klithih yang kerap terjadi dini hari. Menurut Armaini, hal itu jelas terjadi pembiaran dari orang tua.”Anak-anak keluyuran jam dua pagi itu ketidaknormalan. Ada pembiaran,” tegasnya.

Sementara itu, menyambut HUT Bhayangkara 2018 Kapolres Kulonprogo AKBP Anggara Nasution masih dihadapkan persoalan warga penolak New Yogyakarta International Airport (NYIA) di wilayah Kecamatan Temon. Pengamanan dan pengawalan proyek strategis nasional itu menjadi target utamanya. Sedangkan Kapolres Gunungkidul AKBP Ahmad Fuady berharap, kinerja Polri ke depan semakin profesional, modern, dan terpercaya bagi masyarakat. (dwi/bhn/ega/tom/gun/yog/mg1)