Suasana pasar burung dan bunga Old Kunming Street berlokasi di Jalan Guang Hua, Kunming, Selasa (27/9/2011) sangat ramai.

Meski namanya pasar burung dan bunga, dagangan paling ramai diperjualbelikan warga justru benda-benda antik. Ada guci, teko kuno, lampu, gelang kuno, hingga mata uang Tiongkok kuno. Mulai kecil sampai model kepengan, batu akik, batu-batu langka, patung antik, lampu kuno, serta benda-benda peninggalan kerajaan sampai berbagai asbak kuno bergambar pemimpin tertinggi komunis Tiongkok, Mao Zedong, dalam berbagai pose pun dijual di sini.

Penjual barang antik menyebar di antara pedagang burung dan bunga. Jadi, yang hobi memburu benda kuno dan antik, Old Kunming Street surganya. Berbagai benda antik bisa didapat di sini. Termasuk benda peninggalan Kerajaan Tiongkok. Makanya, banyak turis asing suka mendatangi tempat ini.
Old Kunming Street jujukan turis mancanegara dan domestik. Hotel dan pengelola travel selalu menyarankan turis berkunjung ke tempat ini. ”Kalau jalan-jalan di Kunming saya sarankan ke pasar burung dan bunga,” kata Chen, pengelola travel di Kota Kunming. Dan, ternyata betul banyak hal menarik ditemukan di sini.

Selain pedagang benda antik, berbagai burung dan binatang juga dijual di pasar sini. Mulai gelatik, gereja, parkit, emprit yang diwarnai, belibis, dan berbagai burung khas Tiongkok yang tidak dijumpai di tempat lain.

Hampir semua binatang juga dijual di sini. Ada musang, ular, kalajengking, kelinci, bunglon, iquana, tokek, anakan babi, landak, kutu busuk, sampai bekicot pun dijual di pasar ini. Berbagai anjing pudel, lambrador, dalmation, dan anjing mini lainnya juga tersedia. Anjing-anjing lucu itu dimandikan, didadani, bahkan disisir segala hingga bulunya tampak berkembang. Benar-benar lucu. Tapi, sebagaian pedagang menolak anjingnya difoto. Sambil mengibas-ibaskan tangannya tanda menolak.

Cara menjual anjing pun beragam. Ada penjual menaruh anjing-anjing kecil dalam kotak besar. Ada juga yang memajang anjing layaknya barang dagangnya di jalan. Ada pula yang mengikatnya di tiang.

Sebagaian pengunjung yang datang di pasar burung dan bunga tidak benar-benar belanja. Mereka hanya melihat-lihat. Atau sekadar cuci mata setelah puas duduk di taman nan rindang sambil mengobrol dengan rekannya. Namun, ada juga yang serius berbelanja. Kota Kunming berada di ketinggian 1892 meter di atas permukaan laut. Hawa udaranya cukup sejuk. Sekitar 15 sampai 20 derajat Celsius.

Pasar bunga dan burung tak hanya dijumpai di Jalan Guang Hua, tapi meluas sampai di sebelahnya, yakni Jalan Jing King Sreet.

Meski namanya Old Kunming Street, tak banyak bangunan kuno bisa dijumpai. Hanya beberapa yang dibiarkan mangkrak. Seperti, rumah kuno disebut Ju Renking, atau beberapa ruko kuno. Keberadaan bangunan-bangunan kuno itu terjepit gedung-gedung baru yang menjualng tinggi.

Untuk mengetahui sejarah Kunming dan Propinsi Yunnan tempo dulu, pengujung bisa datang ke Yunnan Provincial Museum. Letaknya sepelemparan batu dari pasar burung dan bunga. Tak dipungut biaya alias gratis.
Museum berlantai empat ini terawat apik. Pengujung bisa menyaksikan perjalanan Propinsi Yunnan. Mulai zaman kekaisaran Tiongkok sampai sekarang.

Beragam benda bersejarah ditampilkan. Mulai patung, senjata, dan benda-benda purbakala yang ditemukan di Propinsi Yunnan. Juga gambar rumah asli warga Yunnan, peralatan pertanian tempo dulu, serta berbagai hasil dan benda kerajinan.

Termasuk senjata dan alat-alat perang yang biasa digunakan warga Yunnan untuk mempertahankan wilayah dari serangan musuh. Ada tombak, kapak, panah, parang, dan senjata lainnya. Juga dipamerkan dalam bingkai foto besar berbagai adat-istiadat warga Yunnan. Mulai menenun kain, memasak, mengelola lahan pertanian, sampai berbagai pesta adat.

Eloknya Jalan Zhengzy Berhias Lampion
Jalan Zhengzy adalah salah satu pusat pertokoan di jantung Kota Kunming. Suasana Selasa (27/9/2011) siang itu cukup ramai. Jalan dua jalur cukup lebar dan dipenuhi pohon besar di kiri kanan membuat kawasan itu sangat rindang. Apalagi daun dan batang pohon saling bertemu di atasnya.

Batang pohon cukup besar dililiti aneka lampu kecil dan belasan lampion. Sedangkan di kiri dan kanan jalan berjejer puluhan toko aneka pakaian dan askesori perempuan dengan trotoar cukup lebar.

Bisa dibayangkan bagaimana indahnya malam hari kawasan ini dengan kerlap-kerlip lampu warna-warni dan pohon hidup.

Hanya pejalan kaki boleh melintas di kawasan ini. Sepanjang hari ratusan hingga ribuan pengunjung hilir mudik di jalan ini membeli aneka pakaian.
Jika lelah atau ingin menikmati pemandangan, di kawasan itu tersedia berbagai bangku tempat istirahat. Kalau haus ada beberapa kios kecil di tengah jalan yang menjual aneka minuman.

Jika masuk Duhur sekitar pukul 13.30 waktu setempat, warga muslim yang kebetulan berbelanja di kawasan itu bisa salat di Masjid Nan Cheng. Lokasinya di kawasan Jalan Zhengzy, menjorok sekitar 10 meter. Masjidnya bersih dan besar. Penulis sempat mampir di masjid itu. Hanya, ketika itu kesulitan wawancara dengan imam, takmir, atau jamaah masjid, karena mereka umumnya tidak bisa bahasa Inggris.

Masjid ini juga jadi jujukan warga muslim Tiongkok di luar Kunming yang kebetulan sedang berekreasi. Tampak puluhan jamaah umumnya dari luar Kunming melakukan salat berjamaah. Banyak juga jamaah perempuan yang mengenakan jilbab ikut salat berjamaah.

Saat jam makan siang pukul 12.00, kawasan masjid sangat ramai oleh orang kantoran, pegawai toko, maupun orang sedang berbelanja. Mereka antre membeli makanan halal muslim dengan harga terjangkau. Menunya beragam, ada sayur buncis, ikan, irisan bawang, ayam, daging sapi, dan sayuaran lainnya.
Suasana Kunming kian meriah menjelang hari perayaan kemerdekaan nasional Tiongkok pada 1 Oktober. Sepertinya halnya menjelang perayaan kemedekaan 17 Agustus di Indonesia.

Dari catatan sejarah, setelah Perang Dunia II terjadi perang saudara antara Partai Komunis Tiongkok dan Kuomintang yang berakhir pada 1949. Pihak komunis menguasai Tiongkok Daratan. Sedangkan Kuomintang menguasai Taiwan dan beberapa pulau-pulau lepas pantai di Fujian. Lalu pada 1 Oktober 1949 Mao Zedong memproklamasikan Republik Rakyat Tiongkok dan mendirikan sebuah negara komunis.

Di Kunming banyak toko menggelar diskon. Dari 5 persen sampai 70 persen. Tak heran hampir semua pusat pertokoan di Kunming selalu dipadati pengujung. Penulis dan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos, sempat blusukan dari satu toko ke toko lainnya di Kunming.

Di mana satu mal dengan mal lain saling menyambung. Satu toko dengan pertokoan lain terhubung. Meski begitu setiap toko selalu padat pengunjung yang menenteng tas penuh barang belanjaan. Sebaliknya, toko dan mal yang menyediakan pakaian dan barang bermerek berharga mahal tampak sepi pengujung. Tak heran setiap ada pengujung yang masuk, pramuniaga yang standby di depan tokonya berusaha mengajak masuk seraya memanggil-manggil pengujung.

Tapi, di depan mal atau plaza menjual barang bermerk yang membuat counter khusus menjual barang yang didiskon justru dipadati pengunjung. Seperti di mal kelas atas Gingko. Puluhan pengujung tampak berjubel di stan sepatu yang sudah didiskon itu. Ini tak ubahnya pemandangan di Indonesia. Di mana ada barang merek yang didiskon selalu dijubeli pengujung.

Begitu juga banyak toko yang menuliskan jumlah diskonnya selalu padat pengunjung. Terutama toko menjual aneka sepatu hak tinggi yang diminati perempuan Tiongkok. Tak heran setiap stand toko sepatu selalu dipadati kaum hawa.

Tak sedikit toko khusus menjual barang kebutuhan khusus perempuan. Pengujung perempuan begitu dimanjakan. Tapi, tidak semua pengunjung membeli, sebagaian hanya melihat-lihat lau pergi. Sebaliknya, terlihat ada satu perempuan menenteng beberapa atas.

Cukup jalan kaki beberapa puluhan meter dari Jalan Zhengzy sampai pusat Kota Kunming. Lapangan atau semacam alun-alun di Kunming sangat luas. Letaknya di perempatan Jalan West Dongfeng dan Jalan Namping. Di kiri dan kanan lapangan dikeliling pertokoan, hotel, dan gedung-gedung pusat perbelanjaan yang menjulang tinggi.

Ribuan manusia setiap menit hilir mudik di kawasan ini seakan tiada terhenti. Baik habis berbelanja maupun datang untuk bersantai. Warga bisa duduk santai di ratusan deretan bangku beton sekitar lapangan.

Pusat perbelanjaan di Kota Kunming menyebar. Hampir di setiap jalan, atau lokasi ditemukan deretan pertokoan, mal dan pusat perbelanjaan. Jadi, warga tidak harus ke pusat kota. Tapi, cukup ke mal atau toko terdekat. Ketersediaan barang hampir sama.

Efek lain menjelang hari perayaan nasional Tiongkok, banyak warga pulang kampung layaknya Lebaran di Indonesia. Makanya, cari tiket bus dan kereta api sedikit lebih sulit akhir-akhir itu. ”Kalau bisa dapat tiket kereta api dalam waktu singkat sudah bersyukur,” kata Chen, pengelola travel di kota Kun Ming. (yog/bersambung)