DARI Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan, Tiongkok, menuju Lhasa, ibu kota Tibet lebih dulu transit di Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan. Jaraknya cukup jauh. Naik kereta api cepat butuh waktu tiga hari. Atau sekitar 63 jam lamanya. Dari Kunming ke Chengdu 19 jam. Transit beberapa jam baru disambung Chengdu ke Lhasa. Tibet berjarak 3.348 kilometer yang ditempuh kereta cepat selama 44 jam. Padahal, rata rata kecepatan kereta api yang penulis naiki 120 – 140 Km/jam seperti tertera dalam gerbong. Ini rekor terlama naik kereta atau bus selama melakukan perjalanan haji darat.

Stasiun Kunming begitu megah layaknya bandara sangat ramai Rabu (28/9/2011) sore itu. Ribuan warga RRT tumplek blek di stasiun. Sudah menjadi tradisi Tiongkok menjelang libur panjang perayaan kemerdekaan nasional 1 Oktober, rakyat berbondong pulang kampung. Suasananya mirip arus mudik menjelang Lebaran di Indonesia.

Begitu masuk stasiun bawaan penumpang wajib masuk mesin scanner layaknya di bandara. Tas saya lolos. Tapi, tas bawaan fotografer Jawa Pos Hendra Eka tersendat.

Petugas perempuan paro baya yang memeriksa tas tadi berteriak-teriak pada rekannya agar memeriksa tas Hendra. Tapi, petugas yuniornya celingukan, tak paham intruksi seniornya. Dia pun bertanya seniornya tadi. Barang apa yang mencurigakan. ‘’Buka semua,’’ katanya.

Akhirnya, barang dalam tas Hendra dikeluarkan semua. Yang dicurigai ternyata odol, sampo, dan sabun mandi cair. Setelah barang itu dikeluarkan mesin scanner tak berbunyi. Lolos.

Di ruang tunggu penumpang sudah antre satu hingga dua jam sebelum kereta berangkat. Baru setengah jam menjelang keberangkatan penumpang baru diperbolehkan masuk stasiun.

Antrean tertib. Satu per satu penumpang diperiksa. Lalu turun ke lantai paling bawah tempat gerbong berada.

Setiap gerbong dijaga petugas perempuan. Sebelum masuk, karcis diperiksa. Baru setelah itu penumpang boleh masuk. Kereta ke Chengdu membawa 17 rangkaian gerbong berangkat pukul 16.16 sesuai jadwal.

Gerbong kereta api ada dua jenis. Sebagaian gerbong tempat duduknya saling berhadapan. Sedangkan lima gerbong model tempat tidur susun.
Satu gerbong berisi sebelas kamar tidur. Masing-masing kamar terdiri dua tempat tidur susun tiga. Dengan demikian satu gerbong terdiri atas 66 penumpang.

Bagi penumpang yang dapat tempat tidur paling bawah lumayan enak. Tapi, bagi penumpang yang dapat tempat tidur tingkat dua atau tiga kurang nyaman. Apalagi penumpang berumur.

Selain naiknya susah, ketinggiannya juga pas-pasan. Untuk setengah duduk saja sudah membentur atap tempat tidur. Benar-benar tidak nyaman.

Karena itu, penumpang yang kebagian tempat tidur tingkat dua dan tiga umumnya lebih suka duduk-duduk di kursi di gang kereta. Selain lebih nyaman juga bisa menikmati pemandangan lewat jendela kereta. Setelah benar-benar mengantuk baru naik ke ranjang tingkat.

Malam itu kereta bener-benar ramai. Untuk mengisi waktu luang, sebagaian penumpang main kartu remi, membaca, atau duduk di gang kereta. Sedangkan penumpang anak muda umumnya asyik bermain handphone, game, atau laptop. Sebagaian penumpang tua-tua mengobrol ngalor-ngidul.

Kegiatan lain, penumpang makan malam dengan mi kemasan. Kebetulan di kereta menyediakan air panas tak terbatas. Hingga penumpang tinggal putar kran air panas. Warga Tiongkok umumnya suka teh. Hampir semua penumpang bawa mug berisi teh lalu dituangi air panas. Selain itu, kereta juga dilengkapi wastafel untuk mencuci buah dan barang penumpang.

Saya dan Hendra Eka kebetulan satu ruangan dengan anak-anak muda. Dua perempuan, dua laki-laki. Meski sama-sama dari Tiongkok, mereka tak saling bicara. Dua pria terlihat asyik main handphone, satu perempuan asyik menyulam, sedangkan seorang lainnya langsung tidur di tingkat dua.

Saya perhatikan mereka tidak saling sapa, atau berbicara. Mulai naik dari Stasiun Kunming sampai turun di Stasiun Chengdu selama 19 jam lebih. Sebaliknya, saya lihat para orang tua sepanjang malam selalu mengobrol meski baru berkenalan di kereta.

Kebetulan para orang tua ini dapat tempat tidur di tingkat tiga. Jadinya, mereka lebih suka mengobrol di bawah. Sedangkan tempat tidur di bawah umumnya diisi anak-anak muda. Meski para orang tua ini krengkalan saat naik ke tempat tidur tingkat tiga, anak-anak muda tetap asyik main handphone.

Saat saya keliling dari gerbong dari depan ke belakang, suasananya sama. Padat. Karena jalan gang kerena sempit, kalau ada penumpang lewat, penumpang lainya harus merapat ke dinding kereta. Atau masuk ke kamar penumpang karena memang tak berpintu.

Sekitar pukul 20.00 ada pengumuman lewat pengeras suara. Belakangan saya tahu petugas minta penumpang kembali ke tempatnya. Tak lama serombongan polisi memeriksa kartu indentitas penumpang satu per satu. Lalu dimasukkan ke mesin pemindai kecil. Tujuannya, mengecek keaslian kartu indentitas tadi. Bagi penumpang asing diperiksa paspornya. ‘’Indonesia…,’’ eja petugas tadi saat melihat paspor Hendra. Setelah itu paspor dikembalikan. Saya tidak diperiksa karena sama-sama dari Indonesia.

Yang membuat saya kagum, kerja keras petugas kereta api perempuan. Selain disiplin, tegas, juga rajin. Masing-masing kereta dijaga satu petugas. Saya perhatikan petugas yang menjaga gerbong nomor 6 yang saya tumpangi sangat rajin.Selain kerap menyapu, juga membersihkan kotoran.Dia juga keliling ke masing-masing tempat tidur penumpang untuk mengambil sampah.

Menuangkan dalam tas kresek besar lalu mengangkutnya ke tempat sambungan kereta.

Petugas tadi juga kerap membersihkan WC yang oleh penumpang saat buang air besar tak disiram. Semua itu dilakukan tanpa mengeluh. Tanpa rasa jijik. Begitu kereta akan sampai di stasiun berikutnya, petugas tadi sudah ganti seragam biru gelap lengkap dengan topi dan berdiri di depan pintu. Dia bersiap membuka pintu gerbong.

Setelah pintu terbuka, petugas tadi berjaga di luar. Kalau kereta berhentinya cepat, penumpang dilarang keluar. Setelah penumpang masuk, petugas mengecek lalu mengganti tiket dengan kartu. Saat penumpang akan turun kartu ditukar tiket lagi.

Pukul 21.30 kelambu jendela ditutup. Setengah jam kemudian lampu dimatikan petugas tadi. Penumpang diminta tidur. Tapi, masih ada satu dua penumpang main handphone atau mengobrol di gang kereta.

Saat umumnya penumpang tidur, petugas tadi saya perhatikan masih sibuk. Selain membersihkan ruang gerbong, mengecek WC, wastafel, juga mengecek penumpang dari satu kamar ke kamar lain dengan lampu senter.

Meski ada ruangan tersendiri dekat sambungan kereta, petugas tadi jarang memasukinya. Kecuali kalau ada yang perlu dicatat untuk dilaporkan ke atasannya. Selebihnya, banyak berkeliling gerbong mengecek penumpang.
Saat bangun sekitar pukul 02.00 dini hari, petugas tadi duduk di kursi gang jalan kereta sambil memandang keluar jendela, meski suasananya gelap. Ternyata, petugas tadi semalam tidak tidur dan terus berjaga. Karena kereta juga berhenti tengah malam di beberapa stasiun tidak begitu besar. Dia pun harus standby.

Keesokan harinya pukul 07.00 matahari baru muncul. Lampu penumpang sudah dinyalakan. Petugas tadi sudah rapi dengan setelan baju mirip safari warna biru gelap. Tak sedikit pun terpancar di wajahnya rasa mengantuk atau lelah. Benar-benar luar biasa pengabdian petugas tadi. Petugas tadi baru diganti sesampai di Stasiun Chengdu

Sementara dari Kunming berada di ketinggian 1.829 meter di atas permukaan laut menuju Chengdu berketinggian sekitar 500 meter pemadangannya cukup eksotis.

Tak sedikit air terjun mengalir di celah-celah gunung kapur dan gunung batu di sepanjang jalan dilalui rel kereta api. Juga banyak industri di dekat sungai. Tampak beberapa cerobong pabrik mengeluarkan asap.

Karena medannya bergunung-gunung, entah sudah berapa puluh kali kereta masuk terowongan. Begitu megahnya terowongan. Ada yang panjangnya puluhan meter. Bahkan ada yang sampai hampir satu kilometer. Betapa pemerintah Tiongkok begitu bekerja keras membuat terowongan tersebut.
Di kiri dan kanan rel yang dilalui kereta berupa hutan belantara. Diselingi tanaman jagung dan padi. Juga tanaman pegunungan lainnya. Seperti kol dan sayuran. Kereta sampai di Stasiun Chengdu sekitar pukul 12.00 waktu setempat.
Sedangkan kereta api yang akan penulis tumpangi dari Chengdu ke Lhasa, Tibet berangkat pukul 21.00 Kamis (29/9). Masih ada sekitar delapan jam lagi.

Penulis dan Hendra pun berkeliling Kota Chengdu mencari komunitas muslim atau masjid. Tapi, hanya ketemu restoran Islam. Tapi, semua pengunjung maupun pelayan tidak ada yang bisa bahasa Inggris. Jadinya kami kesulitan mencari masjid atau komunitas muslim di Chengdu. Akhirnya, kami jalan di Tianfu Square, atau Alun-Alun Kota Chengdu, melihat meriahnya persiapan perayaan Hari Kemerdekaan Tiongkok. (yog/bersambung)