Selama 44 jam naik kereta api dari Chengdu ke Lhasa, Tibet, penumpang disuguhi panorama memesona. Mulai hutan belantara, gunung kampur nan tandus, danau, dan sabana atau padang rumput dengan ribuan, bahkan jutaan hewan peliharaan. Tundra atau sabana yang dipenuhi es, dan lembah, serta ngarai khas Tibet.

Seperti halnya Stasiun Kunming, Stasiun Chengdo tak kalah besarnya. Bahkan mungkin lebih besar. Penumpang berbagai tujuan Kamis (29/9/2011) malam itu membeludak.

Karena kereta umumnya berangkat tepat waktu, maka penumpang memilih datang satu jam lebih awal sebelum kereta berangkat.

Kereta api jurusan Lhasa, ibu kota Tibet, yang penulis tumpangi berangkat pukul 21.00 membawa 15 rangkaian gerbong. Empat gerbong dengan tempat duduk tidur. Sebelas gerbong duduk saling berhadapan.

Kali ini saya dan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos, dapat gerbong nomor 13. Modelnya tidur. Satu kamar bersama seorang penumpang tentara Tiongkok, dua penumpang bapak anak yang ikut rombongan tur ke Tibet, dan seorang penumpang pria.

Penumpang bapak-anak itu seorang kontraktor bernama Yio Zhiu Wang ,40. Anaknya Yohan Wang, warga Chengdu. Selain ramah mereka juga bisa bahasa Inggris. Jadinya, saya dan Hendra bisa mengobrol selama perjalanan.

Sementara suasana gerbong tidur yang hanya empat rangkaian tampak sepi. Hanya satu dua penumpang malam itu duduk di gang kereta. Selebihnya rebahan di tempat tidurnya atau merokok di sambungan kereta.

Untuk penumpang tujuan Lhasa, Tibet, yang daerahnya sedikit bergejolak penumpang warga Tiongkok diharuskan mengisi formulir. Sedangkan turis asing harus mendapat semacam izin masuk dari Pemerintah Tibet.

‘’Tibet hanya bebas dimasuki orang saat Agustus. Ketika itu turis pun tidak perlu izin, Tapi, di luar Agustus harus ada izin,’’ kata Chen, pengelola travel di Kunming, Yunnan.

Saya pun mengelilingi gerbong. Ternyata gerbong 12 yang berbatasan langsung dengan gerbong 11 berisi penumpang duduk saling berhadapan dikunci petugas.
Makanya, tidak ada penumpang model kursi tidur bisa keluyuran ke gerbong penumpang kursi duduk saling berhadapan. Begitu pula sebaliknya. Makanya, penumpang di gerbong tidur sepi. Tidak banyak yang mondar- mandir seperti saat saya naik kereta sebelumnya dari Kunming ke Chengdu.

Sedangkan saat ke gerbong 15 separo gerbong ditutupi kelambu. Saya tidak tahu penyebabnya. Tampak sedikit kotor. Meski tidak ada kereta makan, ada tiga petugas bolak-balik menawarkan makanan, buah, dan minuman kepada penumpang.

Kali ini, seorang petugas menjaga empat gerbong tidur. Selain mengecek tiket yang ditukar kartu, petugas tadi juga balok-balik mengecek nama-nama setiap penumpang dalam kamar. Saat penumpang tertelap, saya lihat petugas tadi juga keliling gerbong menggunakan lampu senter.

Hari Jumat (30/9/2011) pukul 08.30 sampai di Stasiun Bao Ji untuk menurunkan penumpang dan seperti ganti arah mengelilingi bukit. Inilah kawasan reservoir air yang berupa lembah dan hutan belantara hijau.

Pemandangan di sini sangat indah. Hutan, gunung, sungai, tebing silih berganti. Entah sudah berapa kali kereta masuk terowongan yang sepertinya sambung-menyambung membelah gunung batu dan bukit terjal. Juga tampak beberapa pekerja memperbaiki tebing-tebing. Terlihat juga juga bantalan beton kereta api yang diletakan dekat rel kereta api. Mungkin ada perbaikian rel.

Kereta melintasi beberapa stasiun kecil dan tidak berhenti. Seperti di Stasiun Cha Yo, Wu Shan, Ha Seng Phing, dan Wang Ji Wan. Sepanjang perjalanan banyak lembah yang ditanami jagung.

Saat mamasuki Stasiun Xi Xuan Jiang, vegetasi atau jenis tumbuhan mulai berubah. Dari hutan tropis ke jenis sub gurun. Setelah Stasiun Lha Zhou yang merupakan stasiun cukup besar pemandangan mulai berubah ke gurun.

Terhampar gunung batu kering dan gersang layaknya pemandangan di gurun. Di sana sini terlihat gunung batu. Tapi, di sela-sela gunung batu tadi ada hamparan ditumbuhi jagung yang tidak banyak membutuhkan banyak air. Di kawasan ini juga banyak pabrik batu bata dan kerikil karena persediaan bahan baku cukup banyak di sekitarnya.

Sekitar pukul 17.00 kereta api mulai mamasuki Kota Xining yang berada di ketinggian 2.220 meter di atas permukaan laut. Menjelang masuk kota terlihat beberapa masjid berdiri tegak. Bahkan sampai di puncak bukit pun ada. Juga banyak warga muslim mengenakan kopiah haji berlalu lalang di jalan kota ini.
Memasuki Stasiun Xining terlihat taman sepanjang rel. Umumnya terawat bagus. Banyak warga terlihat menghabiskan sore hari di taman ini.

Kereta terus menanjak. Inilah rel kereta api tertinggi di dunia yang dibangun Pemerintah Tiongkok sampai ke Dataran Tinggi Lhasa, Tibet. Bisa dibayangkan bagaimana Pemerintah Tiongkok bekerja keras membangun rel kereta api panjangnya ribuan kilometer dengan suhu udara dibawah minus dan medan yang tidak bersahabat.

Rata-rata rel kereta api yang melintas ke Lhasa dibangun dengan tinggi sekitar 10 meter dari tanah sekitarnya. Ini untuk menghindari genangan banjir atau salju yang mencair. Belum lagi jembatan yang melintasi sungai dan terowongan.
Selain itu, jalan raya yang menghubungkan ke Lhasa, Tibet juga sangat mulus. Itu terlihat dari kereta api. Karena jaringan rel kereta api dibangun tak jauh dari jalan raya.

Kembali ke lembah sabana atau padang rumput tampak ribuan kambing, sapi, dan kuda begitu menikmati memakan rumput yang terhampar luas. Tak jauh dari situ ada danau besar. Pemandangan di danau begitu cantik saat menjelang matahari tenggelam. Benar-benar eksotis. Bahkan saat melintasi Stasiun Ong Ha Hiu terlihat salju abadi di puncak Pegunungan Himalaya.

Sekitar pukul 03.00 dini hari, saat kereta berhenti di Stasiun Xerme, ada kegaduhan. Tiga penumpang baru menaruh tas-tas besar mereka di kamar gerbong yang saya tempati. Seisi kamar bangun. Setelah dilihat tiketnya ternyata salah kamar.

Sabtu (1/9/2011) pukul 07.00, saat kereta memasuki wilayah Silabong yang berada di ketinggian 4.870 meter di atas permukaan laut, terhampar salju dimana-mana. Baik di bukit, gunung, hamparan sabana, maupun jalan, dan rel yang dilalui kereta api. Semua pemandangan terlihat putih salju. Benar-benar elok.

Penumpang yang umumnya baru bangun langsung mengambil kamera. Mereka berbaris berdiri di samping kaca kereta. Sambil mengarahkan kameranya ke salju.

Jeprat-jepret. Apalagi, di sela-sela sabana yang berubah jadi tundra atau padang salju terlihat beberapa hewan peliharaan semacam gabungan sapi dan banteng. ‘’Wow..benar-benar indah,’’ gumam para penumpang.

Sapi Tibet mirip banteng. Badannya sedikit kecil dari sapi umumnya, tapi berbulu lebat. Dengan tanduk rata-rata panjang. Di sini dikenal dengan sebutan yak.

Hamparan salju yang berada di pegunungan Himalaya itu sangat luas, mencapai puluhan bahkan ratusan kilometer panjangnya. Mulai kawasan Silabong, Stasiun Bo Qiang, Stasiun Cho Hu Na, Stasiun Na Qu yang berada di ketinggian 4.513 meter di atas permukaan laut sampai Stasiun Wu Min Tau yang berada di ketinggian 4502 meter.

Di lembah, sabana, dan tundra yang sebagian tertutupi salju tadi ribuan bahkan jutaan sapi, kambing, dan kuda merumput. Mereka tampak kecil seperti noktah dari kejauhan. Apalagi, sapi yang merumput di atas bukit.

Seperti diketahui, Dataran Tinggi Tibet di sebelah selatan berbatasan dengan Pegunungan Himalaya dan sebelah utara dengan Gurun Taklamakan.
Dataran Tinggi Tibet juga dikenal sebagai Dataran Tinggi Qinghai-Tibet (Qingzang). Merupakan dataran tinggi terluas di wilayah Asia Timur. Meliputi sebagian besar Daerah Otonomi Tibet dan Provinsi Qinghai di Republik Rakyat Tiongkok. Serta Provinsi Ladakh di Kashmir. Dataran tinggi ini luasnya mencapai 2,5 juta kilometer persegi (1.000 kali 2.500 kilometer), dengan ketinggian rata-rata 4.500 di atas permukaan laut.

Sebagai dataran tinggi terbesar tertinggi di dunia, kawasan Dataran Tinggi Tibet mendapat julukan atap dunia. Sebagai perbandingan, luas dataran tinggi ini kira-kira sama besarnya dengan 4 kali luas negara bagian Texas atau Prancis.
Dataran Tinggi Tibet dikelilingi barisan pegunungan yang sangat tinggi. Di bagian barat laut terdapat Pegunungan Kunlun yang memisahkan Dataran Tinggi Tibet dengan Cekungan Tarim. Sedangkan di bagian timur laut terdapat Pegunungan Qilian yang memisahkannya dengan Gurun Gobi.

Di bagian selatan terdapat Sungai Yarlung Tsangpo yang mengalir di kaki Pegunungan Himalaya dan Dataran Gangga yang luas. Sementara itu, di bagian timur dan tenggara Dataran Tinggi Tibet terdapat lembah berhutan-hutan dan daerah perbukitan yang merupakan hulu bagi Sungai Salween, Sungai Mekong, dan Sungai Panjang di selatan Provinsi Sichuan. Di sebelah barat, Dataran Tinggi Tibet berbatasan dengan barisan Pegunungan Karakoram di utara Kashmir.

Kembali ke sabana yang tertutupi salju, ketinggian rata-rata di atas 4.500 meter di atas permukaan laut. Makin dekat ke Kota Lhasa makin menurun. Sebab, Kota Lhasa berada di cekungan lembah.

Sesampai di Kota Lhasa yang ketingiannya sekitar 4.000 meter lebih di atas permukaan laut bersuhu udara 13 derajat Celsius Sabtu (1/9/2011) sore sekitar pukul 17.00. Atau 43 jam perjalanan dari Kota Chengdu. Kalau malam hari bisa lebih dingin lagi.

Di Stasiun Xi Ning, naik satu keluarga warga Tibet. Seorang ibu berpakaian khas Tibet dengan rambut dikucir, berpakaian rumbai. Anaknya pakai topi koboi. Ciri lain orang Tibet tampak pada pipi mereka yang kemerahan akibat sengatan matahari.

Selama di kereta, si ibu selalu berdoa sepanjang perjalanan. Memegang sejenis tasbih, mulutnya komat-kamit sambil terus memutarkan sejenis gasing. Anaknya ramah. Dia menawari permen apel kepada penumpang lain. Saat duduk, jika ada orang berdiri dia menawari kursinya. Saya juga diberi permen sejenis lolipop. (yog/bersambung)