Kemajuan teknologi yang kian pesat membutuhkan energi dengan teknologi tinggi. Salah satu inovasi yang digagas Jurusan Teknik Elektro Sekolah Tinggi Teknologi (STTNas) Jogjakarta adalah future energy. Fokusnya selain mengarahkan kepada kecerdasan buatan, juga mengarahkan mahasiswa mampu menghadapi tantangan dunia kerja. Ini diwujudkan dalam dua konsentrasi, yaitu Sistem Ketenagalistrikan, serta Instrumentasi dan Kendali.
“Kami sadar runner energy sudah mulai susut. Sehingga mencoba membuat sebuah terobosan terbaru dengan menciptakan future energy,” ungkap Ketua Jurusan Teknik Elektro S1 STTNas Oni Yuliani kepada Radar Kampus. Menurutnya, Indonesia punya banyak energi yang bisa dimanfaatkan, tapi sayangnya minim elektrik.

Oleh karena itu Teknik Elektro STTNas selangkah lebih maju untuk menciptakan dan menyiapkan generasi muda yang berpikir lebih ke depan. Jurusan ini fokus membagi prospek pembelajaran dalam tiga sub energi, yaitu sumberdaya, konservasi, dan konversi.
Mahasiswa Teknik Elektro STTNas juga diajarkan untuk mendesain, merancang, dan mengawasi elektro ke arah konversi. Tapi tidak mengurangi nilai konservasi. Artinya, ada upaya untuk tetap melestarikan energi-energi yang sudah ada dengan energi terbarukan, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). “Tidak semua sekolah elektro mengarah kepada ketenagaan. Kami punya langganan sekolah ekstensi,” jelas Oni.

Berbeda dengan perguruan tinggi lain, jurusan ini juga mengembangkan Elektro-Preneur yang lebih mengarah kepada Tekno-Preneur. Artinya, lulusan nantinya tidak hanya mampu mengembangkan ilmu, tapi juga mampu menciptaan lapangan pekerjaan.
Bentuk dukungan yang diberikan kampus yaitu dengan memberikan sertifikasi profesi kepada lulusan. Sertifikat ini berguna bagi lulusan, sehingga masyarakat tahu kemampuan masing-masing lulusan. “Sertifikat ini merupakan lisensi yang menjadi salah satu syarat penting yang dibutuhkan lulusan untuk segera mendapatkan pekerjaan,” katanya.

Beberapa karya yang pernah ditorehkan oleh mahasiswa Teknik Elektro STTNas yaitu juara nasional untuk pengembangan mobil listrik. Robot yang dirakit oleh para mahasiswa juga sudah bisa masuk kancah nasional. Tak hanya itu, drone yang diciptakan dalam tiga tahun berturut-turut selalu mendapat juara dua nasional. Soal penyerapan lulusan, untuk ketenagaan lumayan besar.
Kompetensi lulusan Teknik Elektro dari kampus yang berlokasi di Babarsari ini difokuskan pada dua hal, hardskill dan softskill. Pada kompetensi bidang hardskill, lulusan harus memiliki kemampuan menerapkan disiplin elektronika di bidang industri, juga di bidang robotika dan mekatronika.
Sedangkan untuk kompetensi lulusan softskill, lulusan harus punya jiwa profesionalisme, kepribadian yang baik, jiwa kepemimpinan yang baik serta punya kaidah kepribadian yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. “Semoga alumni bisa memanfaatkan ilmu yang ada di dunia kerja, juga memberikan input kembali bagi kampus,” jelasnya.

Setidaknya ada kepedulian terhadap institusi tempat kuliah. Terutama informasi perkembangan dunia kerja yang semakin hari semakin meningkat, lulusan diharapkan mampu memberikan informasi kepada kampus agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan di luar. “Bukan meminta pekerjaan, tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” harapnya. (ega/laz/mg1)