Tiongkok menuntaskan pembangunan rel kereta api tertinggi dunia ke Lhasa, Tibet, yang dibuka bagi penumpang umum 1 Juli 2006 silam. Kini Tiongkok terobsesi meneruskan pembangunan jaringan rel kereta api dari Tibet ke negara tetangganya, Nepal, bahkan tembus India. Ini proyek prestisius dan ambisisus Tiongkok karena tingkat kesulitanya sangat tinggi.

Menembus medan Pegunungan Himalaya. Ketinggian jalur kereta api (KA) rata-rata lima ribu meter di atas permukaan laut. Tapi, melihat keberhasilan Tiongkok membuka jaringan rel kereta api di Tibet. Serta keberhasilnya membuka jaringan rel kereta api barang, menghidupkan ‘’jalur perdagangan sutera modern’’ dari Stasiun Yiwu, Propinsi Zheyiang, Tiongkok Timur hingga Stasiun Barking, London, Inggris menempuh 7.400 miles atau 11.840 Km. Melewati delapan negara Asia Tengah dan Eropa menyemangati Tiongkok mewujudkan impianya membuat rel kereta api Tibet ke Nepal, menembus pegunungan tertinggi dunia Himalaya.

Ambisi besar Tiongkok membuka isolasi Tibet akhirnya terwujud dengan tuntasnya pembangunan jalur rel kereta api tertinggi di muka bumi itu. Dari Xining, ibu kota Qinghai, Tiongkok ke Lhasa, Tibet sejauh 1.956 Km pun tuntas.
Pencapaian luar biasa. Sebab, jalur Xining-Lhasa tidak biasa karena rata-rata berada di ketinggian 4.500 meter di atas permukaan laut dan membelah Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Kun Lun. Selain berselimut salju abadi, tanahnya beku sepanjang tahun.

Kesuksesan Tiongkok membangun jalur rel kereta api dari Kota Xining ke Lhasa sekaligus menandai terbukanya Tibet bagi wisatawan asing. Tibet kini terkoneksi jaringan rel kereta api dengan kota di seantero Tiongkok. Chengdu, Kunming, Shanghai, Beijing, dan semua kota besar di Tiongkok.

Dari berbagai sumber dirangkum penulis, Tiongkok butuh waktu 56 tahun lebih mewujudkan obsesinya membangun jaringan rel kereta api mencapai atap dunia Lhasa, Tibet.

Proyek raksasa pembangunan jalur kereta api ini dimulai sejak 1950-an. Tapi saat itu para insinyur Tiongkok angkat tangan ketika menangani proyek tersebut. Medan yang sangat berat menjadi alasan. Tanah beku, oksigen tipis, lokasi di pedalaman dengan sarana-prasarana terbatas hingga cuaca ekstrem sampai badai salju yang setiap saat mengancam keselamatan para pekerja. Ditambah konstruksi bantaran rel di dataran tinggi bersalju harus dibuat khusus guna mengantisipasi mencairnya salju dan banjir akibat pemanasan global.

Selain itu, tantangan teknis geologis terberat adalah jalur kereta api harus melewati wilayah sepanjang 550 Km tanahnya beku sepanjang tahun (permafrost).

Juga pembuatan terowongan panjang dengan membelah dan melubangi bukit dan gunung. Terowongan terpanjang 3.345 Km. Ditambah jembatan-jembatan melintasi lembah yang curam dan sungai yang lebar dan dalam. Mirip pemandangan Jakarta ke Bandung kalau naik kereta api yang melintasi lembah curam dihubungkan jembatan kereta. Tentu lembah di Tibet lebih ekstrem karena di daerah ketinggian. Rata rata empat ribu meter di atas permukaan laut.

Tapi, Tiongkok tak gampang menyerah guna mewujudkan ambisinya menaklukan atap dunia. Seiring kemajuan ekonomi yang luar biasa dan serta kemampuan penguasaan teknologi, akhirnya proyek prestisius itu dikerjakan lagi pada 1980-an. Setelah melakukan studi kelayakan mendalam dan menyiapkan konstuksi yang njlimet selama lima tahun.

Akhirya para insinyur Tiongkok menemukan kontruksi rel kereta api yang tepat untuk melintasi dataran tinggi bersalju seperti Tibet. Yakni, rangkaian atau bantalan rel kereta api dibuat tinggi, atau pakai kaki-kaki beton minimal 10 meter dari tanah. Semua ini untuk mengantisipasi puluhan tahun ke depan. Misalnya, banjir atau jikalau mencairnya es di Pegunungan Himalaya akibat pemanasan global.

Dari studi mendalam dan kontruksi yang tepat akhirnya jalur rel kereta api sepanjang 815 Km berhasil dibuat dan selesai 1984. Jarak sepanjang 815 Km tersebut merupakan jalur dari Xining ke Golmud. Setelah itu dilakukan pembangunan lagi dari Golmud ke Lhasa sejauh 1.142 Km. Jalur kereta ke Lhasa, Tibet resmi difungsikan bagi masyarakat pada 1 Juli 2006.

Pembangunan jalan kereta api ini merupakan hasil karya rekayasa engineering membanggakan karena harus menjaga dan melindungi keseimbangan ekosistem dan fauna – flora setempat. Sebab, wilayah yang dilintasi rel kereta api merupakan habitat 35 persen spesies binatang langka di Tiongkok.

Perlindungan terhadap lingkungan hidup (enviromental protection) diberlakukan ketat selama perjalanan kereta api. Sampah-sampah harus dikumpulkan, termasuk air limbah dan tidak boleh atau dapat membuang apa pun keluar jendela. Karena desain kaca jendela kereta api yang melintasi Lhasa didesain mirip pesawat terbang. Tidak dapat dibuka kacanya.

Soal biaya jangan ditanya. Super jumbo. Pembangunan jalur kereta api tertinggi di dunia itu menelan biaya hingga USD 3,5 miliar. atau setara Rp 35,35 triliun. Jalur kereta api ini merupakan mimpi lama Tiongkok. Untuk menghubungkan wilayahnya ke Tibet, yang merupakan daerah otonom khusus Tiongkok.

Jalur kereta api ke Tibet juga memberikan rekor mengesankan. Hal ini karena tak mudah membuat jalur kereta api dengan kondisi alam yang keras. Jalur ini melewati wilayah beku, serta melewati terowongan di ketinggian 4.905 meter di atas permukaan laut. Namanya, Terowongan Fenghuoshan.

Jalur rel kereta api ke Lhasa, Tibet juga melintasi dataran tinggi terpanjang di dunia, yakni Kun Lun Mountain dan menembus terowongan sejauh 1.686 meter. Kedua terowongan itu dibangun di atas wilayah beku.

Bisa dibayangkan, beratnya para pekerja membangun kontruksi dan bantalan di udara yang tipis dan cuaca ekstrem. Konon, sedikitnya 40 pekerja tewas dengan beragam penyebabnya. Salah satunya, pekerja harus menghadapi beratnya medan dan cuaca ekstrem tersebut.

Sekarang orang dapat naik kereta api dari Beijing langsung menuju Lhasa dalam waktu tempuh sekitar 50 jam perjalanan atau 52 jam dari Shanghai.

Jalur kereta api membuka Provinsi Tibet yang selama ini terisolasi dari provinsi lainnya di Tiongkok. Sebelumnya Tibet hanya dapat diakses lewat udara dan jalan darat yang tentunya sangat berbahaya karena medannya ekstrem.
Pembangunan jalur kereta api ini mendorong pembangunan ekonomi di Provinsi Tibet/Xizang yang tertinggal jauh dari provinsi- provinsi di Tiongkok bagian timur.

Jalur kereta api ini juga mendorong perkembangan sektor pariwisata di Tibet dan Provinsi Qinghai. Perjalanan lintasan kereta api tertinggi di dunia ini melewati Pegunungan Himalaya dan Kun Lun yang mempunyai ketinggian rata-rata empat ribu meter di atas permukaan laut. Panoramanya jangan ditanya. Super eksotis! Super keren. Pemandangan alamnya indah, penuh misteri seperti pegunungan bersalju abadi, padang rumput danau-danau yang luas. Seperti Danau Namucuo (Lake of The Heaven) yang disucikan pemeluk Buddha di Tibet, serta binatang peliharaan nan unik, yak. Dan, suku nomadennya.

Untuk kenyamanan dan keamanan kabin penumpang KA dirancang layaknya kabin pesawat terbang. Yakni, menggunakan kabin bertekanan udara serta dilengkapi pengatur suhu udara dicampur dengan zat asam (oksigen). Tak hanya itu, kacanya dilengkapi penyaring atau perlindungan terhadap sinar ultra violet.

Bagi penumpang yang mengalami kesulitan pernapasan (altitude sickness) disediakan tabung-tabung oksigen ekstra yang dapat dipergunakan sewaktu-waktu. Kondisi ini disebabkan lapisan udara tipis dan bertekanan rendah di ketinggian tersebut.

Penulis merasakan naik kereta api cepat dalam perjalanan haji lewat jalur darat 2011 silam. Yakni, dari Kunming (Provinsi Yunnan) ke Cengdu (Provinsi Sinchuan) selama 19 jam . Disambung dari Chengdu ke Lhasa (Tibet) selama 44 jam. Total perjalanan 63 jam.

Bagaimana kenyamanan naik kereta api ke lintasan tertingi di dunia Lhasa Tibet? Penulis merasakan sangat aman dan nyaman. Selain jadwal kereta api yang tepat waktu, petugas rel kereta api Tiongkok sangat disiplin. Penumpang tidak boleh keluar gerbong kalau hanya singgah di stasiun kecil. Tidak ada pedagang asongan layaknya di kereta api Indonesia saat ini.

Karena menempuh jarak jauh dan perjalanan berhari-hari, maka setiap jam makan , atau sarapan biasanya ada pedagang merangkap pegawai kereta menjajakan dagangannya ke para penumpang. Makanan pun model prasmanan. Jadi, penumpang tinggal menunjuk jenis makanan yang diinginkan. Ada nasi, sayur, dan lauk. Tinggal dibungkus dan bayar. Juga ada mi, kue, beragam camilan, serta aneka minuman. Lengkap. Harganya juga terjangkau.

Seperti tertera dalam gerbong, kecepatan kereta api Tiongkok yang melintasi Kunming-Chengdu- Lhasa rata-rata antara 120-140 Km/jam. Hebatnya, nyaris sepanjang perjalanan tidak ada goyangan berarti. Cukup nyaman karena laju kereta sangat stabil, meski dalam kecepatan tinggi. Ini menunjukkan jaringan rel kereta api yang dibangun Tiongkok, meski berada di ketinggian kualitasnya sangat baik. (yog/bersambung)