TIBET kini menjadi magnet turis dunia. Selain alam nan indah, budaya dan ritual warga Tibetan, sebutan bagi orang Tibet, jadi daya tarik utama pelancong di atap dunia itu. Karena masuk daerah bergolak, lusinan polisi dan tentara Tiongkok selalu berjaga, mengawasi biksu, turis, dan warga Tibetan yang melakukan ritual ‘’kowtow’’ yang menjadi santapan ratusan fotografer dunia setiap harinya.

Minggu pagi (2/10/2011) suhu udara di Kota Lhasa, ibu kota Tibet, nyaris beku. Tiga derajat Celsius. Hembusan angin kencang membuat buluk kuduk berdesir.
Tapi, sepagi itu ratusan umat Buddha warga Tibet sudah melakukan ritual jalan kaki memutari tempat suci Jokhang Temple atau Kuil Jokhang, yang berada di Jalan Barkhor, Lhasa. Kuil ini berada di ketinggian empat ribu meter di atas permukaan laut.

Mereka berkeliling kuil memutar searah jarum jam. Peserta ritual mengenakan pakaian tebal. Mulai jaket, baju khas Tibet tebal penuh rumbai. Mereka mengenakan pakaian bertumpuk-tumpuk penuh aksesori untuk melawan hawa super dingin. Juga ada yang melapisi jas segala.

Tak hanya kaum muda dan biksu, orang tua renta pun tak mau kalah melakukan keliling Jokhang Temple. Seperti dilakukan seorang nenek. Sambil membawa tongkat, meski jalannya sempoyongan, semangat melakukan ritual jalan kaki mengitari Kuil Jokhang begitu menyala.

Tibetan adalah bangsa pendoa. Mayoritas penduduk Tibet beragama Buddha. Peziarah Tibetan berniat meraih cita-cita tertentu akan menjalankan ritual ”kowtow”. Ritual dilakukan dengan cara berhenti di setiap tiga langkah kaki, lalu mengatupkan kedua tangan ke atas kepala, menurunkan tangan di depan mulut dan di depan dada, sebagai simbolisasi penyembahan kepada Sang Maha Kuasa, kemudian membersihkan pikiran, ucapan, dan hati. Setelah itu mereka merebahkan diri ke tanah layaknya sujud.

Agar lututnya tidak sakit, warga Buddha mengalasi dengan semacam matras atau sejenis bantal panjang. Tangannya dibungkus semacam sarung tangan.
‘’Itu ritual (kowtow atau posetision, Red) dilakukan sejak dari rumah. Jauhnya bisa mencapai 400 kilometer dari Jokhang Temple. Makanya, ada yang butuh waktu sekitar enam bulan, bahkan setahun untuk menyelesaikan ritual itu,’’ kata Jack Kalsang, warga Tibet, kepada penulis.

Mereka datang dari pelosok desa di Tibet yang jaraknya puluhan bahkan ratusan kilometer. Belum lagi jalannya tidak biasa. Naik turun bukit terjal, bebatuan, penuh keriklil dan berdebu. Tapi, itu tak menghalangi mereka melakukan ibadah, keyakinan sebagai bentuk kepatuhan warga Tibet terhadap agama Buddha.

Makin siang jumlah peserta ritual kian banyak. Tak hanya ratusan, tapi ribuan. Kalau tidak cermat sulit membedakan mana peserta melakukan ritual, mana pengunjung ingin membeli suvenir di seputar Jokhang Temple.

Sebab, di kawasan Jokhang Temple berdiri ribuan kios dan toko yang menjual aneka suvenir. Mulai gelang, perhiasan emas, perak, kalung, manik-manik, jaket, pakaian, kaos, sepatu, bahkan alat rumah tangga dan pertukangan. Pokoknya, semua kebutuhan turis dan suvenir lengkap dijual seputaran Kuil Jokhang.

Apalagi, peserta ritual dan pengunjung jumlahnya hampir sama, selalu berdesakan dan jalan bersama mengitari kuil Jokhang searah jarum jam. Bedanya, peserta ritual selalu baca-baca mantra, tangannya memegang semacam gasing sambil memutar anak bandulannya, juga membawa sejenis tasbih. Tasbih yang dipakai umat muslim umumnya berjumlah 99 butir. Yakni, untuk menandai pembacaan Subhanallah sebanyak 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali.

Tasbih warga Tibet berjumlah 108 butir. Penulis tidak paham, tahu untuk membaca doa atau pujian apa. Ciri lain peserta ritual, mereka jalan sedikit lebih cepat dibandingkan para turis.

Makin sore peserta ritual makin membeludak. Mereka memenuhi hampir semua sisi halaman Jokhang Temple. Mereka berjejer sambil melakukan ritual ‘’kowtow’’. Ada yang hanya baca sejenis tasbih. Tak sedikit peserta ritual melakukan ‘’kowtow’’ terus berulang-ulang. Keliling Kuil Jokhang terus-menerus.

Ada juga seorang biksu yang semedi dengan duduk berjam-jam.Ada juga yang baca-baca mantra sambil tangannya mamainkan sejenis gasing yang bandulnya terus diayunkan.

Itulah makanya ritual warga Tibet yang tidak ada duanya di dunia ini menjadi surga bagi para fotografer. Ya budayanya, ya ritualnya, ya aksesori yang dikenakan peserta ritual. Sangat menarik untuk diabadikan.

Tak heran setiap hari ratusan, bahkan ribuan fotografer dari mancanegara mengabadikan momen ini. Baik amatir maupun profesional. Untuk membedakan juga sulit. Sebab, peralatan atau kamera yang mereka bawa sangat lengkap.

Kalau dilihat sepintas banyak yang profesional. Dilihat dari alat dan kelengkapannya. Rata-rata mereka membawa tele dan kamera besar. Sedangkan yang bawa kamera kecil, kamera saku, dan apalagi foto menggunakan handphone bisa dihitung jari.

Saya lihat mereka juga sabar, duduk, berdiri menunggu momen yang pas mengambil gambar. Itu dilakukan berjam-jam. Saya yang bolak-balik keliling masih melihat sebagaian mereka tetap mengambil gambar di tempat yang sama. Umumnya para turis asing itu berusia di atas 40 tahun.

Tak kalah menariknya, setiap jengkal tanah di seputar Jokhang Temple dijaga ketat polisi dan tentara Tiongkok bersenjata. Penjagaan ketat mulai di pintu masuk taman. Juga di beberapa sudut Jokhang Temple. Setiap berjarak sekitar 10 meter pasti ada tentara berjaga lengkap senjata laras panjang.

Ada empat sampai enam tentara berdiri dalam poisisi siap, saling membelakangi mengawasi pengunjung dan peserta ritual. Tak hanya itu, ada kelompok pasukan bersenjata berpratoli, berjalan, dan menyatu dengan peserta riual dan para turis. Mereka mengawasi setiap orang yang lalu lalang di situ.
Sebagaian kecil pasukan juga berpratoli di lorong dan gang sempit di sekitar Jokhang Temple. Saat saya naik di atap Hotel Mandala, yang lokasinya persis di depan Jokhang Temple dan biasa digunakan sebagai tempat makan terbuka, terlihat tentara juga menyebar di gedung-gedung tinggi seputar kawasan Jokhang Temple. Lengkap dengan senjata laras panjang.

Mereka para sniper siap membidik jika ada peserta ritual atau pengunjung yang mencurigakan. Yang tak kalah menarik, banyaknya intel berpakaian preman di sekitar Jokhang Temple. Mereka ini umumnya menyelipkan perlengkapan handphone saat bertugas. Matanya awas, mencermati setiap pengujung dan peserta ritual. (yog/bersambung)