Apakah kahadiran polisi dan tentara menganggu peserta ritual atau wisatawan? Saya tidak tahu persis bagaimana perasaan para turis. Tapi, pengunjung dan peserta ritual sepertinya tidak terganggu. Mereka tampak enjoy saja mengitari Kuil Jokhang bergabung dengan para peziarah Tibetan.

Saya sendiri semula merasakan sedikit kaku, waswas jika berpapasan tentara atau polisi yang berpratoli saat keliling Kuil Jokhang. Tapi, lama kelamaan biasa. Bahkan senang melihat mimik mereka yang serius mengamati setiap orang yang lalu lalang di sekitar tempat suci umat Buddha Tibet itu.

Ketatnya keamanan Kota Lhasa bisa terlihat saat turis datang kali pertama di Stasiun Lhasa. Stasiun yang begitu besar itu dijaga tentara bersenjata. Mereka membentuk pagar betis. Puluhan, bahkan ratusan meter panjangnya.

Begitu keluar pintu stasiun, penumpang diarahkan ke pintu keluar. Tidak boleh menyimpang, belok kiri atau kanan. Puluhan petugas mengawasi para penumpang tadi sambil membawa senjata laras panjang.

Penulis tidak paham mengapa penumpang keluar stasiun harus dipagar betis. Toh setelah keluar stasiun penumpang bisa ke mana saja, bebas ke sudut Kota Lhasa. Atau, tentara China sekadar pamer kekuatan pada turis yang datang ke Lhasa agar tidak macam-macam. Sebab, Tibet wilayah otonomi khusus yang kerap bergolak. Di mana pendukung dan pengikut Dalai Lama kerap berunjukrasa, bahkan membakar dirinya sebagai bentuk protes atas pendudukan China atas Tibet.

Mengujungi Kota Lhasa, ibukota Tibet, memang diatur secara khusus. Para turis harus mengantongi izin permit masuk dari kepolisian setempat atau polisi menangani perbatasan. Sebab, Tibet provinsi dari China/Republik Rakyat Tiongkok (RRT) merupakan Daerah Otonomi Khusus RRT yang diberi nama oleh China Xizang.

Untuk masuk ke China otomatis menggunakan Passport WNI Sipil. Mungkin ini bisa diurus sendiri. Tapi, untuk masuk ke area Tibet, turis harus mengantongi surat izin tambahan. Namanya “Tibet Travel Permit”. Bahkan untuk masuk ke area Everest masih dibutuhkan permit tambahan lagi. Namanya “Aliens Travel Permit”. Untuk mengurus sendiri jelas ribet. Karena itu untuk masuk Tibet umumnya para turis menggunakan jasa tour agent yang terdaftar.

Sepertinya pemerintah Tiongkok juga mewajibkan para turis pakai jasa tour untuk mengunjungi wilayah khusus. Termasuk saat ke Tibet. Sulit rasanya ke Tibet tanpa tour agent. Alasannya? Karena selama berada di area Tibet banyak pemeriksaan permit mulai dari stasiun kereta menuju Tibet, sebelum check in di hotel tempat menginap di Tibet, masuk ke tempat wisata di Tibet, apalagi menuju Everest Base Camp, banyak check point permit-nya.

Si tour agent akan mengurus segala permit-permit yang dibutuhkan, dengan syarat tentu si turis memakai mereka sebagai tour guide selama di Tibet. Sedangkan warga Tiongkok sendiri harus mengisi form khusus saat masuk Lhasa. Saat tiba di Lhasa pun biasanya guide atau warga setempat memberitahu apa-apa yang tidak boleh dilakukan turis selama di Lhasa.

Yakni, tidak boleh ngomong politik, tidak boleh ngomong sama bhiksu lama-lama karena nantinya bikin repot bhiksu karena biasanya dipanggil dan diinterogasi petugas. Juga tidak boleh memotret tentara dan polisi. ‘’Banyak kamera turis dipecah, disket disita gara-gara memotret tentara. Ini negara ingtel, mereka tersebar ke mana-mana,’’ kata warga Tibet begitu saya dan Hendra tiba di stasiun.

Satu lagi ada ritual khusus bagi turis yang datang ke di Lhasa, yakni setiap guide yang menjemput para turis yang akan dipandunya memberi semacam selendang atau slayer warna putih. Slayer di kalungkan ke leher si turis. ‘’Semoga Anda mendapat perlindungan dan keselamatan selama di Tibet,’’ ujar penjemput kepada penulis begitu tiba di Lhasa.

Saran itu tak berlebihan. Saya sendiri menyaksikan seorang intel lagi asyik berbicara dengan petugas hotel dan melihat daftar tamu hotel yang kami inapi, yang lokasinya persis di depan Jokhang Temple.

Tempat lain di Tibet yang dianggap suci bagi umat Buddha Tibet adalah Potala Palace, yakni istana tempat tinggal pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama sebelum diusir pemerintah Tiongkok. Lokasinya di Jalan Beijing Karim, yang lokasinya tak jauh dari Jokhang Temple. Potala Palace, salah satu landmark atau tetenger terkenal di Kota Lhasa dan Tibet. Tidak ada orang yang tidak mengenal Istana Potala.

Setiap hari, peserta ritual umat Buddha Tibet dan wisatawan manca negara memadati lokasi ini. Dengan membayar peserta bisa masuk ke istana Dalai Lama itu. Hanya sayang, saat saya berkunjung ke tempat itu ditutup karena masih dalam suasana perayaan hari kemerdekaan nasional Tiongkok yang jatuh 1 Oktober.

Pengujung, peserta ritual dan saya hanya bisa sampai di halaman Potala Palace yang berada di perbukitan itu. Ya, hanya bisa foto saja di depan bangunan yang ditetapkan UNESCO sebagai sejarah warisan dunia itu.

Istana Potala, sejak menjadi daya tarik utama turis di Tibet, mematok karcis masuk sangat mahal. Seratus Yuan untuk setiap pengunjung China dan orang asing, harus dipesan sehari sebelumnya dengan alasan membatasi jumlah pengunjung maksimal tiga ribu orang per hari. (laz/bersambung)