GUNUNGKIDUL – Tukijem saban hari harus bolak-balik menuju Telaga Melikan. Aktivitas itu juga dilakukannya nyaris saat musim kemarau tiba. Sebab, telaga merupakan satu-satunya sumber mata air yang tersisa di Desa Melikan, Rongkop. Di sisi lain, warga Dusun Ngricik ini tidak memiliki bak penampungan air di rumah.

”Sekalipun ada droping air saya hanya mengambil sedikit,” tutur Tukijem saat ditemui mengambil air di Telaga Melikan, Minggu (8/7).

Ibu enam anak ini tidak sendirian. Tukijem menyebut setidaknya ada delapan warga Dusun Ngricik lainnya yang mengalami nasib serupa. Mengambil air telaga saban hari sepanjang hidup. Karena itu, Tukijem berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan droping air. Melainkan juga harus merumuskan solusi jitu. Toh, Dusun Ngricik termasuk wilayah “wajib” kekeringan saat musim kemarau.

”Minimal bantuan bak penampungan,” harap perempuan berusia 57 tahun ini.
Berbeda dengan Tukijem, Lasmi merasa lebih beruntung. Warga Desa Krambilsawit, Saptosari ini mengakui air Telaga Miri sejak awal Ramadan lalu menyusut. Namun, warga masih dapat mengandalkan suplai air PDAM. Meski, air perusahaan pelat merah tersebut bercampur kapur.

”Jadi, kalau mau dimasak harus diendapkan dulu. Biar rasanya enak,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki menyebutkan, ada sebelas kecamatan yang rutin mengalami kekeringan saat musim kemarau. Yaitu, Kecamatan Nglipar, Girisubo, Paliyan, Panggang, dan Purwosari. Juga, Rongkop, Tanjungsari, Tepus, Ngawen, Ponjong, serta Gedangsari. Sedangkan jumlah warga terdampak kekeringan mencapai 31.607 kepala keluarga (KK) atau 96.523 jiwa.
”Tersebar di 54 desa,” sebutnya.

Menurutnya, dampak musim kemarau mulai terasa sejak awal Mei lalu. Kendati begitu, baru ada dua solusi yang ditawarkan pemkab. Yaitu, droping air dan distribusi air PDAM. Meski suplai air PDAM selama musim kemarau juga terbatas. Khusus, droping air, Edy menyebut BPBD menyediakan 3.360 tangki air bersih.

”Dengan target pendistribusian 24 tangki per hari,” ungkapnya.

Kendati baru sanggup menawarkan droping, menurut Edy, realisasi solusi ini bukan perkara gampang. Tak jarang personel BPBD harus mengambil air di wilayah pedalaman. Tak jarang pula armada truk tangki mengalami kerusakan.
”Meski ada enam armada yang dipersiapkan,” paparnya.

Ketua DPRD Gunungkidul Suharsono saat ditemui beberapa waktu lalu mengungkapkan, lembaganya sebenarnya telah berulang kali mendorong pemkab segera menuntaskan problem dampak kekeringan. Di antaranya dengan membangun embung raksasa di wilayah Semanu. Hanya, pemkab belum berani merealisasikannya karena sejumlah hal. (gun/zam/fn)