GUNUNGKIDUL – Dampak musim kemarau lagi-lagi membawa dampak buruk. Kali ini sektor pertanian. Lahan pertanian seluas 18 hektare diperkirakan puso alias gagal panen. Kendati begitu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Raharja Yuwono menyebut total lahan pertanian yang mengalami puso sangat sedikit. Hanya sekitar 0,017 persen. Sebab, total lahan kering mencapai 42.000 hektare.

”Sehingga tidak memengaruhi hasil produksi. Toh, hasil panen sebelumnya melimpah,” klaim Raharja saat dihubungi Rabu (11/7).

Merujuk data Dinas Pertanian dan Pangan, realisasi produksi gabah kering giling (GKG) dalam kurun waktu Januari hingga April 2018 mencapai 241.951 ton. Itu dari lahan seluas 49.446 hektare. Raharja mengklaim, hasil produksi ini merupakan tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Kendati begitu, hasil produksi ini bakal terus bertambah. Seiring dengan datangnya musim tanam kedua. Musim tanam kali ini diperkirakan menghasilkan 59.665 ton.

”Total hasil panen dalam setahun bisa mencapai 301.926 ton,” sebutnya.
Terkait puso, Raharjo mengungkapkan, hal tersebut telah diprediksi. Sebab, seluruh lahan yang mengalami gagal panen merupakan pertanian tadah hujan. Tidak ada aliran irigasi.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Bambang Wisnu Broto menyebutkan bahwa total luasan lahan yang terdampak musim kemarau sebenarnya mencapai 48 hektare. Hanya, hingga sekarang yang diperkirakan puso seluas 18 hektare. Kendati begitu, Bambang mengklaim, para petani tak merugi. Sebab, mereka telah menyadari risiko menanam padi saat musim kemarau di pertanian tadah hujan.

”Kami pernah bertanya soal risiko. Saat itu mereka beralasan menanam padi hanya untuk pakan ternak,” ucap Bambang mengungkapkan bahwa dinas pernah mengimbau agar petani tak menanam padi saat kemarau.

Ketua Kelompok Tani (klomtan) Sido Dadi Pundungsari Suhadi mengaku musim kemarau berdampak serius terhadap sektor pertanian. Itu dibuktikan dengan banyaknya lahan pertanian yang dibiarkan kosong alias tanpa tanaman. Padahal, lahan pertanian klomtan musim hujan lalu menghasilkan 13 ton GKG per hektare. Karena itu, Suhadi berharap pemkab memberikan solusi. Seperti membangun embung atau pipanisasi.

”Agar lahan pertanian tetap tersuplai air,” ungkapnya. (gun/zam/fn)