SLEMAN – Polda DIJ mendapat “kado istimewa” di sela perayaan HUT ke-72 Bhayangkara yang dihelat kemarin (11/7). Kado itu berupa penangkapan terduga teroris di Dusun Bedingin Wetan, Sumberadi, Mlati, Sleman oleh Densus 88 Antiterror sekitar pukul 09.00. Dia adalah Saefulloh. Anggota densus yang semuanya berpenutup muka juga menggiring Sri Suhartati, istri Saefulloh, dan ketiga anak mereka. “Rumah mereka tempati digeledah hingga pukul 10.00,” ungkap Ketua RT 05/RW 35 Bedingin Sumarjono.

Sumarjono mendapat informasi penangkapan Saefulloh dari beberapa polisi yang mendatangi rumahnya untuk pemberitahuan. Menurut pensiunan Polresta Jogja itu, densus membawa beberapa barang milik Saefulloh sebagai barang bukti. Di antaranya, satu kardus berisi buku-buku, surat-surat, dan beberapa kertas, laptop, dua unit handphone, dan satu busur beserta anak panahnya. Aparat juga mengamankan beberapa senjata tajam berupa sangkur dan pedang.

“Panah dan senjata tajam ditemukan di sisi timur bangunan rumah. Ditaruh di luar. Juga satu unit Honda Vario dan mobil kijang,” ungkapnya.

Saat penggeledahan, lanjut Sumarjono, 10 personel densus masuk di dalam rumah. Sedangkan lima lainnya berjaga di luar. Sisanya mengamankan lokasi sekitar rumah tersebut dari kerumunan warga setempat.

Dikatakan, Saefulloh berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Pria 45 tahun itu mengontrak rumah milik Pramono sejak Februari lalu. Selama tinggal di Bedingin Saefulloh dikenal cukup kooperatif. Bahkan, dia segera melapor dan menyerahkan data kartu keluarga kepada Sumarjono.

Dalam keseharian pun tak ada gerak-gerik mencurigakan. Sebagai seorang pensiunan polisi, Sumarjono pun tak mencium gelagat Saefulloh sebagai terduga teroris. Kendati demikian, Sumarjono menilai, Saefulloh memang tak begitu komunikatif dengan para tetangga. Meskipun dia kerap terlibat dalam beberapa kegiatan desa.

“Kalau ibadah masih sering ketemu. Terakhir kerja bakti juga ikut. Meski orangnya cukup terbuka, komunikasi dengan tetangga tidak intens,” beber Sumarjono. Setiap hari Saefulloh berjualan bakso tusuk dan martabak di depan Indomaret Bedingin.

Ridwan Dwi Utomo, tetangga kontrakan Saefulloh, mengaku tak begitu mengenal terduga teroris itu beserta keluarganya. Obrolan pun hanya ala kadarnya. Ridwan sering ketemu Saefulloh hanya ketika salat di musala dekat kontrakan. Saat Saefulloh ditangkap, Ridwan berada di dalam rumah kontrakannya. Dia diingatkan aparat untuk tidak keluar rumah jika tak ada keperluan mendesak.

“Personel (densus, Red) datang naik motor. Barang-barang hasil penggeledahan diangkut pakai mobil milik Saefulloh,” ungkap Ridwan yang melihat proses penggeledahan rumah kontrakan Saefulloh.

Hingga kemarin belum ada kejelasan jaringan Saefulloh. Informasi beredar Saefulloh diduga seorang deportan Syria, namun ada yang menyebutnya sebagai bekas narapidana teroris. Kapolda DIJ Brigjen Ahmad Dofiri enggan berspekulasi ihwal ditangkapnya Saefulloh. Terlebih penangkapan dilakukan Densus 88 dari Mabes Polri. Dofiri mengaku mendapatkan informasi tersebut di tengah perayaan HUT Bhayangkara di aula mapolda setempat. “Nanti saja karena (informasinya, Red) belum lengkap. Takutnya salah ucap,” ucapnya.
Saat ini jajaran Polda DIJ masih mendalami informasi dan berkoordinasi dengan tim yang menangkap Saefulloh.

Dofiri menjelaskan, penangkapan terduga teroris menjadi kewenangan Densus 88 Mabes Polri. Karena itu jalur komunikasinya cenderung langsung dari pusat. Diakui, di setiap daerah ada satgas gabungan dari kesatuan polda dan Mabes Polri. Namun, garis komandonya sebagian besar tetap dari pusat. (dwi/yog/fn)