PERJALANAN menuju Nepal setelah melewati Puncak Pass Himalaya cukup menegangkan. Jalanan menurun berliku dengan kiri kanan jurang. Penulis sempat menegur Liu karena melajukan kendaraan yang kami tumpangi terlalu kencang. Sangat berbahaya saat berpapasan dengan kendaraan lain. Apalagi, sebagain jalan agak licin terkena guyuran air terjun .

Sepertinya sopir yang membawa penulis agak aneh. Saat jalan sepi dan bagus yang relatif datar justru kadang lajunya tidak maksimal. Di saat jalan berbahaya malah melaju kencang. Penulis dan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos sering mengomel soal ini. Sering mengingatkan sopir. Kadang muncul perasaan penulis tidak sabar, rasanya ingin jadi sopir dan menginjak pedal gas dalam-dalam saat jalan mulus dan lurus. Untuk mengejar tenggat waktu agar sampai ke kota berikutnya lebih cepat. Biar lebih cepat istirahat dan mengetik naskah berita. ‘’Sabar..sabar,’’ begitu guyonan Hendra Eka.

Memasuki Kota Zhangmu jalanan yang sempit mulai macet parah. Selain banyak kendaraan besar, truk, dan bus parkir sembarangan. Sedangkan rumah dan warung berderet di pinggir jurang menganga ribuan meter di bawahnya.
Truk-truk dari Nepal umumnya bermerk Tata tampak mendominasi. Karena tidak ada polisi yang mengatur jalanan macet terutama di persimpangan. Banyak penumpang kendaraan yang tak sabar turun dan memilih jalan kaki.

Begitu juga saya, turun mobil sambil cari makan. Ternyata biang keroknya dua kendaraan parkir di sisi jalan yang berbeda. Hingga jalan yang sudah sempit makin ciut. Akibatnya, bus besar dari Nepal tidak bisa lewat karena jalanya terhalang dua mobil yang parkir di sisi berbeda tadi. Kaca spion saling bertabrakan. Akhirnya, sopir memaksakan tabrakkan spion. Baru jalan bisa lancar.

Namanya kota umumnya melebar dan luas. Tapi, tak demikian di jalanan Zhangmu. Lebarnya hanya cukup simpangan dua truk besar. Ditambah deretan pertokoan dan rumah warga di Zhangmu yang saling berdesakan.

Satunya mengarah ke bukit terjal, sedangkan sisi yang lain mengarah ke jurang-jurang menganga. Jadinya, permukiman, kantor pemerintah, bank, dan restoran mengikuti jalan sempit tadi. Benar-benar sumpek karena begitu rapatnya deretan pertokoan. Satu rumah dengan rumah lainnya juga saling berhimpitan. Belum lagi, deretan mobil berdesakan di parkir sepanjang jalan. Meski demikian ada taksi bersliweran yang lajunya kerap zig-zag karena sempitnya jalan saat bersimpangan.

Hebatnya, warga dimanjakan banyak air. Warga cukup modal selang lalu dihubungkan dengan berbagai sumber air atau air terjun di atas bukit. Untuk memasak, mandi, maupun mencuci pakaian. Semua gratis. Sayangnya air pancuran tadi dibairkan mancur terus meski tidak dipakai.

Jalanan menuju perbatasan atau imigrasi Tiongkok di perbatasan yang berada di lembah terus menurun. Tak jarang tebing longsor hingga menutupi jalanan yang sudah dibersihkan ala kadarnya agar kendaran bisa lewat.

Truk-truk besar perlahan menuruni bukit. Selain melewati jalan sempit, sopir sangat piawai melajukan truknya di jalan menurun, menanjak yang sangat sempit dengan muatan berton-ton. Kalau tidak biasa bisa terbalik.

Tampak antrean truk dan bus kargo mengular di pintu keluar perbatasan Tiongkok. Sambil menunggu antrean, banyak kernet mencuci kendaranya dengan air terjun yang mengalir di selokan jalan. Tapi, airnya sangat jernih karena sumbernya dari pegunungan

Sampai di imigrasi Tiongkok, terlebih dulu menunjukkan surat izin memasuki Zhangmu. Setelah beres, semua barang bawaan diperiksa tentara. Semua tas dibuka. Kaus penulis bergambar Tibet cukup lama di bolak -balik.’’Suvenir,’’ kata penulis. Setelah itu beres. Tas Hendra juga dibuka semua. Belakangan petugas tadi ingin cari peta Tiongkok, tapi tidak ketemu karena kami memang tidak membawanya.

Kenapa peta yang dicari? Belakangan penulis tahu jika Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok tidak mau ada peta yang memasukan Taiwan sebagai negara tersendiri. Sebab, Tiongkok menganggap Taiwan bagian dari provinsi di Tiongkok.

Saat pemeriksaan paspor muncul masalah. Bagitu tahu dari Indonesia, petugas yang masih muda, sekitar 22-25 tahun, raut mukanya berubah. “From Indonesia?’’ tanyanya. ‘’Ya,’’ jawab penulis.

‘’Pergi ke Lhasa?’’ tanyanya. Penulis pun mengiyakan. Seelanjutnya petugas tadi tanya ini itu yang tidak ada kaitanya dengan kelengkapan paspor. Mungkin jawaban penulis kurang memuaskan, sehingga dia agak jengkel.

Lalu penulis bilang ada teman yang lancar bahasa Inggris. Kebetulan Hendra sudah selesai pemeriksaan barang. Begitu ditanya, Hendra terus menjawabnya. Petugas yang satu ini agak aneh. Jawaban tidak lancar dia jengkel. Tapi, dijawab terus dia marah.

Akhirnya kami berdua dibawa ke ruangan pimpinan oleh rekan petugas tadi. Setelah diperiksa semua dokumen tidak ada masalah. Atasan petugas tadi pun menyerahkan kami kembali kepada petugas tadi. Petugas imigrasi lainnya juga bersikap profesional. Hanya yang satu itu agak aneh.

Belakangan saya baru tahu dari Hendra kalau petugas tadi masih jengkel dengan peristiwa Mei 1998 lalu di Indonesia. Menurut petugas tadi, ada kelompok di Indonesia yang anti Tiongkok. ‘’Saya masih dendam sampai sekarang,’’ kata petugas tadi pada Hendra.

‘’Apakah Anda tahu peristiwa Mei 1998 di Indonesia?’’ tanya petugas tadi kepada Hendra. ‘’Peristiwa tsunami atau jatuhnya Presiden Soeharto?’’ jawab Hendra bernada tanya. “Bukan itu, tapi soal kelompok anti Tiongkok di Indonesia. Kami tahu dari sini,” kata petugas tadi seraya bertanya keberadaan guide yang mendampingi kami selama perjalanan. Setelah dijawab kalau guide kami langsung balik ke Lhasa begitu sampai perbatasan, petugas tadi diam saja.

Tapi, setelah dijelaskan jika peristiwa Mei 1998 hanya ulah oknum kecil masyarakat barulah petugas tadi tampak senang dan tertawa. Apalagi setelah Hendra menjelaskan jika Pemerintah Indonesia sangat melindungi semua warga negaranya. Juga dijelaskan bahwa umumnya warga Tiongkok di Indonesia masih tetap kaya dan memegang monopoli ekonomi.

“Kenapa tidak segera distempel padahal semua dokumen lengkap?” tanya Hendra kemudian. ‘’Oh, ya,’’ katanya. Baru setelah itu distempel.
Giliran saat diperika kali kedua, hal yang sama soal peristiwa Mei 1998 ditanyakan lagi. Tapi, saya jawab sepintas saja. Akhirnya, dia mau mengerti. Paspor saya pun distempel. ‘’Petugas tadi tidak profesional. Tanya ini itu yang tidak ada kaitannya dengan kelengkapan paspor,’’ gerutu Hendra.

Namun, ulah petugas imigrasi Tiongkok tadi mungkin akibat salah informasi. Atau dia mendapat informasi berlebihan soal peristiwa Mei 1998. Itu tidak melunturkan kesan saya dan Hendra selama melakukan perjalanan di Tiongkok.
Bahwa negeri ini besar. Ya, besar segalanya. Penduduknya, ya wilayahnya. Begitu bagusnya sarana transportasi, ketertiban pengendara, dan keramahtamahan warganya. Juga eloknya pemandangan yang kami temui selama di Tiongkok. Bahwa negeri ini sangat besar seperti halnya Indonesia.

Sikap petugas imigrasi tadi kami anggap tak ubahnya dengan ulah sebagaian kecil masyarakat Indonesia yang juga tidak begitu suka melihat warga keturunan. Apakah karena kecemburuan ekonomi atau sebab lainnya. Saya tidak perlu membahasnya di sini. (yog/bersambung)