HANYA berjarak 100 meter terpisahkan sebuah sungai kondisi dan fasilitas pos lintas perbatasan imigrasi milik Tiongkok di Kota Zhangmu dan Nepal di Kodari tampak jomplang. Ibarat langit dan bumi. Segalanya.

Imigrasi Tiongkok begitu ketat. Fasilitasnya lengkap. Kantornya representatif luas dan ber-AC. Barang bawaan orang-orang pelintas batas dimasukkan ban berjalan melewati mesin pendeteksi layaknya penumpang pesawat yang akan boarding.

Petugas imigrasinya pakai seragam. Juga ada tentara bersiaga membantu petugas imigrasi. Semua kelengkapan paspor dan visa diteliti. Jlimet. Setelah beres baru didok.

Ketatnya dan ketelitian petugas imigrasi Tiongkok terhadap para pelintas batas juga dirasakan turis asal Swis yang menyewa satu mobil dengan penulis dari perbatasan Kodari ke Khatmandu, ibu kota Nepal. Turis Swis tadi seorang pekerja kemanusiaan yang sudah 10 tahun tinggal di Shikatse, Tiongkok. Dia kerap bolak-balik Shikatse-Khatmandu. Salah satunya untuk mengambil kiriman obat-obatan dari Swis. Pilihan ke Khatmandu karena sekalian pelesir. Selain itu, pengirimannya lebih mudah daripada harus melalui Lhasa, Tibet. Apalagi ke Chengdu, Shincuan. Selain itu jaraknya terlalu jauh.

Meski kerap melintasi imigrasi Tiongkok di Zhangmu, pemeriksaan terhadap turis Swis tadi tetap dirasakan ketat. Ditanya ini itu. Ada keperluan apa dan seterusnya. ‘’Pemeriksaan di imigrasi Tiongkok memang ketat. Beda yang di sini (Nepal),’’ ujar turis asal Swis tadi.

Sementara penjagaan perbatasan di Kodari, Nepal begitu longgar. Beberapa tentara berseragam doreng gelap dengan setrip putih hanya melihat saat kami berdua yang baru keluar dari wilayah Tiongkok. Tidak ada pemeriksaan. Para tentara itu memeloti saja.

Sekitar 25 meter dari sungai, ada bangunan sederhana bertulis Imigrasi Kodari, Nepal. Kami pun masuk ke sana. Di ruangan berukuran 7 x 10 meter persegi tidak ada fasilitas apa apa. Hanya deretan beberapa kursi. Tidak ada mesin scanner atau alat pemeriksaan lainya. Petugas imigrasi hanya dua orang. Kepala imigrasi dan seorang anak buahnya. Dua-duanya tidak pakai baju seragam imigrasi. Satunya pakai koplok khas Nepal, petugas lain bahkan hanya bersandal jepit. Satu petugas melayani pemohon visa, satunya lagi menganggur.

Meski ada turis di depannya akan mengurus visa, petugas pakai koplok tadi diam saja. Baru setelah atasannya bilang ada orang yang mengurus visa, petugas tadi baru bertanya. Setelah itu dia memberikan form aplikasi pengajuan visa.
Setelah form diisi, lalu diserahkan petugas tadi. Tanpa banyak bicara petugas tadi menyuruh masuk menemui kepalanya di ruangan lain. Prosesnya tidak ribet.

Saya lihat bahkan beberapa pemohon visa tidak mengisi formulir lebih dulu tapi oleh petugas imigrasi disuruh masuk ke ruangan kepala imigrasi. Apakah mereka mengurus visa atau pas border, saya tidak tahu.

Kepala imigrasi tadi hanya tanya dari mana. Hanya itu saja. Proses pengajuan visa cukup cepat. Setelah per orang membayar 25 USD, stempel visa masuk Nepal berlaku 15 hari pun didok.

Itulah bedanya Kantor Imigrasi Tiongkok di Zhangmu dan Kantor Imigrasi Nepal di Kodari. Sangat kontras.

Tak hanya itu, ruang imigrasi perbatasan Nepal juga bebas. Bahkan para calo kendaraan yang menawarkan jasanya ke Kathmandu bisa menemui, berbicara, dan tawar-menawar harga langsung dengan para turis di hadapan petugas imigrasi.

Beda di imigrasi Tiongkok yang hanya turis pemegang paspor bisa masuk ke ruangan imigrasi. Bahkan guide pun tidak boleh menemani dan masuk ruang imigrasi saat pemeriksaan kelengkapan paspor dan visa.

Dari perbatasan Tiongkok- Nepal menuju Kathmandu jarang angkutan kendaraan umum seperti bus. Sebagai gantinya ada penyedia jasa sewa Jeep secara rombongan.

Harganya tergantung kepandaian kita tawar- menawar. Jarak tempuh Kodari-Kathmandu sekitar empat jam. Kalau menyewa mobil secara patungan per orang ditarik sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 400 ribu. Harganya juga beda-beda tergantung kesepakatan dengan sopir dan makelar yang mencari penumpang tadi.

Jalan dari perbatasan menuju Kathmandu tergolong rusak parah. Selain jalannya sempit, di kiri jurang terjal, sedangkan di kanan tebing gunung. Bahkan jalannya kadang berupa tanah lumpur. Kalau tidak hati-hati kendaraan bisa terguling, terutama truk bermuatan berat.

Jalannya kendaraan merambat bahkan sesekali macet lantaran ada truk atau bus parkir sembarang atau sedang berputar arah. Benar-benar harus sabar melewati jalan perbatasan Nepal. Kondisi itu makin diperburuk banyaknya permukiman penduduk yang menempel di jurang. Kondisi jalan masih sempit ditambah keberadaan permukiman tadi. Hingga kian menyesakkan.

Bahkan ada jalan lumpur di tebing gunung tanpa penghalang apa pun. Pagar atau yang lainnya. Benar-benar di tebing jurang. Apalagi kondisi jalannya dari tanah diguyur air dari bukit. Cukup mengerikan kalau terjadi slip.

Tapi, sepertinya sopir di sini sudah terbiasa bermain maut. Terbukti, tidak ada kesan takut pada sopir atau terjadi kecelakaan. ‘’Sebelumnya jalan ini lebih parah lagi. Ini masih mendingan lebih bagus,’’ kata turis asal Swis yang semobil dengan penulis tadi.

Bayangan penulis kalau kondisi sekarang dibilang lebih bagus bagaimana dengan kondisi sebelumnya. Saya tidak bisa membayangkan kondisi jalan saat itu.

Rusaknya kondisi jalan di perbatasan Nepal kontras dengan pemandangan di wilayah itu yang sangat indah. Beberapa air terjun besar maupun kecil dan anakkan sungai tampak mengalir dari celah bukit dan gunung di seberang sungai.

Air terjun juga mengalir ke jalan-jalan sepanjang perbatasan yang dilalui kendaraan. Karena aliran air tidak ditata sedemikian rupa dan tidak ada terasering akhirnya membuat jalan rusak parah.

Air terjun juga dimanfatkan warga dengan mengalirkan lewat selang. Jadilah setiap rumah warga punya kran dan selang sendiri. Masak, mandi, mencuci semua dari air terjun atau mata sumber air dari gunung. Meski tidak dipakai tetap mengucur deras. Benar-benar anugerah Yang Kuasa. Air melimpah ruah.
Kekayaan Nepal lainya berupa batu alam pegunungan. Batu batu tadi dipotong pakai mesin, dibentuk berbagai ukuran. Sepanjang jalan yang dilewati penulis mesin pemotong batu gunung berderit, bersahutan. Ya..industri pemotongan batu menjadi urat nadi perekonomian warga pegunungan kaki Himalaya.

Sepanjang jalan juga terlihat permukiman warga mulai di pinggir, tengah, bahkan sampai puncak bukit yang terpisah dari permukiman warga lainya. Biasanya ada jembatan gantung menghubungkan warga satu dengan warga lainya di seberang sungai.

Sekitar 5 kilometer dari pintu perbatasan, di beberapa jalan kondisinya masih rusak parah. Bahkan bus dan truk harus parkir di suatu tempat sebelum melanjutkan ke Kathmandu atau kota lainnya. Itu karena kondisi jalan sempit dan berbahaya hingga mereka berangkat beriringan. Sebab, banyak jalan tidak bisa dilalui dua arah. Tapi, harus bergantian. Truk-truk yang tahan banting melintasi medan berat di Nepal umumnya buatan India, Tata. Juga bus dan kendaran Jeep lainnya.

Bahkan kondisi penumpang di Nepal lebih parah dibandingkan Indonesia. Saat bus penuh penumpang nekat duduk di atasnya. Jumlahnya bisa puluhan. Bayangkan saat melewati perbukitan dan terjadi slip. Tapi, kondisi berbahaya itu hanya dibiarkan.

Jalan dari perbatasan ke Kathmandu umumnya berada di pinggir sungai besar. Sebagaian melintasi permukiman warga yang berada di ereng-ereng bukit. Di bawahnya sungai mengalir.

Sesekali melintasi kota kecil yang juga berada di tepian sungai tadi. Akhirnya, jalan jadi sesak karena semua toko dan warung yang menjual barang dagangnya meluber ke jalan-jalan. Laju kendaraan pun tersendat.

Sedangkan barang yang dijual selain sembako, alat pertanian, perkakas rumah tangga, juga pakaian. Mulai jaket hingga pakaian kebutuhan wanita Nepal yang umumnya berpenampilan seperti perempuan India. Juga wajahnya agak mirip-mirip.

Di sepanjang jalan umumnya panorama sepanjang sungai tampak indah. Terbentang hamparan sawah mirip di desa-desa Indonesia. Kadang jalan menanjak melewati bukit layaknya di Puncak, Bogor. Banyak vila dan hotel berdiri di sepanjang kawasan itu.

Saat memasuki Baktapur, kota sebelum Kathmandu, pemandangan cukup apik. Rumah penduduk tersebar di kawasan pebukitan dan hamparan sawah. Rata-rata terbuat dari batu merah dan bertingkat. Hingga dari jauh tampak seperti vila yang banyak berdiri di daerah pegunungan di Indonesia. Juga tampak cerobong pabrik bata tersebar di kawasan ini.

Jalan-jalan menuju Khatmandu umumnya tidak bagus. Sebab, kiri kanan jalan terkesan kotor karena hanya berupa tanah keras. Itu kontras dengan pemandangan kota ini yang cukup indah.

Baru menjelang memasuki kota Kathmandu ada jalan bagus dua jalur yang dipisahkan median pagar. Bahkan kiri kanan jalan juga dipagar agar tidak ada pengendara yang main selonong. Juga tidak ada lampu merah di sepanjang jalan itu. Tampak polisi mengatur orang menyeberang jalan. Jalan yang baru selesai setahun lau itu bantuan dari pemerintahan Jepang.

Ciri khas lainnya Nepal, sepanjang jalan mulai perbatasan Kodari sampai Kathmandu tak terhitung berapa banyak check point tentara Nepal. Kadang mereka berpatroli melintasi jalan raya dan pemukiman warga sambil menenteng senjata laras panjang.

Tapi, selama perjalanan tidak satu pos pemeriksaan tadi memeriksa kami. Mereka hanya melihat barang bawaan dan bertanya pada sopir soal penumpang yang dibawanya. Lalu disuruh jalan.

Apakah itu karena di depan Jeep ada penumpang turis Swis atau sebab lain saya tidak tahu. Tentara Nepal berseragam doreng gelap dengan setrip putih umumnya masih muda. Belasan atau paling tua 25 tahun. Bahkan setiap malam tentara dan polisi juga berjaga atau berpratoli di kawasan turis di Kathmandu. Namanya, kawasan Tamel.

Memasuki kota Kathmandu jalanan mulai macet karena jalanan tak begitu lebar. Sedangkan kendaraan dan warga berjalan kaki cukup banyak. Sebagai daerah jujukan wisatawan terutama yang suka tantangan alam liar, di Kathmandu ada kawasan turis seperti, halnya di Khao San Road, Bangkok atau Old Quarter di Hanoi, Vietna.

Kalau di Kathmandu namanya kawasan Tamel. Warga Nepal sudah mafhum itu kawasan turis, baik pelancong maupun turis back packer.

Semua tersedia di kawasan ini. Mulai hotel, restoran, tempat penukaran uang, aneka souvenir, bar, kebutuhan alat treking, panjat tebing, naik gunung, travel, kepengurusan visa. Semua bisa diperoleh di tempat ini. Setiap malam banyak restoran yang menyajikan menu manca negara dipenuhi para turis.

Tak heran kawasan Thamel, Khatmandu menjadi base camp favorit para pendaki dunia sebelum menaklukan puncak puncak gunung di Pegunungan Himalaya. Ada juga pendaki yang mengunakan Tibet, Tingri, Shikatse sebagai base camp sebelum menaklukan puncak gunung di pegunungan Himalaya. Tapi, kawasan Thamel, Khatmandu menjadi pilihan popular base camp para pendaki dunia. Sebab, dari delapan puncak gunung tertinggi di Pegunungan Himalaya, tujuh diantaranya masuk wilayah Nepal.

Hanya, Tamel kurang tertata apik. Jalan jalannya agak semrawut. Tapi, keramahan sebagai kota turis patut diacungi jempol. Pelayanan terhadap turis sangat bagus. Baik di hotel, kafe, restoran dan tempat lainnya.

Hanya saja kawasan Thamel penerangan di jalan jalanya agak kurang. Makanya, di beberapa tempat sedikit gelap. Selain itu kerap ada pemeriksaan atau razia oleh tentara Nepal. Tapi, bukan ditujukan kepada turis, melainkan warga Nepal yang keluyuran tengah malam dan tidak punya kepentingan berada di kawasan Thamel. (Bahari/bersambung)