RABU (5/10/2011) pagi sekitar pukul 07.00 penulis meninggalkan Thamel, kawasan turis di Khatmandu, menuju perbatasan India sejauh 300 kilometer lebih. Karena bertepatan tahun baru Nepal, hari itu banyak toko yang tutup.
Sebaliknya, banyak warga mendatangi kuil untuk sembahyang sambil mengantar sesajian. Yang perempuan berdandan secantik mungkin dengan kebaya warna-warni.

Sedangkan para pria tampil ganteng dan wangi. ‘’Ini perayaan hari pertama. Besok, mencapai puncaknya. Makanya saya harus cepat balik ke Kathmandu. Banyak acara menanti. Termasuk potong kerbau,’’ kata Sumon, 23, sopir yang mengantar penulis.

Sumon yang bertubuh kecil dengan cekatan mengendarai mobil sedan setengah tua. Hari itu Sumon harus cari jalan alternatif keliling kota karena banyak jalan tertutup untuk perayaan.

Cara nyetirnya mantap. Kalau menyalip haluannya bagus. Laju kendaraan kencang tapi tidak ugal-ugalan. ‘’Saya sudah delapan tahun jadi sopir. Ini kali ketiga saya mengantar orang Indonesia ke perbatasan India,’’ kata Sumon yang masih bujangan itu.

Kota Kathmandu memang sedikit jorok. Dimana-mana terdapat tumpukan sampah. Terlihat orang membuang sampah sembarangan. Juga banyak debu. Itu berbeda dengan pemandangan alam sekitarnya. Cukup indah karena kontur tanahnya berbukit-bukit dengan udara sejuk. Ini hanya dimiliki kota wisata pegunungan.

Warga kotanya juga tak disiplin. Mereka dengan seenaknya menyeberang jalan. Tidak lihat kiri kanan lebih dulu hingga membahayakan orang lain dan mereka sendiri. Para sopir dan pengendara hanya bisa mengelus dada atas kelakuan warga Kathmandu. Klakson kendaraan juga kadang tak dihiraukan. ’’Ya begitu warga Nepal. Sulit disiplin,’’ keluhnya.

Para pemudanya juga doyan mabuk. Mungkin karena hidup di pegunungan berhawa dingin. Agar tubuh hangat mereka doyan menenggak minuman keras. Sayang, kadang mereka tidak terkontrol kalau lagi fly atau mabuk. Suka cari masalah. Seperti saat kami berdua jalan-jalan ke Kota Kathmandu mencari lokasi Masjid Jami’, sekaligus salat Duhur.

Di jalan berpapasan dengan segerombolan pemuda mabuk. Mereka cari gara-gara dengan membenturkan badannya ke setiap orang yang berpapasan di jalan. Tak tekecuali kepada penulis dan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos. Kami sempat adu mulut dengan para pemuda tadi. Hendra yang emosional hampir menantang mereka berkelahi. Tapi penulis berusaha melerai. Ini di negara orang kalau berkelahi lalu sampai kantor polisi urusanya panjang. Padahal, perjalanan haji masih panjang. ‘’Wis wis..ngalah. Timbangane urusan ambek polisi. Nanti tambah ruwet,’’ kata penulis. Hendra pun akhirnya bisa menahan diri.

Kembali ke jalan keluar Kota athmandu, kondisinya terus menanjak dan berliku. Pemandangan cukup bagus. Di kiri jalan membentang sungai dengan hutan cukup lebat. Terlihat beberapa orang menyiapkan alat dayung untuk arung jeram.

Jalannya rusak parah lebih dari 20 kilometer. Tak ayal mobil harus zig-zag menghindari lubang. Sumon tampak sudah hafal benar dengan kondisi jalan pegunungan itu.

Terbukti, tidak tahu persis kapan saat menyalip yang aman meski di tikungan. Meski mobilnya sedikit tua semua kendaraan anyar mulai bablas. Nyaris tidak ada kendaraan yang menyalip selama dua jam berkedaraan. Saya suka gaya dia menyopir . “Ini sopir bagus. Tidak seperti di Tiongkok kemarin,”puji Hendra.
Baru setelah makan ada beberapa kendaraan yang menyalip. Ini daerah berbahaya. “Saya harus hati-hati. Sering terjadi kecelaan di sini,” ujar Sumon.
Setelah melewati jalan rusak sepanjang 20 kilometer lebih tadi, jalanan selanjutnya tak begitu baik juga. Masih banyak lubang di sana sini dengan melintasi bukit terjal. Beberapa kota kecil yang dilewati antara lain, Malekku, Sumon, dan Siton.

Jalan terus menanjak dan memasuki kawasan perbukitan. Banyak keluarga atau muda- yang menikmati pemandangan. Selain panoramanya bagus juga berudara sejuk.

Setelah lepas dari Sungai Naro jalanan cukup mulus dan lurus. Hingga kendaraan bisa dipacu sampai 120 kilometer per jam. Pemandangan sekitarnya seperti Indonesia, hutan belantara lalu diselengi tanah persawahan. Beberapa kota klecil dilewati.

Di beberapa jalan berdiri pos untuk menarik restribusi kendaraan. Di sepanjang jalan menuju perbatasan India tidak ada penjagaan tentara Nepal. Satu dua dua pos tentara terlihat. Tapi, tentara tak melakukan pemeriksaan kendaraan yang lewat. Cukup dilihat saja. Itu berbeda dengan jalan perbatasan Nepal dengan Tiongkok menuju Kathmandu. Penjagaan berlapis.

Tak terasa sekitar pukul 12.30 kendaraan yang kami tumpangi sudah memasuki kota perbatasan Sunauli, wilayah Nepal. Atau hanya sekitar 5,5 jam perjalanan. Padahal, jarak tempuh Kathmandu-Sunauli biasanya sekitar tujuh jam. Terlihat banyak calo menawarkan jasa pengurusan visa, hotel, dan lainnya.

Saya pun berpisah dengan Sumon yang siang itu langsung kembali ke Kathmandu untuk mengikuti upacara tahun baru Nepal esok harinya. “Setiap tahun saya ikut festival. Makanya, jangan sampai ketinggalan,” akunya.
Memasuki imigrasi Nepal jangan bayangkan kantornya bagus apalagi ber-AC.

Kantor Imigrasi Nepal hanya dijaga seorang perempuan yang kebagian membagikan formulir kepada turis yang datang maupun meninggalkan Nepal.
Kantor imigrasi hanya sebuah bangunan berupa dinding kayu seluas 4 x 5 meter persegi dan seperangkat kursi lipat. Tidak ada televisi apalagi barang mewah lainnya. Tidak ada pemeriksaan barang turis yang keluar masuk Nepal. Bebas.

Kondisi kantor imigrasi Sunauli tampaknya lebih parah dari Kantor Imigrasi Nepal di Kodari yang berbatasan dengan Tiongkok. Tapi, bagi pelintas batas seperti penulis, hal itu tidak masalah. Malah senang. Kenapa? Karena prosesnya tidak berbelit dan tidak ketat. Ini mempersingkat waktu melewati perbatasan.

Bahkan saya lihat seorang bule mengurus visa masuk Nepal hanya cekeran alias tidak memakai alas kaki atau sandal. Rambutnya acak-acakan. Celananya pun digulung. Tapi, petugas imigrasi tadi tetap tersenyum melayani si turis tadi.
Soal berapa lama mendapat visa Nepal tergantung turis. Tinggal pilih menunya. Untuk 15 hari tarifnya 25 USD. Sedangkan visa 30 hari 40 USD. Sementara untuk 90 hari atau tiga bulan hanya 100 USD. Turis tinggal pilih waktu yang dipilih.

Selama pemeriksaan tidak ada pertanyaan petugas. Apalagi diperiksa barang bawaannya. Begitu formulir diisi, petugas perempuan tadi memanggil atasannya. Pria berhidung bangir paro baya itu hanya melihat sekilas paspor kami. Lalu menempeli semacam kertas kecil atau materai yang ditaruh di bawah visa saat amsuk nepal beberapa lagi. Lalu, diberi tanggal keluar Nepal. Beres. Semua gratis alias tidak dipungut biaya. (yog/bersambung)