BERAGAM cara dilakukan pengurus masjid untuk menghidupi keperluan rumah Allah itu. Nepali Jame Masjid di Nepal, misalnya. Punya usaha supermarket dan beberapa toko. Hasilnya untuk perawatan masjid dan keperluan lainnya. Tidak mengandalkan sumbangan jamaah.

Selasa (4/10/2011) siang sekitar pukul 13.00 waktu setempat terdengar suara azan dari menara setinggi 10 meter di Nepali Jame Masjid, Jalan Dusbarmargh, Kathmandu, Nepal. Lokasinya berada di pusat kota.

Seorang muazin berpakaian sorban putih menyerukan azan Duhur dengan suara kencang meski tidak pakai speaker atau pengeras suara.

Setelah itu dia bergegas turun masuk ke masjid menunaikan salat sunah. Di dalam masjid sudah hadir puluhan jamaah. Beberapa mengenakan topi khas Nepal yang sedikit lebih tinggi dari kopiah umumnya. Ada pula yang bersorban putih, kopiah, bercelana jins maupun pakaian jas lengkap. Makin siang jamaah yang hadir kian banyak.

Sambil menunggu iqomah salat Duhur, sebagaian jamaah menghabiskan waktu dengan salat sunah, membaca Alquran dan wiridan. Jamaah masjid tak hanya diisi warga Kathmandu atau Nepal. Sebagain jamaah dari Pakistan dan negara Timur Tengah lainnya. Mereka umumnya anggota jamaah tablig yang sedang khuruj atau berdakwah. Bahkan seorang muslim berwajah Tiongkok juga tampak salat berjamaah.

Begitu tahu ada jamaah Indonesia akan naik haji ke Makkah lewat jalan darat, sebagaian jamaah memberi salam. Ada juga yang mengajak mengobrol. Seperti dilakukan jamaah asal Pakistan. Meski tak bisa bahasa Inggris, dia terus ngomong. Saya sudah bilang tak paham bahasa Urdu, tapi dia bicara terus. ‘’Bagus,’’ katanya sambil mengangkat kedua jempolnya.

Bahkan ada jamaah yang minta foto segala. “Nanti kontak saya dan kirim fotonya,” pinta jamaah asli Nepal yang juga seorang pengusaha sambil memberikan kartu namanya.

Setengah jam kemudian salat dimulai. Tiga setengah saf panjang dipenuhi jamaah. Jumlahnya sekitar seratusan. Beberapa anak-anak. “Jamaah yang salat tiap hari di sini sekitar seratus lebih. Kalau Jumat mencapai ribuan. Ya, sekitar 6 ribu – 7 ribu,’’ kata Subhan Ali, manajer operasional Nepali Jame Masjid.
Nepali Jame Masjid adalah masjid tertua dan terbesar di Nepal yang dibangun sekitar 200 tahun lalu. Renovasi terakhir sekitar 50 tahun yang lalu hingga bentuknya seperti sekarang.

Kondisi masjid yang didominasi warna hijau muda itu umumnya bersih. Karpet tempat salat sangat bagus dan bersih. Begitu juga perkantoran masjid yang berada di lantai dua.

Sedangkan tempat wudunya juga resik, tidak bau pesing. Begitu krannya dibuka, airnya langsung joss, dingin. Maklum Kathmandu berada di ketinggian 1.400 meter dari atas permukaan laut. Tepatnya, di lembah Pegunungan Himalaya.

Bangunan masjid menempati areal sekitar 60 x 60 meter persegi. Kompleks masjid dilengkapi sekolahan khusus anak-anak muslim. Semua staf pengajar dan pengelolaan sekolah dilakukan sepenuhnya umat muslim. “Mulai SD, SMP, sampai SMA,” kata Ali. ‘’Tapi, kalau ada warga non muslim daftar sekolah ya tidak kami tolak,” tambahnya.

Untuk menopang pemeliharaan dan perawatan masjid diambilkan dari sebagian laba supermarket dan beberapa toko yang dikelola yayasan. ”Kami tidak mengandalkan sumbangan jamaah untuk merawat masjid,’’ katanya.

Di Kathmandu ada sekitar 12 masjid. Sedangkan di seluruh Nepal ada sekitar 250 masjid. Nepali Jame Masjid membawahi lima masjid yang lebih kecil. Dua masjid di Kathmandu, tiga lainnya di luar kota. Semua biaya pemeliharaan dan perawatan kelima masjid binaan tadi ditanggung sepenuhnya Nepali Jame Masjid.

Menyangkut kegiatan masjid dan umat muslim umumnya lainnya mungkin hampir sama di seluruh dunia. Selain kegiatan dakwah, juga salat Jumat dan tarawih saat bulan puasa. ‘’Soal zakat, masjid kami menerima,’’ kata Ali.

Tapi, khusus pengeloaan zakat fitrah dan maal, pengurus Masjid Nepali menyerahkan pada kelima masjid binaannya untuk mengelola. Masjid-masjid di daerah dinilai lebih tahu soal warga miskin atau orang yang berhak menerima zakat di daerah masing-masing. “Itu lebih efektif dibandingkan zakat harus dikelola masjid besar seperti Nepali Jame Masjid yang berada di pusat kota,” jelasnya.

Jumlah umat muslim di Nepal sekitar 7 persen dari total penduduk yang diperkirakan lebih dari 29,5 juta pada 2008. Sedangkan berdasarkan sensus 2003, jumlah penduduk Nepal mencapai 23.151. 423.

Pemeluk Hindu di Nepal menduduki urutan nomor pertama. Disusul Buddha, Islam, dan agama lainnya. Tiap tahun, lanjut Ali, warga muslim yang naik haji ke Makkah terus bertambah. Pada 2010 ada sekitar 600 jamaah. Sedangkan 2011 sekitar 800 jamaah. “Alhamdulillah,” akunya bersyukur.

Selain itu pemeluk agama Islam di Nepal juga terus bertambah meski tidak banyak. “Kita terus berdakwah dan menyebarkan syiar Islam di sini. Kalau Allah berkenan pasti umat Islam bertambah,”harapnya.

Soal hubungan dengan umat beragama lain seperti Hindu dan Buddha, menurut Ali, cukup harmonis. Mereka biasa bekerja sama membantu korban banjir dan tanah longsor yang kerap terjadi di Nepal. “Kadang bantuan dari umat lain ditaruh di masjid lalu dibagikan bersama pada korban bencana alam. Atau sebaliknya, bantuan kami titipkan kepada umat lain untuk dibagi. Jadi, hubungan umat beragama sangat bagus,” kata Ali. “Tidak pernah ada bentrokan melibatkan antar umat beragama di Nepal,” sambungnya.

Hubungan dengan Pemerintah Nepal juga baik. Kalau ada apa-apa menyangkut umat Islam, pihak pemerintah selalu bertanya pada pengurus masjid. “Jadi, hubungan umat Islam dengan pemerintah juga bagus,’’ ungkapnya.

Meski jumlahnya minoritas, banyak umat Islam menduduki jabatan penting di Nepal. Seperti hakim atau politisi. Seluruh warga Nepal memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam hal jabatan penting. (yog/bersambung)