BAGI seorang calon pemimpin, Pancasila adalah pegangan kuat untuk membawa diri, mengayomi serta mengarahkan orang lain. Karena dalam Pancasila terkandung lima sila yang dapat diaplikasikan dalam berbagai sendi kehidupan. Pada bidang apa saja, Pancasila dapat digunakan sebagai kunci sukses.

Pemuda adalah kekuatan masa depan bangsa. Tanpa generasi muda, roda masyarakat tidak akan berputar. Generasi ini bertugas membuat lingkungan sekitar berlangsung dinamis, namun tetap memegang teguh prinsip kehidupannya. Sebagai orang Indonesia, Pancasila adalah fondasi sekaligus cita-cita.

Mengetahui porsinya sebagai anak muda, Reva Darlius, Ketua OSIS SMA Stella Duce 1 Jogja ini menyadari, mencintai Pancasila adalah wujud mencintai bangsa. Dalam sendi-sendi kehidupan masa remaja , berpegang pada Pancasila merupakan keharusan. Dalam kehidupannya saat ini, ada tiga nilai utama Pancasila yang menurutnya bermanfaat sebagai way of life.

“Pancasila bukan teori belaka, lebih dari itu, Pancasila adalah dasar negara. Kehidupan sehari-hari sebagai remaja pun adalah kehidupan bernegara. Maka Pancasila selalu jadi pegangan. Pada aktivitasku saat ini, aku mengaplikasikan tiga nilai dalam Pancasila, yakni gotong royong, musyawarah, dan kemanusiaan,” ceritanya.

Sebagai Ketua OSIS, nilai musyawarah selalu digunakan Reva untuk mengambil keputusan atau pun menyusun program kerja di Stella Duce. Musyawarah yang selalu dia terapkan adalah mencari tahu berbagai pendapat teman-temannya di sekolah. Karena OSIS bukan menjadi miliknya saja, tapi seluruh warga sekolah adalah pemilik OSIS. Maka penting untuk mengakomodir suara mereka.

“Aku harus tahu warga Stece punya saran atau pendapat seperti apa. Kalau enggak tahu, aku tidak bisa menyusun program ke depan yang tepat sasaran. OSIS harus berangkat dari musyawarah bersama, karena ini organisasi semua warga sekolah,” ungkap Reva.

Dalam aktivitasnya di bidang OSIS, Reva bersyukur bahwa akhirnya nilai gotong royong dan kemanusiaan juga selalu ada dalam berbagai programnya. Sisi kemanusiaan tercermin dari program yang mengajak para warga sekolah untuk bakti sosial. Peduli terhadap sesamanya yang kesusahan. Sedangkan nilai gotong royong selalu ditanamkannya dalam organisasi maupun individu untuk selalu mendukung perjuangan antar teman.

Misalnya, ada atlet, ada juga suporter. Karena atlet tidak bisa berjalan sendiri. Suporter setia berada di belakangnya. “Nilai Pancasila masih teguh dipegang anak muda. Terutama kalau di Stece. Salah satu yang kelihatan adalah mereka yang berjuang di bidang non akademik. Para atlet basket misalnya. Mereka rugi waktu, tapi untuk negara dan bangsa, mereka siap mati-matian. Dalam kondisi ini, teman-teman warga sekolah harus mendukungnya. Memberinya semangat jika bertemu, maupun hadir dalam tiap pertandingan. Kondisi ini akan membuat suasana pertemanan menyenangkan, dan prestasi individu maupun sekolah jalan terus. Kita jadi ikut bangga!” cerita Reva.

Reva menilai dengan Pancasila, fenomena klitih maupun tawuran antar pelajar bisa berakhir. Menurutnya semua pihak harus memahami bahwa mereka punya kesamaan, sama-sama warga Indonesia dan memiliki Pancasila.

“ Di balik segala upaya anak muda lain yang berjuang untuk bangsa dan negara, masih ada juga mereka yang mengutamakan kekerasan dan membuat masyarakat resah. Fenomena klitih dan tawuran harus berhenti karena meski berbeda, kita semua disatukan dengan Pancasila sebagai dasar negara!” tegasnya.

Dirinya mengimbau untuk terus menyuarakan persatuan di antara generasi muda. Sebab jika pemuda sudah terpecah belah, siapa yang akan menjadi poros berputarnya sebuah negara?

“Kalau semua sadar, bahwa kita adalah satu, bukan tidak mungkin negara ini akan menjadi negara maju dalam waktu dekat. Pancasila harus dimaknai oleh anak muda, karena dia adalah tonggak pemersatu, jalan, sekaligus kunci kesuksesan,” pesan Reva. (tang/man/mg1)