Marsma TNI Isdwiranto
HEBAT: Salah satu alat kesehatan yang modern telah terpasang di RSPAU Hardjolukito.

BANTUL – Setelah menjabat 16 bulan, akhirnya Kepala Rumah Sakit Pusat TNI AU (RSPAU) Hardjolukito Marsma TNI M. Daradjat pindah tugas ke Jakarta. Selanjutnya akan menjabat sebagai Staf Khusus KSAU TNI AU.
Posisi Daradjat digantikan Marsma TNI Isdwiranto. Sebelumnya, Isdwiranto menjabat Kepala Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Luar Angkasa (Kalakaspra) TNI AU.

Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala RSPAU Hardjolukito dilakukan di Jakarta di depan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna kemarin. Sedangkan prosesi upacara pisah sambut di RSPAU Hardjolukito dilakukan hari ini  Selasa (17/7).

Kepala RSPAU Hardjolukito Marsma TNI Isdwiranto sebelumnya juga pernah menjabat Wakil Kepala RSPAU Hardjolukito. Sedangkan M. Daradjat selama menjadi Kepala RSPAU Hardjolukito meraih banyak prestasi. Satu di antaranya, meresmikan Poli Mata menjadi Departemen Mata.

Beberapa kelebihan departemen ini antara lain memiliki fasilitas canggih dengan kamar VVIP yang hommy. Konsep yang diusung RSPAU Hardjolukito menjadikan pasien nyaman seperti di rumah. Diresmikan menjadi Departemen Mata pada April 2018. Per hari bisa melayani 100 pasien hingga 200 pasien.
Sesuai dengan ketentuan baru dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), operasi katarak harus dilakukan dokter mata yang sudah punya sertifikat INASCRS (Indonesian Society of Cataract and Refractive Surgery). Jika tidak memiliki sertifikat tersebut maka operasi yang dilakukan tidak akan bisa diklaim di BPJS.

“Seluruh dokter RSPAU Hardjolukito sudah memiliki sertifikat INASCRS tersebut,” kata Kepala Humas RSPAU Hardjolukito Wartono.

Dari sisi pembayaran, layanan di Departemen Mata RSPAU Hardjolukito Jogjakarta lebih murah dari rumah sakit lain. Wartono mencontohkan pengguna kaca mata.

Pasien penderita mata minus dengan kapasitas yang tinggi bisa diobati dengan operasi lasik. “Kalau di tempat lain bisa mencapai Rp 15 juta lebih. Namun di RSPAU Hardjolukito Rp 14 juta. Bahkan bisa kurang,” kata Wartono.

Program tersebut tak hanya bermanfaat bagi penderita. Masyarakat yang merekomendasikan pasien untuk operasi lasik di RSPAU Hardjolukito akan ada dana terima kasih sebesar Rp 500 ribu. Syaratnya, pasien yang direkomendasikan harus deal melakukan operasi lasik.

Sebelum melakukan operasi, pasien harus melewati pemeriksaan. Jika minusnya terus bertambah, ini akan menjadi masalah serius. Sehingga tidak bisa dilakukan operasi lasik langsung.

Pasien harus melewati beberapa upaya pengobatan terlebih dahulu untuk menstabilkan minus kedua matanya agar tidak terus bertambah. “Jika pasien jadi melakukan operasi lasik di RSPAU Hardjolukito, maka hadiah bisa langsung diterima,” kata Wartono.

Prestasi lain yang ditorehkan M. Daradjat terkait beralihnya tata kelola keuangan menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Sistem ini memungkinkan RSPAU Hardjolukito mengelola keuangannya sendiri.

Baik penghasilan harian, bulanan, hingga tahunan, langsung masuk ke rekening RSPAU Hardjolukito. Pengelolaan keuangan sepenuhnya menjadi milik Hardjolukito. “Jika merekrut tenaga juga bisa langsung menjadi semi-tetap,” kata Wartono.

Berkaitan dengan pergantian Kepala RSPAU Hardjolukito tersebut tidak akan mengubah pelayanan kesehatan. Jikapun ada perubahan, hanya pada perubahan manajemen.

“Gaya kepemimpinan seseorang berbeda, tapi visinya tetap satu tujuan untuk lebih maju,” kata Wartono. Yang baik dipertahankan, yang kurang baik akan ditingkatkan. (*/ega/iwa/fn)