SLEMAN – Masyarakat masih rendah kesadaraannya mendonorkan kornea mata. Hal tersebut menjadi problem utama mengatasi kebutaan kornea di Indonesia.

Demikian disampaikan dokter spesialis mata dan ketua Perkumpulan Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI) Bank Mata Jogja Suhardjo kemarin. PPMTI menerima bantuan 10 kornea dari pendonor Nepal Eye Bank (NEB).

“Akan ditransplantasikan ke 10 penerima di Jogja,” kata Suhardjo di Poli Mata RSUP Dr Sardjito Senin (16/7).

NEB akan menghibahkan 10 kornea setiap bulan ke DIJ. Diharapkan dapat meningkatkan angka transplansi kornea.

Salah seorang tim Suhardjo, Melita Suwan Djaja mengatakan kebutaan kornea meningkat lima persen dari seluruh kebutaan di dunia. Kondisi tersebut disebabkan kekeruhan kornea penderita. “Upaya yang bisa dilakukan hanya dicangkok kornea,” ujar Melita.

Dikatakan, ada 107 pasien yang membutuhkan cangkok kornea dan masih bertambah. Selain terkendala kesadaran masyarakat menjadi pendonor kornea, donor dari luar negeri masih mahal.

Pencangkokan kornea memerlukan biaya pelayanan Rp 8 juta. Biaya tersebut lebih murah dibanding mendapatkan donor dari Amerika yang bisa mencapai Rp 25 juta.

“Biayanya untuk pengambilan kornea dari jenazah. Lalu diproses dengan bahan tertentu agar kornea awet, dan pengirimannya dengan pesawat,” kata Suhardjo.

Sedangkan untuk cangkok kornea dengan donor lokal dibiayai Bank Mata Jogjakarta. Suhardjo menyayangkan asuransi BPJS Kesehatan tidak meng-cover pencangkokan kornea.

Tidak seperti donor darah, kornea dengan pemilik beda golongan darah tidak masalah. Karena dalam kornea tidak ada pembuluh darah, sehingga tidak perlu memiliki kesamaan golongan darah.

Namun kegagalan cangkok kornea tidak semata karena jaringan yang tidak cocok. Bisa juga karena infeksi atau adanya reaksi penolakan. “Semua dokter tidak berani menjanjikan pencangkokan kornea berhasil 100 persen,” ujar Suhardjo. (tif/iwa/mg1)