GUNUNGKIDUL – Konflik antara Ketua DPRD Gunungkidul Suharno dan Ketua DPC PDIP Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih bergeser ke ruang publik. Dengan blak-blakan, DPC PDIP Gunungkidul memanfaatkan rapat paripurna (rapur) Senin (16/7) sebagai media pengumuman pengunduran diri Suharno sebagai ketua DPRD.

Praktis agenda rapur yang sedianya adalah penyampaian jawaban bupati atas pandangan fraksi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD 2017 sempat diwarnai hujan interupsi. Sebab, Suharno sendiri memilih absen. Sedangkan masing-masing pimpinan bersikukuh menolak membacakan surat tersebut. Itu lantaran tidak sesuai prosedur. Kendati begitu, isi surat yang diteken ketua DPC tersebut dibacakan sekretariat DPRD.

”Selama surat itu ada (DPP) dan dikirim sesuai prosedur, kami bacakan,” tegas Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Supriyadi.

Suharno menanggapi santai ketika disinggung mengenai hal ini. Dia mengaku sengaja tidak menghadiri rapur. Itu lantaran bebarengan dengan pendaftaran bakal calon legislatif (bacaleg) di Komisi Pemilihan Umum Gunungkidul.

Ya, Suharno telah mengundurkan diri dari partai yang membesarkan namanya. Dia menyeberang ke partai besutan Surya Paloh. Kendati begitu, dia mengingatkan, proses penggantian dirinya sebagai ketua DPRD harus sesuai prosedur. Sebab, langkah yang ditempuh DPC PDIP kemarin menyalahi aturan partai.

”Surat ditandatangani ketua DPC PDIP Gunungkidul. Aturan dari mana? Seharusnya surat (pengunduran diri) ditandatangani oleh DPP PDIP,” tegasnya.
Suharno menuding ada upaya mendongkel paksa dirinya dari kursi ketua dewan. Padahal, kata dia, jika pemberhentian dilakukan sesuai aturan dia tidak mempermasalahkannya. Sebaliknya, dia justru menunggu agar segera melepaskan jabatan ketua dewan. Toh, dirinya bukan lagi kader PDIP.

”Tapi kalau begini caranya, saya siap menempuh jalur hukum, ” tegasnya.
Terpisah, Ketua DPC PDIP Endah Subekti Kuntariningsih ketika dikonfirmasi memilih irit bicara. Dia berdalih sedang mengikuti rapat DPD PDIP terkait persiapan pendaftaran bacaleg.

”Semoga beliau (Suharno) paham aturan. Kasihan,” kata Endah ketika disinggung upaya Suharno menempuh jalur hukum atas rapur berujung pembacaan surat berisi pengunduran diri dari jabatan ketua dewan. (gun/mg1)